
Di dalam mobil Rendi memikirkan kata-kata Harisman, pasalnya ada benarnya juga kalau buka cabang kedai nasi goreng sangar.
"Di gang itu berhenti, Hen!" perintahnya sambil menunjuk gang tempat kontrakannya berada.
"Baik bos." jawab Hendri yang langsung pasang Sen kanan dan belok.
Karena gang tersebut tidak muat untuk motor, jadi mobil Rendi terpaksa di taruh pinggir jalan dekat gang itu.
"Bos, ini mobilnya di biarkan di sini?" tanya Hendri khawatir, karena jika di Jakarta pasti was-was kalau akan ada maling, apa lagi mobil Rendi mobil mahal.
"Biarkan saja, nanti anak buahku yang bawa ke rumahnya, kontrakan ku tidak ada jalan buat narik mobil." jawab Rendi santai.
Hendri menghela napas, ia terpaksa meninggalkan mobil tersebut dan mengikuti Rendi ke kontrakannya.
Saat sampai di kontrakannya Rendi menepuk jidat saat melihat pintu kontrakan yang masih di kunci, ia lupa tidak meminta kuncinya pada Harisman.
"Kenapa bos?" tanya Hendri penasaran saat melihat Rendi menepuk jidatnya.
"Kuncinya, aku lupa tadi tidak memintanya pada Harisman."
__ADS_1
Rendi menghela napas, ia merogoh sakunya, tapi saat dia mau menelpon Harisman, terdengar suara motor Harisman datang, sehingga ia tidak jadi menelponnya.
"Bos, ini kunci kontrakannya, tadi aku panggil-panggil tapi bos malah gak denger." ucap Harisman sambil menyerahkan kunci kontrakan Rendi.
Rendi tersenyum. "terimakasih Haris."
"Sama-sama bos, aku kembali ke kedai dulu, kasian anak-anak kerepotan, nanti malam aku ke sini lagi, bareng anak-anak!" Harisman langsung bergegas ke motornya.
Rendi merasa beruntung memiliki bawahan yang pengertian terhadapnya. Ia hanya menyuruh Harisman hati-hati saat membawa motornya.
Hendri ya g melihat bawahan Rendi di kampung sangat sigap, ia memuji kepintaran bosnya dalam memilih anak buah.
"Baik bos."
Saat Hendri masuk ke dalam kontrakan, melihat motor Rendi yang ada di dalam kontrakan, ia menyapu pandangannya ke seluruh kontrakan.
Bisa-bisanya orang kaya seperti bos tinggal di tempat kecil seperti ini, sungguh pria yang tidak bisa di tebak.
Dalam hati tentu Hendri sedikit bingung dengan Rendi, bosnya itu bisa saja membeli rumah atau membuat rumah mewah di kampung, tapi ia malah tinggal di kontrakan.
__ADS_1
"Hen, tolong keluarkan motornya di depan, nanti kasurnya kamu taruh di lantai!" perintah Rendi dari kamar mandi.
"Baik bos," sahut pria kekar itu tegas.
Hendri mengeluarkan motornya, ia kemudian menata kasur yang di senderkan ke dinding. saat ia sedang menata kasur, tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Akhirnya kamu pulang juga Ren," ucap seorang wanita yang memeluk Hendri.
Sontak saja Hendri terkejut, ia mau melepaskan pelukan wanita itu, karena ia yakin wanita tersebut salah paham, sayangnya ia terlambat dan Rendi sudah keluar dari kamar mandi.
Rendi tentu saja terkejut saat melihat Novi memeluk Hendri dari belakang dengan Erat.
"Novi! Apa yang kamu lakukan?!" tegur Rendi pada wanita itu.
Saat mendengar suara Rendi, tentu Novi dan Hendri berbarengan menoleh ke pria yang hanya mengenakan handuk itu, karena ia habis mandi.
Novi membelalakan mata terkejut, saat ia melihat Rendi yang berdiri menatapnya dengan tajam, ia bingung karena sedang memeluk seseorang.
Hendri juga kalut, tentu ia tidak ingin bosnya salah paham, sehingga langsung melepaskan pelukan Novi dan menjauh darinya sesegera mungkin.
__ADS_1
"Rendi!" Novi menoleh ke arah Hendri, ia menelan ludah saat orang yang ia peluk bukanlah Rendi.