
Rendi tidak bisa berkata-kata melihat sosok itu, sudah tampak menyeramkan tapi siapa yang menyangka kalau aslinya seperti itu.
"Mis Wowo, sudah jangan ganggu dia, itu tamuku!" Mba Kunti menegur Wowo sehingga hantu tersebut langsung pergi meninggalkan Rendi.
Sebelum pergi ia mencolek dagu Rendi, membuat pria itu begidik ngeri, bukan karena takut, melainkan ia memang tidak suka dengan yang ngondek-ngondek.
"Akhirnya kamu datang juga, di sinilah tempat kami dikuburkan, semua yang ada di sini kebanyakan korban dari dia, kamu lihat sosok mereka yang menyeramkan? Itu semua luka yang mereka terima sebelum mati," ucap Mba Kunti sedih.
"Dia juga?" Rendi menunjuk Mang Wowo yang menjauh darinya.
Mba Kunti menggeleng. "Bukan, dia memang dari awal sudah di sini, entah saat dia hidup seperti apa," jawab Mba Kunti yakin.
Rendi mengangguk mengerti, ia di bawa Mba Kunti untuk menemui hantu bergentayangan yang menjadi korban kebengisan kelompok Komunis.
Ketika mendengar cerita mereka semua, Rendi merasa sangat sedih, ternyata mereka di bunuh agar tidak buka suara perihal kelompok Komunis tersebut.
Satu persatu mereka menceritakan penderitaan mereka sebelum di bunuh, hingga Rendi kini sadar kalau ternyata kelompok Komunis sangatlah kejam, bahkan ada wanita hamil juga yang dibunuh, gara-gara suaminya yang tahu tentang kelompok tersebut.
__ADS_1
Kenyataan yang di ceritakan hantu-hantu penasaran tersebut membuat Rendi semakin geram dan ia pun sudah diberitahu siapa pelakunya, yang ternyata Ayah Pak RT kampungnya. Pria tersebut memang sudah meninggal, tapi Mba Kunti mengatakan kalau Pak RT yang sekarang menjadi pemimpin kelompok Komunis tersebut.
"Baik, terimakasih banyak atas infonya, setelah masalah ini selesai, aku akan menguburkan kalian semua dengan layak, aku harap kalian nanti bisa tenang setelah itu," ucap Rendi sambil membungkukkan badan.
"Sama-sama Mas, kami juga sudah lama menunggu orang sepertimu yang bisa memenuhi dendam kami," jawab Mba Kunti mewakili hantu penasaran yang lain.
Rendi mengangguk mengerti, ia kemudian pamit dan meninggalkan tempat tersebut. Namun, baru saja ia keluar dari sana, kuncen dan bawahannya sudah menunggu dirinya.
"Ternyata kamu diam-diam tahu tentang tempat ini Rendi, maaf saja tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, bunuh dia!" perintah Kuncen pada bawahannya.
Rendi sekarang tahu kalau ternyata Kuncen juga salah satu dari kelompok Komunis juga, sehingga ia tidak perlu susah payah mencari antek-antek Pak RT.
Kuncen terkejut, tiba-tiba ia merapal mantra, membuat Rendi mengernyitkan dahi, bertanya-tanya apa yang sedang di lakukannya.
"Auuumm... aing macan!" Kuncen tiba-tiba meraung dan berbicara tidak jelas.
Rendi mengusap wajahnya sambil menggelengkan kepalanya. Ternyata kuncen memanggil Khodamnya untuk merasuki tubuhnya.
__ADS_1
Rendi melesat dengan cepat ke arah kuncen, ia mencolok matanya hingga buta, seketika kuncen tersadar.
"Aduh... mataku, sakit!" Kuncen itu menggelepar-gelepar di tanah.
Rendi menghela napas. "Terserah kalian mau apakan dia, aku pergi dulu," ucap Rendi kepada para Hantu yang tadi berniat membantu Rendi.
Mba Kunti tentu saja sangat senang, mereka bergantian merasuki kuncen dan menghantam-hantamkan tubuhnya ke pohon atau semak belukar berduri. Mereka melakukan itu hingga Kuncen tewas mengenaskan.
Alasan para hantu tidak membalaskan dendamnya sendiri padahal mereka bisa merasuki seseorang, itu semua karena kuncen tersebut, ada sebuah pagar gaib di sana, jika mereka keluar dari wilayah tersebut, maka mereka tidak akan bisa merasuki orang dan hanya bisa gentayangan saja, karena itulah mereka semua tidak ada yang keluar dari wilayah tersebut karena bagi mereka itu sia-sia saja.
Hanya mba Kunti yang selama ini berkeliaran demi menemukan orang yang bisa membalaskan dendamnya hingga ia bertemu dengan Rendi.
Sementara itu Rendi membawa motornya dan langsung pergi ke rumah Pak RT, ia sudah tahu semuanya, jadi harus menunggu apa lagi, lebih baik ia langsung menginterogasinya, sebelum terjadi korban-korban selanjutnya.
Misi Rendi ingin membersihkan kelompok-kelompok yang akan mengganggu kedamaian negaranya, karena itulah ia cepat bergerak.
Rendi mencari Pak RT di rumahnya, tanpa permisi atau apapun ia langsung masuk ke sana, Pak RT tentu saja terkejut dengan kehadiran Rendi. Ia mau menyambutnya tapi pria itu langsung memukulnya hingga terhempas menabrak dinding.
__ADS_1
"Aaaa!" jerit Bu RT yang melihat suaminya di hajar Rendi.
Bu RT langsung keluar rumah dan berteriak minta tolong, Rendi mengabaikan hal tersebut, ia sekarang hanya fokus dengan pria yang menjadi sumber masalah tersebut.