
Jam pelajaran pun telah usai, Rendi buru-buru pulang ke kontrakannya untuk menyiapkan sesuatu yang akan ia bawa ke Jakarta.
Betapa terkejutnya Rendi saat pulang dari sekolah, di kontrakannya banyak orang, di sana juga ada Harisman dan Samiun.
"Ada apa ini? Rame banget?" tanya Rendi penasaran.
Harisman menghela napas. "kontrakan bos di satroni maling, untung kami tepat waktu datang kemari, jadi tadi kami berdua menghajar maling itu sampai akhirnya para warga berkumpul."
Sontak saja Rendi terkejut saat mendengar ada maling yang masuk kontrakannya, ia bergegas masuk ke dalam.
Rendi tidak menghiraukan emas dan berkas-berkas pentingnya, yang ia khawatirkan Sistem Spinnya, yang memang hari ini tidak ia bawa.
Harisman dan Samiun saling menatap melihat bos mereka terlihat sangat panik mencari sesuatu.
"Bos, apa ada yang hilang?" tanya Harisman lembut.
Rendi tidak menjawab, ia tetap mencari Sistem Spin yang belum ketemu juga, padahal ia sudah mengacak-acak seluruh isi lemarinya.
"Sial! Barangku ada yang hilang!" Rendi berteriak marah.
"Kemana malingnya?!" Rendi meraih kerah Harisman.
Sontak saja Harisman ketakutan, karena Rendi terlihat sangat kalut, ia yakin kalau barang berharga bosnya yang telah hilang.
"D-i bawa ke rumah pak RT bos." jawab Harisman ketakutan.
"Antar aku kesana!" Rendi langsung ke motornya.
"B-Bos gak usah pakai motor." ucap Harisman takut-takut.
__ADS_1
"Biar cepat, ayo naik!" perintah Rendi tegas.
Harisman mengangguk ia bonceng Rendi, tanpa berbicara apa-apa lagi, dari pada harus di bentak Rendi lagi.
"Dimana rumah pak RT?!" tanya Rendi ketus.
"Stop bos! rumahnya ke lewat." jawab Harisman keras.
Rendi langsung menarik Rem, ia mengerutkan keningnya, padahal motornya baru saja berjalan lima puluh meteran.
"Itu bos rumahnya." tunjuk Harisman pada rumah yang dekat dengan kontrakan Rendi.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal!?" bentak Rendi lagi.
"Lah, aku tadi sudah bilang gak usah pakai motor bos." jawab Harisman tidak berdaya.
Alasan kenapa Rendi tidak di beritahu Pak Gatot, kalau ia di suruh melapor ke Pak RT karena menjadi warga baru di sana, karena Pak RT nya pak Gatot itu sendiri.
Rendi memutar balik motornya dan berhenti di rumah Pak Gatot, di sana banyak warga yang berkumpul, termasuk pak polisi ayah Harisman.
Rendi membelah kerumunan, ia tidak peduli banyak warga yang memarahinya, yang ia inginkan sekarang Sistem Spinnya harus kembali.
"Mana barangku!" tanpa permisi Rendi langsung mencengkram kerah baju di maling yang sudah babak belur di hadapan Pak Gatot dan Ayah Harisman.
Sontak saja Pak Gatot dan Ayah Harisman terkejut saat melihat Rendi tiba-tiba datang dan berbuat seperti itu.
"Rendi, Rendi, apa yang kamu lakukan?!" Ayah Harisman langsung meraih Rendi agar melepaskan cengkeramannya, tapi Rendi tidak mau melepaskan si maling.
"Mana barangku!" Rendi berteriak marah.
__ADS_1
Wajah Rendi benar-benar menggelap, ia tidak terima jika benda yang membuat kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat itu sampai hilang.
"Mana brengsek!" Rendi meraung lagi.
"A-Ampun bang, aku belum mengambil apapun, su-sumpah!" si maling menjawab dengan sangat ketakutan.
"Ren, lepaskan dia, kita bicara baik-baik saja dulu." Pak Gatot menepuk lengan Rendi lembut.
Rendi menggertakkan giginya, ia menghempaskan si maling hingga ia terduduk kembali.
"Ayo duduk, kita bicarakan ini baik-baik, barang apa yang hilang dari kontrakanmu." Pak Gatot mengusap-usap dada Rendi agar bocah yang masih mengenakan seragam SMA itu mau menurut.
Rendi akhirnya duduk bersama mereka bertiga, Ayah Harisman tersenyum kecut, melihat bocah yang ia percayakan sebagai pembimbing anaknya memiliki emosi yang begitu kuat. Namun, ia juga tahu kalau Rendi pasti kehilangan barang berharga.
"Ren, ceritakan apa yang hilang dari kontrakanmu?" tanya Pak Gatot lembut.
Rendi menatap sini si maling. "benda yang mirip Ponsel! Itu barang pemberian orang tuaku, kalau sampai tidak di temukan, aku pastikan akan menghajarnya habis-habisan!"
Rendi tidak peduli di sana ada Polisi dan Pak Gatot, di tambah di luar banyak orang, yang ia pikirkan sekarang Sistem Spin harus kembali.
Kalau tidak kembali ceritanya habis soalnya.
"Sumpah bang! Aku tidak mengambilnya." ucap si maling sambil membentuk jarinya seperti huruf 'V'.
"Mana ada maling ngaku!" celetuk Rendi.
Rendi yang masih kalut, tentu tidak percaya dengan perkataan si maling, karena di otaknya sekarang penuh dengan emosi.
Sebenarnya wajar saja kalau Rendi seperti itu, Sistem Spin memang barang paling berharga miliknya, jika si maling mengambil emas atau yang lainnya, ia tidak akan Semarang itu, tapi ini yang di ambil Sistem Spin, tentu Rendi tidak bisa mentolerirnya.
__ADS_1