
Rendi mengambil alih tugas Harisman untuk membungkus es batu ke dalam kain. Harisman yang melihat Rendi memecahkan es batu, ia manggut-manggut mengerti.
"Oh ... begitu caranya." ucapnya paham.
"Terserah kamu!" jawab Rendi ketus.
Rendi memberikan batu Es yang sudah di bungkus di kain, dan menyuruh Harisman dan bawahannya untuk saling mengompres satu sama lain lebam-lebam yang ada di wajah mereka.
Terlihat mereka menuruti perintah Rendi, walaupun tampang mereka seram-seram, tapi mereka ternyata bisa kesakitan juga.
Rendi dan Novi yang melihat itu terkikik geli, melihat mereka semua yang saling membantu satu sama lain.
"Aduh!" pekik Samiun.
"Maaf Un, sengaja, hahahaha ...." Harisman tertawa terbahak-bahak, melihat Samiun kesakitan, karena ia menempelkan kompres esnya dengan kuat.
"Aduh!" Harisman gantian memekik.
"Maaf bos, kalau aku benar-benar tidak sengaja." Samiun memasang wajah memelas.
Harisman memelototkan matanya, Samiun menelan ludahnya, ia tahu kalau bosnya marah, bisa-bisa bukan cuma wajahnya yang bonyok, tulang-tulangnya juga bisa patah.
Rendi menghela napas, "Ris, sudah ... kalian ini lagi kaya begini saja masih bercandanya gak jelas kaya gitu, sudah tahu sakit ya sudah, jangan di tambah lagi, rawat luka kalian baik-baik."
__ADS_1
"Baik bos." jawab Harisman dan Samiun bersamaan.
Mereka kembali merawat luka mereka baik-baik, setelah sudah mendingan, mereka membereskan sisa-sisa es batu dan membuangnya, begitu juga kain yang mereka gunakan.
"Ren, mereka bentrok dengan geng mana?" tanya Novi penasaran.
"Entahlah Nov, kata Harisman tiba-tiba ada geng motor yang menghajar mereka." jawab Rendi sendu.
Rendi sengaja tidak bilang pada Novi, kalau kelompok geng motor itu mencari dirinya, ia tidak mau kalau Novi nanti khawatir padanya. Ia berencana menyelesaikan masalah itu terlebih dahulu, baru memberitahu Novi.
"Gitu yah? Katanya mau beli peralatan dagang, jadi gak?" tanya Novi mengalihkan pembicaraan.
"Nanti dulu, aku mau ajak Samiun, biar dia yang memilih alat dagangnya." jawab Rendi santai.
Para preman itu terlihat sangat setia kawan, mereka bekerja bersama tanpa ada yang malas sama sekali, sesekali mereka juga bercanda bersama, membuat Rendi yang melihatnya merasa senang.
"Semuanya beres, bos!" lapor Haris sambil hormat.
"Kamu di sini dulu sama yang lain, Sengkuni dan Samiun ikut aku!" Rendi memberikan perintah.
"Memangnya mau kemana bos?" tanya Harisman mewakili yang lain.
"Belanja kebutuhan untuk dagang, kebetulan aku sudah membeli ruko." jawab Rendi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Benarkah bos?" tanya Samiun bersemangat.
Rendi mengangguk mantap, "aku mau menyiapkan semuanya, nanti kalau semuanya sudah siap, terserah kalian mau mulai dagang kapan."
"Secepatnya bos, kami juga butuh uang!" Sengkuni mengusap jari jempol dan telunjuknya.
"Baguslah, kalian boleh mulai kapanpun, tapi ingat, setelah aku membuka ruko ini, kalian harus bekerja sungguh-sungguh, karena belum memiliki pelanggan tetap, aku akan menggunakan sistem gaji, jika nanti sudah punya pelanggan, terserah kalian mau pakai sistem gaji boleh, bagi hasil juga boleh, bagaimana?" tanya Rendi sambil tersenyum.
"Tentu saja kami mau, bos!" jawab mereka serempak.
"Bagus, ayo kita berangkat!" ajak Rendi pada Samiun dan Sengkuni.
Mereka berempat berangkat membeli peralatan yang di butuhkan, sementara Harisman dan yang lainnya menunggu di kontrakan Rendi.
Kelima bawahan Harisman yang melihat kedekatan Samiun dan Sengkuni dengan Rendi, mereka merasa iri.
Harisman tahu akan hal tersebut, ia pun buka suara, "kalian tidak perlu iri seperti itu, bos Rendi itu orang yang terbuka, kalian tahu sendiri kalau Samiun dan Sengkuni suka bercanda, karena itulah bos Rendi cepat dekat dengan mereka, kalian juga bisa seperti itu, jadi tidak perlu iri dengan mereka berdua."
"Tapi bos, dulu aku yang pertama kali menyerang bos Rendi, aku takut dia masih marah." ucap orang yang waktu pertama bertemu Rendi ada di barisan depan dan menyerang Rendi terlebih dahulu.
"Kamu ini bilang apa? Bos Rendi bukan orang yang dendaman, kalian liat sendiri bukan? Asalkan kalian mau berubah, dia menerima kalian dengan senang hati, jadi tidak usah di pikirkan masalah itu." jawab Harisman meyakinkan bawahannya.
"Baik bos." jawab mereka serempak.
__ADS_1
Walaupun sudah di beritahu Harisman seperti itu, tapi tetap saja mereka masih merasa bersalah, sebab mereka tidak memakai perasaan sama sekali waktu menyerang Rendi, jika saja Rendi dulu hanya orang biasa, mereka yakin kalau Rendi mungkin bisa cedera parah, atau mungkin tewas di tangan mereka.