
Wanita berparas oriental itu duduk di sebelah Rendi sambil merangkulnya manja, tapi Rendi segera mendorongnya menjauh.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rendi penasaran.
"Aku yang di kirim untuk membunuhmu," jawabnya santai.
"Membunuhku? Apa salahku?" cecar Rendi kepada wanita itu.
"Kesalahan kamu? Entahlah, aku hanya di tugaskan untuk membunuhmu," jawabnya lagi.
Rendi menghela napas, jawaban wanita itu semakin membuatnya bingung, sehingga ia malas untuk bertanya lagi.
Sebastian datang dengan membawakan kopi untuk Rendi, pria sepuh itu melirik-lirik wanita cantik yang sedang duduk bersama Rendi.
Pacar tuan banyak sekali, kata Hendri di kampung ada dua, sekarang di sini juga dua wanita dewasa yang cantik-cantik, pesona tuan memang sangat mengagumkan.
Sebastian tentu saja takjub dengan Rendi, karena ia bisa menaklukkan banyak wanita langsung di usianya yang masih muda.
Setelah menyajikan kopi untuk Rendi, Sebastian kembali ke belakang.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Rendi serius.
Wanita itu tersenyum. "Itu sebuah rahasia, aku pantang memberitahu hal tersebut."
Slap
__ADS_1
Arghh
Tiba-tiba Rendi bergerak dengan cepat dan mencekik leher wanita itu dengan sangat keras, sehingga orang yang akan membunuhnya itu gelagapan.
"Kamu bilang akan membunuhku, bukan? Kalau begitu tidak apa jika aku membunuhmu!" seru Rendi sambil menyeringai bagaikan Iblis.
Wanita itu gelagapan, ia tidak menyangka kalau Rendi ternyata bisa beladiri, apa lagi gerakannya sangat cepat, sehingga ia tidak bisa melihatnya sama sekali.
"A-Aku A-k-an bi-bicara!" ucapnya tergagap sambil menepuk-nepuk tangan Rendi.
Wajahnya mulai membiru karena ia sudah kesulitan untuk bernapas, tatapannya menjadi sayu, ia benar-benar sudah tidak bisa apa-apa lagi di hadapan Rendi.
Bocah yang sudah memiliki kekayaan di luar nalar itu melepaskan cengkraman tangannya. "Bicaralah, kalau tidak aku akan membunuhmu?"
Uhuk... Uhuk....
Rendi kembali duduk di tempatnya, ia menunggu wanita itu mengungkapkan siapa yang telah menyuruhnya.
Meskipun masih kecil, tapi dia memang pria idaman, tidak ada salahnya aku menjadikan brondong ini suamiku.
"Fang Guan, dia memberiku seratus juta untuk membunuhmu," ucapnya ringan.
"Fang Guan? Pria bodoh itu ternyata mau menantangku?" gumamnya sambil mengepalkan tangan.
"Aku bisa membunuhnya untukmu," ucap Wanita itu tiba-tiba.
__ADS_1
Rendi mengernyitkan dahi. "Apa kamu pikir aku bodoh, kamu pasti akan menawarkan sesuatu yang tidak-tidak!" hardik Rendi yang mendengar isi hatinya, menebak kalau wanita tersebut pasti memiliki pemikiran aneh.
Wanita itu tercengang, karena Rendi berhasil menebak keinginannya yang mau menjadikan Rendi suaminya.
"Tidak aneh, aku cuma mau tinggal sama kamu," ucapnya percaya diri.
"Tidak perlu! Aku bisa mengurus masalah ini sendiri!" jawab Rendi ketus.
Rendi beranjak dari duduknya akan meninggalkan wanita itu, tapi wanita yang akan membunuhnya itu langsung mencekal lengan-nya.
"Rendi, ayolah... aku hanya ingin tinggal bersamamu, jadi pelampiasan kamu juga boleh," ucapnya santai.
"Dasar wanita gila!" bentak Rendi sambil mengibaskan tangannya dan buru-buru masuk ke dalam kamar.
Wanita itu hanya tersenyum, dengan santainya duduk kembali dan menyeruput kopi Rendi yang di buatkan oleh Sebastian.
"Hari ini kamu menolak ku, lihat saja nanti kamu pasti bakal ketagihan denganku," gumamnya lirih sambil tersenyum.
Rendi masuk ke dalam kamar, ia mengunci pintu kamar dan menghela napas lega.
Ia membereskan kamarnya yang berantakan akibat wanita itu, baru setelah itu ia ke kamar mandi.
Betapa terkejutnya Rendi saat di dalam kamar mandi, pakaian dalam wanita itu berceceran di dalam kamar mandi, sehingga membuat Rendi langsung tersipu.
"Benar-benar wanita tidak tahu malu!" gerutu Rendi sambil memunguti pakain dalam wanita tersebut. Namun, saat ia memegang segitiga wanita itu baunya menyengat dan ada lendir yang menempel di sana, membuat Rendi menggelinjang geli, ia tahu apa yang habis di lakukan wanita tersebut di kamar mandi.
__ADS_1
Rendi buru-buru menaruh pakaian dalamnnya di tong sampah. "Tunggu dulu, jika pakaian dalamnya di sini, terus dia memakai pakaian dalam siapa?"
Seketika si junior yang sudah tidak di bungkus sehelai benangpun seketika berdiri, menunjukkan keperkasaannya. Tanpa sadar Rendi memikirkan hal tersebut, sehingga membuatnya menelan ludah.