Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Hari yang Melelahkan


__ADS_3

Selepas mereka sudah beres makan, Rendi pamit pada bawahannya untuk kembali ke kontrakan, sebelum itu Rendi mengantar Novi ke rumahnya terlebih dahulu, mengingat gadis itu belum mandi sore.


"Bye Ren, sampai bertemu lagi besok," Novi melambaikan tangannya sesudah turun dari mobil.


"Ya sampai ketemu besok," jawab Rendi sambil tersenyum.


Hendri bertanya, pada bosnya. "Kita jalan bos?"


Rendi mengangguk dan menjawab. "Ya, kita jalan!"


Hendri menginjak pedal gas, mobil pun meninggalkan rumah Novi dan langsung ke kontrakan Rendi.


Saat sampai di gang kontrakan Rendi. Mobil berhenti, Hendri dan Rendi turun dari mobil, Hendri tampak khawatir dengan mobil tersebut, mengingat hari sudah malam.


"Kamu kenapa Hen?" tanya Rendi pada bawahannya itu.


"Bos, saya masih was-was taruh mobil di sini," jawab Hendri dengan wajah tidak berdaya.


"Sudahlah, percaya sama aku, tidak akan kenapa-napa," seru Rendi lirih.


Hendri menghela napas. "Baiklah bos."


Hendri mengikuti bosnya itu ke kontrakan, walaupun pikirannya terganggu dengan mobil tersebut, tapi ia juga tidak bisa menolak ajakan bosnya.


Baru saja mereka berdua sampai di kontrakan Rendi, mereka di kejutkan dengan Sulis yang sedang menunggu Rendi di depan pintu kontrakan sambil bermain ponsel.

__ADS_1


Rendi menghela napas, baru ia tadi mengantar Novi pulang, sekarang harus menghibur Sulis yang pasti marah karena ia pulang tanpa memberitahunya.


"Sudah lama kamu di sini, Sulis?" tanya Rendi lirih.


Sulis mendongak, gadis itu bukannya menjawab, ia malah langsung beranjak dari duduknya dan memeluk Rendi.


"Kamu jahat! Pulang tapi gak bilang-bilang!" Sulis menggerutu kesal.


Rendi melepaskan pelukan Sulis. "Aku juga pulang mendadak, ngomong-ngomong kamu tahu aku pulang darimana?"


"Novi update status di sosial medianya, jahat ih! Kalian jalan tidak ajak aku!" Sulis masih menggerutu.


Rendi menghela napas lagi. "Sudahlah, lebih baik kita masuk dulu."


Terlihat Sulis sangat senang bertemu Rendi, walaupun baru di tinggal tiga hari, ia memiliki banyak cerita yang ia beritahukan pada Rendi.


Rendi hanya menyimak saja pembicaraan tersebut, ia tidak memotong sama sekali cerita Sulis yang terlihat begitu menggebu-gebu.


"Sekarang sekolahan kita menjadi pengirim donasi terbesar, itu semua berkat kamu Ren, aku senang sekali, karena sekarang tidak akan ada yang meremehkan sekolah kita lagi!" ucapnya berapi-api.


"Baguslah kalau begitu," jawab Rendi singkat.


Hari semakin malam, Rendi pun berpikir mengantar Sulis untuk pulang, tapi saat ia mengingat kejadian saat memboncengkan Mba Kunti. Rendi sedikit ragu untuk mengantar Sulis.


"Sudah malam, apa sopirmu tidak menjemput?" tanya Rendi lembut.

__ADS_1


"Hihihi ... sebenarnya beliau sudah datang dari tadi, ia menunggu di mobil," jawab Sulis sambil terkikik geli.


Rendi menghela napas lega. "Baguslah, ayo aku antar ke mobil."


Sulis mengangguk, mereka berdua ke mobil Sulis yang ada di depan gang, beriringan dengan mobil Rendi.


Tampak sopir Sulis langsung turun dan membukakan mobil untuk nona mudanya tersebut.


"Hati-hati di jalan pak," tegur Rendi sopan.


"Iya mas, sudah pasti itu," jawab pria paruh baya itu sopan, yang langsung masuk ke dalam mobil.


"Sampai besok Ren," Sulis melambaikan tangannya.


"Ya, sampai besok," balas Rendi melambaikan tangan.


Mobil Sulis pun jalan meninggalkan Rendi yang sedang melambaikan tangannya pada gadis tersebut.


Saat Rendi sedang melambaikan tangan, tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding. Bahu Rendi ada yang memegang dari belakang, terdengar juga suara terkikik dari belakang.


Hihihi ...


Sontak Rendi terkejut, ia menelan ludah, dengan hati-hati pria itu menoleh ke belakang.


Rendi sudah berkeringat dingin, ia tidak takut jika itu preman, tapi jika jurig yang mengganggunya .....

__ADS_1


__ADS_2