
Rendi yang mendengar teriakan Mei Ning, ia menggunakan kecepatan supernya untuk menggerakkan tangannya.
Slap
Peluru tersebut berhasil di tangkap Rendi begitu mudahnya dengan kedua jarinya. Mei Ning tercengang ketika melihat hal tersebut.
"A-du-duh panas!" Rendi menjatuhkan peluru tersebut.
Mei Ning yang tadi terkagum-kagum, ia langsung mengernyitkan dahinya. Padahal gaya Rendi sudah berkelas banget, seperti film-film aksi di televisi.
Jika saja Rendi menggunakan tangan besinya mungkin ia tidak akan kepanasan, tapi karena tadi hanya reflek saja, jarinya melepuh menahan timah panas tersebut.
Rendi mengibas-ngibaskan tangannya, sebelum akhirnya tangannya beregenerasi kembali dan rasa sakitnya menghilang.
"Sialan, ternyata julukan timah panas itu Memnag benar-benar panas," gerutunya kesal.
"Ren, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Mei Ning yang langsung keluar dari mobil.
Rendi mengangguk. "Hanya sedikit panas saja," ucapnya sambil melihat ke arah tembakan tersebut.
Terlihat pemuda yang ada di Restoran menutup jendela kaca mobil dan mobil tersebut langsung jalan.
"Kamu tunggu di sini!" Rendi berlari sangat cepat meninggalkan Mei Ning yang hanya bisa tertegun melihat kekuatan Rendi yang di luar nalar itu.
"Apa aku mencintai seorang manusia? Apa mungkin dia super Hero?" gumam Mei Ning bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu di dalam mobil, pemuda tersebut tampak ketakutan. "Lebih cepat lagi menyetirnya!" perintahnya lantang.
"Tuan, jalanan sedang ramai, kalau lebih cep...."
Bruak
Mobil yang di naiki mereka berdua seolah menabrak sebuah beton, hingga keduanya terkejut dan terbentur ke depan. Sang sopir langsung pingsan karena terbentur setir kepalanya.
Sementara pemuda itu hanya mengalami benjol di kepalanya. "A-du-duh, apa yang terjadi bodoh!" gerutu pemuda tersebut marah.
Pemuda tersebut merasa aneh karena sopirnya tidak menjawab, ia melihat ke depan, betapa terkejutnya pemuda itu ketika melihat sopir pingsan, dan Rendi sedang menghantam mobilnya, hingga bagian depannya ringsek.
Rendi mendekati pintu mobil, ia menarik pintu tersebut hingga terlepas dari tempatnya. Pemuda itu ketakutan ketika melihat Rendi yang sudah ada di luar mobil.
"Nampaknya, kita perlu bicara lebih dalam!" Rendi meraih sabuk pengaman pemuda itu dan merusaknya, ia kemudian menarik pemuda itu turun dari mobil dan membawanya ke suatu tempat dengan kecepatan supernya.
Rendi membawa pemuda tersebut ke salah satu gedung dekat tempat itu yang cukup tinggi, ia mencengkram kerah bajunya sambil menyodorkan pemuda itu hampir jatuh dari ketinggian.
"Lepaskan aku! Aku anak Morgan Sulton! Kamu pasti ak...."
Suara pemuda itu tercekat ketika Rendi sedikit melepaskan cengkramannya. Tampak raut wajahnya yang begitu ketakutan karena hampir saja jatuh.
"Mau mati saja, masih bisa kau bawa-bawa nama keluargamu, tapi kebetulan juga, aku juga akan membunuh Ayahmu, jadi tidak ada salahnya membunuhmu juga," ucap Rendi sambil menyeringai.
Pemuda tersebut menelan ludah, ia benar-benar tidak percaya, ternyata telah menyinggung seorang pembunuh.
__ADS_1
"Tuan, tolong maafkan aku, aku janji tidak akan bersikap arogan lagi," rengekannya sambil berlinang air mata.
Rendi memutar bola mata malas, orang-orang sepertinya memang memiliki kepribadian ganda, jika sedang terpuruk akan menjilat tapi jika sedang di atas akan sangat arogan.
"Minta maaflah pada malaikat di neraka!" ucap Rendi ketus sambil melepaskan cengkeramannya.
Arghhhh
Pemuda itu berteriak histeris ketika jatuh, nampak dia begitu ketakutan sebelum akhirnya ia jatuh dan menimpa sebuah mobil.
Bruak
Suara benturan pemuda tersebut tentu saja membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan berbondong-bondong untuk melihatnya.
Mereka semua menutup mulut tidak percaya ketika melihat seorang pemuda yang terjatuh dari ketinggian, hingga tewas seketika.
Rendi melihat itu tanpa ekspresi sama sekali, ia kemudian bergegas pergi dari sana dan akan langsung menjalankan rencananya, karena dengan terbunuhnya anak Morgan, ia yakin sang Ayah akan langsung bereaksi.
Rendi kembali ke mobilnya. "Kita pulang sekarang Mei!" ajak Rendi dingin.
Mei Ning mengangguk, ia langsung naik mobil, Mereka pun bergegas pulang ke apartemen. Rendi menceritakan semuanya kepada Mei Ning, wanita itu langsung mengerti dengan apa yang Rendi maksud.
"Jadi kita akan bergerak sekarang?" tanya Mei Ning ketika sampai di parkiran apartemen.
"Ya, kita harus bergegas sebelum Morgan mengetahui anaknya tewas!" jawab Rendi dingin.
__ADS_1
Mei Ning mengekori pria tersebut, sesampainya di apartemen, Rendi dengan sigap menghapus semua pertemuannya dengan anak Morgan dia seluruh CCTV yang pernah ia lewati sebelumnya, tentu saja Rendi melakukan itu dengan cepat dan tepat, agar tidak ada jejak yang ia tinggalkan sama sekali.
Sementara Mei Ning mengenakan topengnya kembali, dan bersiap-siap melakukan pekerjaannya. Setelah semuanya siap, Rendi yang sudah tahu dimana Morgan berada ia langsung ke sana bersama dengan Mei Ning.