Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Tidak Memberi Ampun Pengganggu


__ADS_3

Setelah Rendi pulang, Pak Kosim langsung memberitahu semua warga, hasilnya warga kampung sangat bersemangat dengan acara tersebut, walaupun ada juga yang malas.


Warga kampung Karbal sangat antusias membuat acara selamatan tersebut, mereka bergotong royong untuk menyukseskan acara tersebut.


Bersamaan dengan mereka sedang menyiapkan acara selamatan, bahan material pembuatan Jalan juga mulai berdatangan.


Rusdianto sangat sibuk menyiapkan segala sesuatunya, tapi melihat antusiasme warga kampung Karbal, ia merasa kalau kesibukannya terbayarkan.


...***...


Malam harinya, semua persiapan selesai di lakukan saat jam delapan malam. Rendi yang di telepon Pak Kosim juga sudah hadir di sana untuk mengikuti acara selamatan.


Acara di buka oleh pihak sesepuh kampung Karbal, ia juga berpidato sedemikian rupa dan tentunya tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Rendi, bukan pada pejabat Desa.


Pejabat Desa yang hadir pun sangat malu, mereka merasa tidak ada harga dirinya sama sekali di hadapan para warga.


Semua warga juga menatap sinis para pejabat kampung Karbal, warga sudah tahu kebusukan mereka semua, hanya saja rakyat kecil seperti mereka tidak berani buka suara.


"Untuk Mas Rendi, silahkan Masnya berbicara sepatah dua patah kata," ucap Sesepuh kampung sopan.


Semua orang menoleh ke arah Rendi mereka semua tersenyum ramah pada Rendi, sehingga membuat bocah SMA itu sedikit gugup. Sulis yang ada di dekat Rendi, ia mengusap lengan Rendi agar ia tetap tenang.


Rendi menghirup napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya. "Terimakasih karena saya sudah di berikan tempat untuk berbicara, saya tidak mau berbicara banyak di sini, saya hanya ingin mengingatkan saja buat semua warga, agar kelak jika kampung ini sudah sedikit lebih maju, rawatlah baik-baik apa yang ada, jangan merusaknya! Mudah-mudahan dengan saya memulai pembangunan di kampung ini, kepala daerah matanya akan melihat, kalau kampung tercinta saya ini hampir tidak tersentuh sama sekali dengan pembangunan, saya rasa cukup seperti itu saja, Terimakasih."


Semua warga bertepuk tangan, tentu mereka tahu apa maksud Rendi yang sedikit menyentil pejabat Kampung.


Para pejabat kampung tersenyum kecut, salah satu di antara mereka ada yang mengepalkan tangannya, karena saking marahnya sama Rendi.

__ADS_1


Tiba-tiba saja segerombolan orang datang, sehingga membuat para warga dan pekerja pembangunan yang ikut acara tersebut tentu terkejut.


Salah satu pejabat menyeringai saat melihat gerombolan orang-orang tersebut datang.


"Siapa di antara kalian yang bernama Rendi!" teriak pemimpin dari orang-orang tersebut.


Seorang warga dengan gagah berani berdiri. "Apa-apaan kalian! Jangan ganggu acara kami!"


"Ya benar!"


"Ya benar!"


Sahut warga lainnya yang setuju dengan ucapan warga berdiri.


"Diam Kalian, atau aku gorok leher Kalian!" pria tersebut menghunuskan katana yang panjangnya hampir dua meter ke arah warga.


Seketika para warga terdiam melihat Katana yang terlihat sangat tajam tersebut. Rendi mengepakkan tangannya.


Clap


Arghh


Trang


Katana tersebut terjatuh, saat kerikil seukuran bola pingpong menembus bahu kanannya hingga berlubang.


Darah mengalir dengan deras dari tangan orang tersebut, sontak saja semua orang terkejut dengan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


Para bawahannya juga terkejut dengan apa yang mereka lihat, begitu juga para warga, mereka tidak tahu siapa yang melakukan itu.


Tiba-tiba Rendi berdiri dan buka suara. "Berani sekali kalian mengganggu acara yang aku buat, apa kalian sudah bosan hidup!"


Semua orang melihat ke arah Rendi, mereka semua menelan ludah saat melihat ekspresi wajah dingin Rendi. Sulis saja yang ada di dekatnya merinding ketakutan.


Rendi berjalan ke arah orang-orang tersebut, ia sudah sangat marah karena acara sakral adat kampung Karbal ada yang mengganggu.


Gerombolan orang itu mengangkat senjatanya masing-masing yang berupa parang, celurit dan yang lainnya, tapi Rendi tidak gentar sedikitpun.


Para Warga khawatir dengan Rendi, mereka juga ikut berdiri, berniat untuk membantu Rendi.


"Kalian duduk dan lihat saja, biar aku yang menangani mereka semua!" ucap Rendi lugas.


Semua warga bingung, tapi mereka juga sebenarnya takut, jadi mereka semua menuruti perkataan Rendi.


Tiba-tiba Rendi berlari, tangannya berubah menjadi hitam, kecepatan lari Rendi membuat semua warga tersentak karena saking cepatnya.


Para preman itu baru menyadari Rendi berlari saat mereka sudah terkena pukulan tangan besi Rendi hingga terkapar.


Satu demi satu Rendi menumbangkan mereka semua, Rendi sengaja memukul tengkuk mereka hingga jatuh Pingsan, karena ia tidak mau repot-repot melawan mereka terlalu lama.


Bang


Bang


Arghh

__ADS_1


Para Preman bertumbangan, semua warga tercengang dengan kemampuan beladiri Rendi yang sangat mahir itu.


Pejabat yang memerintahkan para preman tersebut membelalak kaget, karena ia tidak menyangka kalau Rendi ternyata bisa melawan puluhan orang sekaligus.


__ADS_2