
Mei Ning dengan mudahnya bisa dekat dengan Ibu Rendi, mungkin karena ia seorang pembunuh, sudah terbiasa memasang dua muka untuk mengelabuhi korbannya.
Rendi sebenarnya kesal, tapi apa daya, ia pun tidak bisa apa-apa. pria itu kini hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Ibunya, siapa sosok Mei Ning itu.
Pria yang usianya baru genap delapan belas tahun itu, seharian di rumah, ia takut Ibunya di apa-apakan oleh Mei Ning. Namun, Mei Ning malah mengambil kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Rendi.
"Mei, coba ini, kayaknya bagus buat kamu," ucap Sera menyerahkan sebuah gaun berwarna biru pada Mei Ning.
"Oke, aku coba dulu yah Bu," Mei Ning meninggalkan Rendi dan Ibunya, ia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di lantai bawah untuk mengenakan gaun tersebut.
Pelayan butik yang mengirim pakaian untuk Mei Ning memang sudah sampai, sehingga kedua wanita itu dari tadi sibuk memilih pakaian yang cocok untuk Mei Ning.
Rendi duduk malas di sofa, ia hanya mengawasi Mei Ning saja yang sedang berinteraksi dengan Ibunya sambil main ponsel, membalas Chat dari Novi dan Sulis tentunya.
"Ren, kamu menyukai tipe wanita yang lebih matang ternyata," tiba-tiba Sera menegur Rendi.
Rendi meletakkan ponselnya, ia tersenyum kecut. "Bu, jangan terlalu dekat dengannya, dia wanita licik," ucap Rendi perlahan mengungkap sifat Mei Ning.
"Hus! Sudah menidurinya, masih saja berbicara omong kosong, kamu lihat bukan, Mei sangat sopan sama Ibu," tegur Sera tidak percaya dengan Rendi.
__ADS_1
Rendi menghela napas. "Bu, ini hanya salah paham, mana ada aku berani tidur dengan wanita yang belum aku nikahi."
"Kamu jahat Mas! Setelah melakukannya kamu mau membuang aku begitu saja, hiks... hiks..." Mei Ning yang sudah mengenakan gaun dan keluar dari kamar mandi, ia pura-pura menangis saat mendengar perkataan Rendi.
Sera langsung memelototkan matanya ke arah anaknya itu, ia berdiri menghampiri Mei Ning. Rendi menggertakkan giginya, ingin rasanya ia menghajar wanita itu.
"Sudah, jangan dengarkan omongan Rendi, dia pasti akan bertanggung jawab denganmu, ayo duduk dulu," ucap Sera lembut sambil memapah Mei Ning.
Mei Ning menyeringai ke arah Rendi sambil menjulurkan lidahnya. Pria itu jelas sangat kesal karena telah di permainkan wanita licik itu.
Sayangnya ia telat memberitahu Ibunya, karena orang yang telah melahirkannya itu sudah terjerat oleh tipu daya Mei Ning.
"Terimakasih Bu," entah kenapa perasaan Mei Ning menjadi hangat setelah mendengar ketulusan Sera saat memujinya.
Wanita paruh baya itu tampak begitu menyayanginya tanpa ragu. Mei Ning yang sedari dulu sudah hidup sebatang kara, sekarang benar-benar merasakan kasih sayang dari orang tua.
"Setelah ini, kita masak nanti makan siang bersama, kamu bisa masak, kan?" tanya Sera lembut.
Mei Ning menggelengkan kepalanya, boro-boro bisa masak, ia saja tidak pernah pergi ke dapur sama sekali.
__ADS_1
Sera mengerutkan keningnya. "Hais, anak perempuan jaman sekarang meremehkan tugas memasak, padahal dengan memasak kamu bisa membuat hangat rumah, suami kamu juga jadi senang di rumah kelak, tidak perlu pergi keluar, yang efeknya akan bertemu para pelakor di luar sana."
"Eh, sampai segitunya Bu?" tanya Mei Ning polos, ada sedikit ketertarikan dalam dirinya saat mendengar kata-kata 'suami'.
"Iya, nanti Ibu ajarin kamu masak, calon menantu Ibu harus bisa memasak!" ucap Sera tegas.
"Calon menantu?" Rendi terkejut, buka suara." Bu, ayolah... masa Ibu langsung mengambil keputusan seperti itu sih? Bagaimana kalau dia hanya berusaha menguasai hartaku saja? Atau dia mungkin seorang pembunuh?"
Rendi sudah tidak tahan lagi, ia mau tidak mau harus menggagalkan rencana Ibunya yang akan membuat Mei Ning semakin besar kepala.
"Sudahlah Bu, aku ini memang orang tidak punya, mungkin mas Rendi memang tidak suka padaku, aku sad...."
"Tidak! Biar Ibu yang urus masalah Rendi, kamu harus tetap di sini!" ucap Sera tegas sebelum Mei Ning selesai bicara.
Rendi melebarkan rahangnya, ia benar-benar terkejut karena Ibunya sudah tidak bisa di ajak negosiasi lagi, padahal ia sudah mencoba memberitahu siapa Mei Ning itu.
Dasar wanita Iblis! Awas saja kau, aku benar-benar tidak akan melepaskanmu!
Rendi menatap sinis Mei Ning, tapi wanita itu malah pura-pura bodoh dan tidak menatap dirinya, membuat Rendi semakin marah.
__ADS_1