Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Rencana Perubahan


__ADS_3

"Bos, anda serius?" tanya Pak Harjo yang tersadar dari keterkejutan-nya.


Rendi mengernyitkan dahi. "Memangnya aku terlihat tidak serius?"


"Bu-Bukan bos, masalahnya perumahan komplek E merupakan yang terendah dari komplek lainnya, anda membeli itu semua untuk siapa kalau boleh tahu?" Pak Harjo bergegas memberikan penjelasan.


"Bukan urusan kamu, kamu hanya perlu menyiapkan semua berkasnya, aku mau besok berkasnya sudah penuh, jangan sampai ada yang ketinggalan!" perintah Rendi tegas.


"Baik bos!" Pak Harjo tidak berani bertanya lagi.


"Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang," usir Rendi sopan.


Pak Harjo mengangguk, ia pamit undur diri, beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan Rendi.


Rendi menghela napas panjang, ia menyenderkan tubuhnya di kursi sambil menatap langit-langit ruangannya, setelah itu ia kembali bekerja.


Sore harinya, motor pesanan Rendi datang ketika para karyawan mau pulang, tentu saja hal tersebut menarik perhatian mereka.


"Kok ada motor di kirim ke sini? Mana motor BEWO-X lagi."


"Eh, bukannya itu Nona Sasa, Asisten bos Rendi?"


"Mana? Eh, iya bener."


"Jangan-jangan...."


Para Karyawan itu saling menatap dan menebak siapa pemilik motor BEWO-X tersebut, mereka menduga kalau Sulis lah pemilik motor tersebut.


Benar saja, tidak berselang lama, Rendi dan Sulis keluar dari Perusahaan dan menghampiri motor tersebut.


Sasa membungkuk hormat kepada bosnya tersebut. "Bos, ini motor pesanan anda," ucap Sasa ramah.

__ADS_1


Rendi mengangguk. "Turunkan motornya!" perintah Rendi lembut.


Sasa mengangguk, ia menyuruh petugas dealer menurunkan motornya, mereka pun dengan sigap menurunkan motor tersebut.


"Enaknya punya kekasih bos, mau apa saja pasti langsung di turuti."


"Kamu benar, beruntung sekali Sulis."


"Aku juga mau menjadi kekasih bos."


Tentu rekan-rekan Sulis merasa iri dengannya, apa lagi mereka semua tahu kalau Rendi bis besar, yang kekayaannya tidak main-mainnya, Walaupun usianya masih muda.


"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Rendi kepada Sulis.


Sulis menghela napas. "Harusnya kamu beli yang biasa saja, bisa dapat dua itu," jawabnya tidak berdaya.


"Sudahlah, ini juga tidak seberapa, aku harap dengan adanya motor ini, kamu lebih semangat bekerja!" seru Rendi menyemangat Sulis.


Rendi menaiki motor tersebut untuk mengantar Sulis, sekaligus mencaritahu dimana kontrakan wanita itu.


Sementara Sasa ikut dengan Rohis yang sudah menunggu Rendi sedari tadi, mereka berdua naik mobil mengikuti Rendi dan Sulis.


Sulis merasa sangat senang bisa berboncengan lagi dengan Rendi, ia memeluk erat tubuh Pria itu sambil menyenderkan kepalanya di punggung Rendi, terasa sangat nyaman, membuat ia menikmati momen tersebut.


Rendi melihat tangan Sulis yang melingkar di perutnya, ia menggunakan tangan kirinya untuk mengusap tangan Sulis sambil tersenyum simpul.


Sementara itu di dalam mobil, Sasa yang melihat bosnya begitu mesra dengan Sulis mendengus kesal.


"Dasar anak muda, di jalan saja sok bermesraan, nanti putus nangis," selorohnya kesal.


Rohis mengernyitkan dahi. "Lah kok Mbak yang sewot? Pasti jomblo yah?" ejek Rohis.

__ADS_1


"Siapa yang sewot, orang aku bicara fakta!" ucap Sasa dengan lantang.


"Iya, iya si paling Fakta, tapi nyatanya pengin," goda Rohis lagi.


Sasa memelototi Rohis sehingga pria itu hanya tersenyum sinis. Faktanya yang Sasa ucapkan tidak seperti kenyataannya, terlihat jelas kalau Sasa iri menikmati masa muda seperti bosnya.


Rohis tidak mau memperpanjang masalah, sehingga ia hanya diam tidak menjawab ucapan Sasa, agar wanita itu merasa menang.


...***...


Mereka pun sampai di kontrakan Sulis, nampak kontrakan yang ternyata sebuah rumah, dan ada beberapa teman Sulis yang ngontrak di sana juga.


"Jadi ini kontrakan kamu?" tanya Rendi menyapu pandangannya ke seluruh kontrakan.


"Iya Ren, walaupun sederhana tempat di sini lumayan nyaman, aku juga bersama teman dari kampung, tapi mereka bekerja di tempat yang berbeda," ucap Sulis menerangkan.


"Oh... baguslah."


"Tapi maaf yah Ren, aku tidak bisa membawa kamu masuk, soalnya di larang sama pemilik kontrakan ada cowo masuk ke sini." ucapnya tidak berdaya.


Rendi tersenyum. "Tidak apa, hari juga sudah mulai petang, aku pulang dulu yah,"


Sulis mengangguk lirih, Rendi masuk ke dalam mobilnya, melambaikan tangan pada wanita itu dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sebelum pulang, Rendi menyuruh Rohis mengantar Sasa dulu ke ketempat tinggalnya terlebih dahulu. Setelah mengantar Sasa baru mereka pulang ke kediaman Rendi.


Mobil mereka pun sampai di rumah Rendi, pria itu bergegas masuk ke dalam rumah, karena hari ini ia sangat lelah sekali.


Pria itu langsung ke kamarnya, membersihkan diri, baru kemudian melompat ke tempat tidurnya untuk melepaskan penat.


"Besok, aku akan memulai perombakan di kota Jakarta ini, aku harap tidak ada masalah berarti saat aku melakukan itu semua!" gumam Rendi sambil melihat chat WA nya, kalau semua yang ia butuhkan sudah di siapkan oleh para bawahannya.

__ADS_1


__ADS_2