Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Serangan tak ada Habisnya


__ADS_3

Sementara itu ditempat Mei Ning. Wanita itu sedang uring-uringan, karena ia tidak diberitahu Rendi sama sekali, kalau Pria itu akan menghilang untuk sesaat.


"Nomornya gak aktif, di rumahnya juga tidak ada dan Ibu bilang dia keluar kota! Arghh... sebenarnya kamu dimana sih Ren!" raung Mei Ning marah di kamar apartemennya.


Mei Ning sebenarnya sudah menebak kalau Rendi pasti akan menjauhi orang-orang terdekatnya, agar mereka tidak terlibat dengan urusannya. Hanya saja yang tidak ia duga, pria itu tidak memberitahunya sama sekali akan pergi kemana. Karena itulah Mei Ning sangat marah.


"Ren, kenapa kamu malah seperti ini, aku padahal ingin selalu didekat kamu dalam suka maupun duka," ucapnya sambil mengusap foto Rendi yang ada di ponselnya.


Mei Ning berharap agar ia bisa bertemu dengan Rendi kembali. Karena ia tahu kalau musuh-musuhnya sangat berbahaya, ia tidak mau berpangku tangan begitu saja.


"Tunggu dulu! Malik, ya Malik pasti tahu dimana Rendi!" Mei Ning tiba-tiba teringat dengan Malik.


Mei Ning bergegas beranjak dari ranjangnya, ia langsung keluar dari apartemen dan mencari dimana Malik berada menggunakan koneksinya.


Sementara Mei Ning yang begitu khawatir dengan Rendi. Di lain sisi Novi juga merasakan hal yang sama.


Gadis itu sedang duduk di kantin sekolah, memainkan sedotan di gelas minumannya sambil melamun.


Tampak Fina yang melihat Novi sedang melamun, ia menghampiri gadis itu. Mengingat hubungan mereka sekarang cukup dekat.


"Kenapa lo, Apa Rendi memutuskanmu?" tanyanya langsung.


"Eh... apaan sih Kak Fina, mana ada Rendi memutuskan ku," jawab Novi sedikit kesal.


"Lah, tidak biasanya lo melamun seperti ini, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan kalian bukan?" tanya Fina memastikan.


Novi menghela napas. "Tidak ada, hanya saja dia sedang pergi keluar kota, tapi ponselnya tidak aktif sama sekali dari kemarin."

__ADS_1


"Fix! Kamu di tinggalkan ini, baguslah biar aku yang maju nanti!" goda Fina dengan bersemangat.


"Kak Fina, apaan sih ih... bercandanya jelek!" hardik Novi sambil menggembungkan pipinya.


Fina terkekeh geli. Melihat Novi yang seperti itu, ia yakin kalau Rendi memiliki wanita yang begitu mencintainya. Walaupun hatinya terasa sakit, tapi ada sedikit rasa lega yang membuatnya tersenyum simpul.


Berbeda dengan Novi yang selalu galau setelah Rendi berpandangan. Ditempat Sulis berada. Ia tampak seperti biasanya melayani pelanggan yang datang.


Sulis tampak sangat profesional dalam melakukan pekerjaannya. Gadis itu juga sebenarnya cemas karena Rendi tidak bisa di hubungi sama sekali. Namun, Sulis yakin kalau Rendi tidak akan mengingkari janjinya, karena itulah ia selalu berpikiran positif kepada pria yang di kaguminya itu.


Berat memang di tinggalkan orang yang di sayang, tapi jika semua itu untuk kebahagiaan bersama, kenapa kita harus melarangnya?.


Ada pepatah bilang, habis gelap terbitlah terang. Dengan berpatokan dengan keyakinan tersebut, Sulis sangat yakin kalau Rendi akan datang kembali padanya dan mencapai kebahagiaan sejati.


...***...


Para pembunuh bayaran tersebut berbondong-bondong berburu Rendi, karena hadiah yang di tawarkan tidak main-main. harga Kepala Rendi mencapai 100 juta dolar, bagi siapa yang bisa mendapatkannya. Karena itulah mereka semua begitu antusias untuk mendapatkan kepala Rendi.


Sebenarnya jika saja Misnan sudah tertangkap lebih awal, tidak akan ada yang tahu kalau Rendi ada di rumah Malik. Karena tangan kanan Malik itu sudah memberitahu keberadaan Rendi ke Danton, otomatis semua pembunuh bayaran tahu akan hal tersebut.


Sekarang pembunuh bayaran yang tubuhnya sangat kekar dan besar, seperti Hulk Versi kecil. Ia datang dengan membawa senapan mesin dengan peluru yang di kalungkan ke tubuhnya itu.


Pria itu berdiri di hadapan gerbang dan langsung memberondong gerbang tersebut tanpa permisi.


Drrr


Drrt

__ADS_1


Arghhh


Arghhh


Para penjaga Gerbang seketika tewas seketika, karena berondongan senjata oleh orang tersebut. Bahkan pintu gerbang ia lempari granat hingga hancur berantakan.


Pria itu sambil berjalan terus menembakan senjatanya, ia seolah-olah tidak takut sama sekali kalau terkena serangan balik.


Para bawahan Malik jelas saja ketakutan, mereka semua bersembunyi di balik dinding agar tidak terkena tembakan orang tersebut.


"Cepat hadang dia!" teriak Malik dari dalam rumahnya yang mendengar seruan senapan Mesin yang melengking.


Salah satu bawahan Malik mengeluarkan Basoka akan menembak pria tersebut. Namun, tiba-tiba ia tumbang terkena Sniper. Ternyata pria itu tidak sendirian, ada temannya yang melindungi menggunakan Sniper.


Semua bawahan Malik bersusah payah untuk menghentikan pria tersebut, tapi sayangnya mereka malah yang jatuh bertumbangan.


"Bos, kalau begini caranya kita akan tewas! Lebih baik anda dan Tuan Rendi pergi menyelamatkan diri!" teriak salah satu bawahannya.


Malik merasa perkataan bawahannya itu ada benarnya. Namun, tiba-tiba Rendi muncul dari atas dengan santainya sambil membawa granat yang ia lempar-lemparkan ditangannya, seperti mainan saja.


"Kalian mundurlah, biar aku yang menghadapinya!" seru Rendi dingin.


"Tuan Rendi tapi...." Malik merasa itu adalah hal yang konyol.


"Tenanglah Malik, aku tidak akan mati semudah itu!" jawab Rendi tegas dan tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi transparan, menghilang dari hadapan Malik.


Malik baru teringat kalau rekannya itu memiliki kemampuan yang tidak di miliki oleh manusia pada umumnya. Ia pun menghela napas lega, karena yakin Rendi dapat mengalahkan pria itu.

__ADS_1


Pembunuh bayaran tersebut terus menembaki kediaman Malik, hingga taman dan benda-benda yang ada di halaman rumahnya rusak parah.


__ADS_2