Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Sekelompok Wanita Dewasa


__ADS_3

Sekelompok wanita itu terlihat tersenyum-senyum saat melihat Rendi yang baru pertama kali mereka lihat di tempat itu.


"Cowo tajir itu, mobilnya Fortuner GR Sport, di tambah bawa pengawal juga, fix dia cowo tajir!" celetuk wanita dengan potongan rambut sebahu.


"Iya Fin, embat saja!" cewe dengan riasan menor menimpali.


"Tapi dia kelihatan masih muda banget gila, masa iya gua mau deketin berondong?" gadis yang berpenampilan seksi dan berparas cantik, enggan mendengarkan temannya.


"Halah muna Lo, yang penting tajir, malah mudah deketin ABG kayak dia." temannya yang diam buka suara.


"Gila yah Lo semua, gua deketin cowo juga lihat-lihat, dia masih bau kencur!" hardik gadis tersebut pada teman-temannya.


Fina Maulina, ia wanita berparas cantik yang sudah kuliah di salah satu Universitas favorit di Jakarta. Fina terkenal dengan julukan Playgirl, ia sering sekali gonta-ganti pasangan, jika sudah merasa bosan dengan mereka.


Fina sebenarnya memiliki keluarga yang cukup berada, tapi karena ia selalu ingin berpenampilan wah dan tidak mau menghabiskan uang orang tuanya, karena itulah ia berpacaran dengan banyak Pria hanya demi menguras dompetnya. Namun, Fina tidak pernah tidur dengan pacar-pacarnya, ia paling hanya sebatas pelukan dan ciuman saja, jika pacarnya sudah mau minta lebih, Fina lebih memilih untuk memutuskannya.


"Halah, Lo banyak gaya, biar gua yang dapatin nomornya buat kamu." Nela, gadis berambut sebahu berdiri dan mendekati Rendi.


Fina mengerutkan keningnya, sementara dua teman lainnya meneriaki Nela agar berhasil meminta nomor Rendi.


Nela tanpa ragu ke meja Rendi dan duduk di hadapan Rendi tanpa permisi. Sontak saja Rendi langsung mendongak menatapnya.


"Maaf, ada apa yah Mbak?" tanya Rendi sopan.


Nela tersenyum. "tidak ada apa-apa, gua cuma di suruh wanita yang di sana untuk meminta nomor ponsel Lo." ucapnya sambil menunjuk Fina.


Fina tentu saja terkejut, ia menggertakkan giginya marah, karena temannya itu malah menjadikan dia sebagai obyek pembicaraan.

__ADS_1


Rendi tentu menoleh melihat ke arah yang di tunjuk Nela. Seketika Fina langsung membuang mukanya, Rendi hanya tersenyum dan kembali menatap Nela.


Rendi memasukkan ponselnya ke saku, ia menatap Nela dan tersenyum. "kenapa dia tidak kemari sendiri?"


"Entahlah, malu mungkin?" Nela menggendikkan bahunya, ia merasa tidak bersalah sama sekali.


"Bilang padanya, kalau mau nomorku datang sendiri, aku tidak suka cewe yang jaim." jawab Rendi sambil tersenyum.


"Hahahaha ... boleh juga, gua Nela Maura." Nela mengulurkan tangannya.


"Rendi." Ia menyambut uluran tangan Nela.


"Lo di sini sendirian? Atau sedang menunggu seseorang?"


"Aku hanya jalan-jalan di sekitar sini saja, kata sopirku di tempat ini enak buat nongkrong, ya jadi aku di sini."


Rendi mau menjawab, pelayan datang dengan pesanan Rendi, tentu Nela terkejut dengan pesanan Rendi yang merupakan menu terbaik di kafe tersebut.


"Kenapa? Kalian mau juga yang seperti ini?" tanya Rendi saat melihat ekspresi Nela.


"Kalau boleh." Nela mengeringkan matanya genit.


Rendi tersenyum. "Mbak, empat lagi buat meja yang di sana."


"Baik Mas." jawab pelayan sopan dan meninggalkan tempat tersebut.


Nela di buat tertegun oleh Rendi, karena pria yang masih di bawah umur itu terlihat sangat pengertian dengan seorang wanita dan tentunya ia tidak pelit.

__ADS_1


"Aku makan dulu yah, aku sudah pesankan untuk kalian." ucapnya sambil memakan kue di depannya itu.


"Oke, selamat makan, gua pergi dulu." Nela bergegas pergi dari hadapan Rendi dan kembali ke teman-temannya.


Rendi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia sebenarnya tahu kalau Nela dan yang lainnya wanita yang hanya tertarik dengan pria kaya. Namun, ia tidak perduli dengan hal tersebut, lagi pula uangnya sudah seperti air, yang terus mengalir ke dalam saldo Banknya.


Hendri hanya menghela napas, sudah pasti kalau bosnya itu pasti bakal menarik perhatian banyak wanita.


Sementara itu Nela yang sudah di tempat duduknya, ia terlihat sangat bersemangat. "gila guys, dia sangat ramah dan dia juga membelikan kita empat paket spesial yang ada di kafe ini tanpa ragu!"


"Serius Lo?" tanya wanita beriasan tebal.


"Buat apa gua bohong! Dan Lu Fin, sepertinya dia suka denganmu, coba saja kamu minta nomor ponselnya, pasti di kasih!" Nela berbicara dengan semangat pada Fina.


"Apa sih Lo, gak jelas banget, sudahlah jangan bahas itu lagi." Fina terlihat malas membahas Rendi, tapi nyatanya ia sesekali mencuri pandang ke arah Rendi.


Pesanan Rendi yang buat mereka pun tiba, tentu saja para gadis itu senang, karena mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar paket makanan yang lumayan mahal itu.


"Tunggu dulu Mbak, ini serius dia yang bayar?" Fina yang ragu dengan Rendi, ia memastikan sendiri pada pelayan.


"Benar Mbak, semuanya sudah di bayar mas itu, dan ini buat Mbaknya." pelayan memberikan secarik kertas yang terdapat nomor Rendi.


"Tuhkan bener, Fin!" Nela menaik turunkan alisnya, menggoda temannya itu.


"Apaan sih Lo!" bentak Fina pada temannya itu.


Fina menoleh ke arah Rendi, terlihat bocah SMA itu sudah mau pergi dari kafe tersebut, ia kemudian melihat nomor ponsel Rendi.

__ADS_1


__ADS_2