
Paman Novi menatap tajam keduanya, ia masih tidak percaya kalau Novi dan Rendi tidak sengaja melakukan hal tersebut, jika saja ia tidak datang, mungkin akan terjadi hal yang lebih mengerikan.
Paman Novi masuk ke dalam kontrakan Rendi, ia duduk di hadapan keduanya sambil menghela napas berat.
"Dari kemarin aku mengawasi kalian, tidak ada hal-hal yang menjurus ke sana, tapi sekarang kalian melakukannya di depanku," Paman Novi mengehela napas lagi." mbok ya kalau mau melakukan itu pintu di tutup, jangan mengumbar hal senonoh di publik."
"Eh ...." Rendi dan Novi langsung mendongak, mereka berdua terkejut saat Pak Toto mengatakan hal tersebut.
"Jangan berekspresi seperti itu, paman juga pernah muda, paman cuma mau mengingatkan saja pada kalian, jangan sampai ke lewat batas, kalian ini masih muda, selesaikan sekolah kalian dulu." Pak Toto menasehati keduanya.
"Baik Paman." ucap keduanya merasa bersalah.
"Novi, paman tahu kalau kamu gadis baik-baik, karena kesendirian kamu, jangan jadikan itu semua alasan, paman tahu kamu naksir Rendi, tapi pacaran yang sehat, jangan terlalu dalam."
Pak Toto berganti menatap Rendi," dan kamu Rendi, aku tahu kamu pria yang baik, tuntunlah Novi menjadi gadis yang baik, agar kelak jika ia menjadi jodohmu kamu akan merasakan indahnya pernikahan."
"Baik Paman," ucap keduanya serempak.
"Ya sudah, paman pergi dulu, jangan ulangi lagi hal seperti itu." Pak Toto beranjak dari duduknya, kemudian meninggalkan mereka berdua.
Rendi dan Novi menghela napas lega, setidaknya mereka tidak di usir dari kontrakan Pak Toto. Novi kemudian terkikik geli, ia merasa tindakannya yang barusan memang sudah kelewatan.
"Maaf yah Ren, gara-gara aku, kamu jadi kena omel pamanku." Novi menyenderkan kepalanya di bahu Rendi.
__ADS_1
"Kamu ini tiba-tiba saja melakukan itu, kan aku jadi ikut menikmatinya." jawab Rendi sambil mencubit hidung Novi dengan gemas.
"Ih ... apaan sih, Ren." Novi merasa malu, mengingat ia begitu liar saat memagut Rendi.
Mereka berdua terlihat lebih dekat lagi, untung saja Sulis tidak ada di sana, sehingga tidak ada perang dingin di kontrakan Rendi.
Saat mereka berdua masih saling menggoda satu sama lain, Harisman dan bawahannya datang, mereka semua terlihat babak belur, saat sampai di kontrakan Rendi.
"Astaga, kalian kenapa? Kalian habis panen sarang lebah?" tanya Novi sekenanya.
"Hus, mana ada lebah yang membuat mereka sampai seperti itu." tegur Rendi pada gadisnya itu.
Harisman dan bawahannya tersenyum getir, mereka padahal mau lapor dengan serius, tapi Novi malah meledek mereka.
"Kamu, belikan batu es buat mengompres lebam mereka Nov, aku mau berbicara dengan mereka." perintah Rendi pada Novi.
"Kamu ini ya, bener-bener bikin aku gemas." Rendi mencubit hidung Novi lagi.
"Hihihi ...." Novi terkikik geli, ia pun beranjak dari duduknya untuk membeli batu Es di warung terdekat.
Rendi menyuruh mereka semua masuk, ia mengangkat kasurnya agar kontrakannya tidak penuh sesak oleh mereka, karena yang datang ada delapan orang termasuk Harisman.
"Jangan bilang kalian membuat masalah!" tegur Rendi langsung.
__ADS_1
"Tidak bos, sumpah!" jawab Harisman langsung.
"Terus?" Rendi mengernyitkan dahi.
"Kami juga tidak tahu bos, kami lagi nongkrong di tempat biasa, rencananya mau ke sini, tiba-tiba saja ada geng motor yang menghampiri kami dan menghajar kami tanpa permisi, setelah kami semua terkapar, mereka bilang katanya suruh bilang pada bos, kalau bos mereka menunggu bos di lapangan karang birahi, kalau menuntut balas." Harisman menjelaskan.
"Lebih baik jangan bos, aku yakin mereka pasti mau ngeroyok bos." timpal Samiun.
Rendi memegangi dagunya, ia padahal tidak pernah berurusan sama siapapun, tapi kenapa ada yang mencarinya? Ia berpikir sejenak untuk mengingat-ingat apakah ia punya musuh atau tidak, tapi Rendi tidak mengingat kalau ia telah melukai seseorang.
"Ini batu esnya!" Novi yang membeli batu Es sudah pulang.
Rendi terkejut saat Rendi membeli batu Es balokan dengan ukuran setengah meter persegi.
"Mbak bos mau jualan Es?" tanya Harisman pongah.
"Gorila bodoh! Ini untuk lebam kalian," jawab Novi ketus.
"Gak usah banyak-banyak juga, Nov." Rendi menghela napas, ia mengambil pakaian yang sudah tidak ia kenakan dan gunting.
"Kompres lebam kalian!" Rendi menyerahkan baju yang sudah tidak ia pakai dan gunting.
Dengan polosnya, Harisman membungkus es batu itu bulat-bulat tanpa di pecahkan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Gak muat Bos bajunya." ucap Harisman pongah.
Rendi dan Novi saling menatap, mereka berdua menepuk jidat bersamaan, karena Harisman yang sekarang begitu bodoh, padahal kemarin ia terlihat sudah bijaksana dan cerdas, tapi sekarang kambuh lagi idiotnya.