
Rendi jelas saja terkejut dengan kemampuan tersebut. Menurutnya kamuflase kemampuan yang sangat berguna jika di padukan dengan kecepatan supernya, otomatis ia tidak akan terdeteksi sama sekali oleh musuhnya.
"Kenapa tidak dari kemarin mendapatkan kemampuan ini! Kalau begini aku tidak perlu repot-repot menunjukkan wajahku kepada mereka," gerutu Rendi kesal.
Sistem tentu memiliki aturan dan ketentuan sendiri, di balik semua pemberian Sistem itu menandakan kemampuan tersebut akan segera di gunakan.
Misalnya ketika Rendi mendapatkan kemampuan penggoda wanita, ia dengan mudahnya bisa membunuh wanita suruhan Edward seketika. Sudah jelas kalau Sistem tidak sembarangan memberikan kemampuan.
Faktanya kemampuan penggoda wanita langsung bisa Rendi kendalikan tanpa ia sadari. seperti halnya dengan kemampuan Rendi yang lain, jika ia sudah menggunakannya, maka otomatis dirinya langsung mahir menggunakan kemampuan tersebut.
Tubuh Rendi yang sudah berevolusi beberapa kali, pada dasarnya untuk cepat menyerap semua kemampuan yang akan di berikan Sistem, karena itulah sekarang, setiap ia mendapatkan kemampuan tidak akan lagi merasakan sakit lagi seperti sebelumnya, karena semua kemampuan Rendi berhubungan satu sama lain.
"Eh, ini bagaimana caranya aku bisa kembali ke wujud semula?" Rendi bertanya-tanya bingung kepada dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba tubuhnya kembali terlihat seperti sebelumnya.
Rendi mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Jadi cara kerja semua kemampuanku sama saja? Mengandalkan apa yang ingin aku gunakan, baiklah aku mengerti sekarang."
Setelah awalnya ia menganggap kemampuannya tidak berguna karena dirinya tidak memiliki musuh, kini Rendi menyadari kalau semua kemampuan tersebut ada gunanya masing-masing.
...***...
Rendi turun dari kamarnya, ia langsung ke ruang makan, menghampiri Ibunya yang sudah menunggu sedari tadi.
Rendi menarik kursi dan duduk. "Pagi Bu," sapanya sopan.
__ADS_1
"Pagi sayang," jawab Sera sambil mengambilkan Rendi roti yang sudah ia siapkan.
"Ibu baru tinggal di sini hari ini atau....?" tanya Rendi menyelidik.
"Kebetulan pas Ibu datang kemari, kata Sebastian kamu sudah berangkat ke luar negeri kemarin, kenapa kamu tidak bilang Ibu mau ke luar negeri?" tanya wanita paruh baya itu sedikit kecewa.
Rendi tersenyum. "Aku ada urusan mendadak Bu, tidak sempat berpamitan dengan Ibu," jawabnya lembut.
Sera menghela napas. "Kamu bisa telepon Ibu, tapi ya sudahlah, yang penting kamu sudah kembali dengan selamat," ucap wanita yang melahirkan Rendi itu.
Mereka berbincang-bincang sampai selesai sarapan, setelah itu baru Rendi pergi dari rumah, ia beralasan mau mengecek perusahaannya. Namun, nyatanya pemuda itu akan pergi menemui Sulis.
Rendi sudah di dalam mobil, ia tidak lupa membawa laptopnya untuk mengurus masalah identitas dirinya yang akan ia tutupi semua.
Rendi jelas tidak mau buru-buru, karena ia tahu jika menjatuhkan pejabat secara bersamaan akan membuat negerinya semakin terpuruk, jadi ia melakukannya secara perlahan, agar Malik juga menemukan orang tepat untuk menggantikan orang yang di jatuhkan olehnya
"Rohis, apa Hendri setiap hari mengantar Novi?" tanya Rendi sambil menatap laptopnya yang sedang loading mengalihkan semua asetnya ke salah satu wanitanya.
"Benar tuan, bahkan beberapa kali Nona Novi juga main ke rumah anda," jawab Rohis jujur.
Rendi mengernyitkan dahi. "Mau apa dia kerumah?" tanyanya penasaran.
"Nyonya Sera yang memanggilnya, karena mereka beberapa kali sudah bertemu tuan," jawab Rohis lugas.
__ADS_1
Rendi menghela napas. Sudah pasti Novi akan seperti Mei Ning, ia pasti akan terus datang dan mengambil hati Ibunya.
"Kalau Sulis? Apa kamu mengawasinya sesuai dengan apa yang aku perintahkan?" tanya Rendi lagi.
Tampak wajah Rohis berubah cemas, sehingga membuat Rendi sedikit curiga, ada yang telah terjadi ketika ia pergi ke luar negeri.
"Rohis, jangan bilang kamu menyembunyikan sesuatu," tanya Rendi menyelidik.
Rohis terdengar menghela napas. "Tuan, lebih baik anda lihat sendiri saja nanti, saya tidak mau berbicara takut salah," jawabnya ambigu.
Tentu saja Rendi semakin curiga, pria itu langsung berpikiran kemana-mana. Pikiran negatifnya langsung muncul. Namun, pemuda tersebut mencoba untuk tetap tenang.
Tidak berselang lama mobil sampai di Spin Properti, bersamaan dengan itu tampak Sulis yang berboncengan dengan seorang pria menggunakan motornya.
Sontak saja wajah Rendi langsung menggelap, tapi ia mencoba untuk tetap tenang, karena ia tidak mau salah paham dengan gadis itu.
"Tuan...."
Rohis mau berbicara dengan Rendi, tapi bosnya itu sudah keluar dari mobil dan langsung menghampiri Sulis dan Pria yang memboncengnya tadi.
Tatapan Rendi begitu dingin, amarahnya ia pendam dalam dasar hati agar tidak membunuh Pria yang bersama Sulis.
Rohis bergegas mengejar Rendi, ia takut kalau bosnya itu akan bertindak gegabah dan merusak nama baiknya sendiri.
__ADS_1