Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Kebetulan Lagi?


__ADS_3

Mereka semua langsung duduk, saat Rendi sudah duduk di kursinya.


Yudi memang sudah mendengar semua tentang Rendi dari Suroto, jadi pria paruh baya, botak dan mengenakan kacamata itu tentu akan menghargai Rendi walau usianya masih sangat muda.


"Baguslah, kalau kalian sudah saling kenal." ucap Yudi membuka pembicaraan.


"Aku tidak mengenalnya, Ayah! Kami hanya kebetulan bertemu." jawab Fina langsung.


Rendi hanya tersenyum, melihat wanita di depannya itu terlihat gugup dan salah tingkah.


Yudi juga merasakan hal yang sama dengan Rendi, ia yang sudah sangat tahu dengan sikap anaknya itu, ia tersenyum senang, karena dari awal tujuan Yudi membawa anaknya, karena ia ingin mengenalkannya dengan Rendi.


"Tuan Yudi, mana Nyonya Sera?" tanya Suroto mengalihkan pembicaraan.


"Ah ... dia sedang di kamar mandi." jawabnya singkat.


"Tuan Murdianto, apa kita langsung bahas ke intinya saja? Atau mau makan malam dulu?" tanya Yudi sopan.


"Terserah anda saja tuan Yudi, aku juga tidak terburu-buru." jawab Rendi sopan.


"Kalau begitu, sambil menunggu Istri saya, kita bisa membahas sedikit tentang barang yang anda mau jual pada saya." terlihat Yudi sangat bersemangat saat berbicara.


Fina mengerutkan keningnya, karena Ayahnya begitu sopan dengan Rendi, padahal ia masih sangat muda. Wanita itu bertanya-tanya dalam hati siapa Rendi itu sebenarnya.

__ADS_1


Sementara itu Rendi melepaskan tasnya yang daritadi ia gendong, kemudian membukanya.


Mata Fina langsung membelalak lebar saat melihat emas batangan yang Rendi bawa di dalam tasnya, karena ia juga tahu jenis emas, tentu saja Fina langsung terkejut.


Fina menutup mulutnya tidak percaya, ia mau berteriak kaget, tapi dirinya masih sadar ada di hadapan tamunya.


"Astaga, ini emas murni, ternyata benar kata kamu Suroto." Yudi terkagum-kagum dengan emas yang di bawa Rendi, ia membolak-balik batangan emas tersebut.


"Mana mungkin saya berani berbohong pada anda, lagi pula tuan Murdianto juga seorang pebisnis, tidak mungkin dia akan membohongi kita." jawab Suroto bangga.


"Kamu benar, seharusnya aku tidak memiliki pemikiran ke sana, maafkan aku." ucap Yudi merasa bersalah.


Mereka kemudian membahas harga Emas tersebut, Rendi tidak mematok harga mahal, asalkan di bayar sesuai harga, ia tidak masalah untuk menjual emas tersebut.


Kesepakatan pun di setujui keduanya, harga emas tersebut per gramnya di hargai satu juta rupiah, tentu Rendi tidak menolak sama sekali, lagi pula daripada harus menyimpan emas seperti itu, lebih baik menyimpan uang di akun banknya.


Hanya hitungan menit, transfer itu berhasil, karena emas tersebut ada delapan kilo, Rendi mendapatkan uang delapan Milyar rupiah di kurangin sepuluh persen untuk Suroto.


Uang yang di terima Rendi tujuh milyar dua ratus juta, karena Suroto mendapatkan delapan ratus juta dari sepuluh persen yang di janjikan Rendi.


Rendi tidak mempermasalahkan hal tersebut, baginya masalah uang sudah tidak ia hiraukan lagi.


Fina yang melihat transaksi tersebut hanya bisa terbengong. Bocah SMA yang ia bilang masih bau kencur, ternyata memiliki uang milyaran rupiah, ia tidak bisa berkata-kata untuk mengekspresikan kenyataan itu.

__ADS_1


Aku tidak sedang bermimpi bukan? Kenapa bocah ini bisa mendapatkan emas-emas itu? Darimana dia mendapatkannya?


Fina masih tidak percaya, ia melihat Rendi dengan tatapan penuh tanda tanya, karena baginya hal tersebut sangat menampar kehidupannya.


"Ini tasnya buat saya, tuan Murdianto?" goda Yudi pada Rendi.


"Anda bisa saja, tapi kalau mau menenteng emas-emas itu, ya kembalikan tasnya." balas Rendi menggoda Yudi.


"Hahahaha ... Anda ternyata suka bercanda juga." Yudi tersenyum senang.


"Maaf, saya lama, Pak Suroto, Bu Lidia." tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dan duduk di sebelah Yudi.


"Tidak apa-apa Nyonya, lagi pula ini juga masih sore." Lidia buka suara.


Rendi memerhatikan wanita paruh baya yang merupakan istri Yudi, ia merasa pernah melihat wanita itu, tapi ia lupa dimana.


"Tuan Murdianto, perkenalkan ini istri saya, Sera Naro." Yudi memperkenalkan istrinya.


Sera yang daritadi tidak fokus melihat Rendi, ia langsung menoleh ke arah Rendi untuk memperkenalkan diri. Namun, saat ia menoleh ke arah Rendi, wajahnya langsung berubah terkejut.


"Salam kenal Nyonya, Rendi Murdianto." Rendi mengulurkan tangannya.


Sera masih menatap wajah Rendi, sampai ia mengabaikan uluran tangan Rendi. Yudi yang melihat itu menyenggol istrinya lembut, seketika Sera tersadar.

__ADS_1


Ia mengulurkan tangannya. "Se-Sera Naro, senang bertemu dengan anda tuan Murdianto."


Suara Sera sedikit bergetar, begitu juga tangannya, ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman saat berkenalan dengan Rendi.


__ADS_2