
Rendi yang mendapatkan pertanyaan ambigu dari Sulis tentu saja terkejut. Apa lagi ia juga kemarin memang melakukan sedikit kemesraan dengan Novi.
"Bagaimana kamu tahu?" jawab Rendi pongah.
"Jadi bener, Ren?" Sulis menutup mulutnya tidak percaya.
Mata Sulis berkaca-kaca, ia tidak menyangka kalau Rendi akan berani melakukan hal tersebut dengan Novi, dalam pikirannya.
"Kamu jahat, Ren!" Sulis berlari pergi meninggalkan Rendi.
Tentu saja Rendi terkejut dengan tindakan Sulis yang tiba-tiba berlari meninggalkannya, ia pun bergegas mengejar Sulis, karena gadis itu tadi terlihat menitihkan air matanya.
"Sulis tunggu!" Rendi berhasil mengejar Sulis setelah sampai di lorong gedung sekolahnya, ia meraih tangan Sulis.
Sulis membalikkan badan, "kenapa kamu lakukan itu Ren? Padahal aku kira kamu cowo baik-baik, kenapa Ren?" tanya Sulis dengan berlinang air mata.
"Aku memang melakukannya, tapi hanya sebentar saja, terus apa hubungannya dengan aku cowo baik-baik atau tidak? Kamu kenapa sih sebenarnya?" tanya Rendi pada gadis itu.
"Tunggu dulu, kamu hanya melakukannya sebentar? Celup doang terus sudah?" tanya Sulis sambil menghapus air matanya dengan kedua tangan.
"Celup doang, apanya? Kamu ini bicara apa sih?" Rendi bingung dengan ucapan Sulis.
__ADS_1
"Ituloh." Sulis menggerakkan jari telunjuknya di tusuk-tusukkan ke arah jarinya yang ia bulatkan.
"Astaga! Apa yang kamu pikirkan, Sulis?" Rendi tidak percaya kalau Sulis sampai berpikir sejauh itu.
"Lah, bukannya kamu sudah melakukannya dengan Novi?" tanya Sulis pongah.
Rendi menepuk jidatnya, "ya ampun, kenapa kamu berpikir sejauh itu? Aku tidak melakukannya dengan Novi, kami hanya sebatas berciuman."
"Oh ... ciuman." Sulis mengangguk mengerti, tapi sesaat kemudian ia terkejut, "kamu sudah ciuman dengan Novi?" tanyanya penasaran.
"Eh ..." Rendi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil tersenyum getir.
"Rendi!" Sulis membentak Rendi sambil menyilangkan kedua tangannya.
Rendi hanya menganggap Sulis sebagai saudarinya, ia pikir tidak apa-apa cerita dengannya. Namun, yang Rendi tidak ketahui kalau gadis yang ada di depannya itu juga menaruh rasa padanya, tapi ia tidak peka sama sekali.
Air mata Sulis tanpa sadar kembali menetes, kini ia tahu kalau Rendi selama ini tidak pernah menganggapnya. Rasanya sangat sakit, tapi Sulis mencoba untuk menerimanya, ia menghapus air matanya dan bergegas membalik badan.
"Selamat yah Ren, semoga kamu bahagia dengan, Novi." ucapnya sambil berlari meninggalkan Rendi.
Rendi mau mengejar Sulis, tapi tiba-tiba Pak Julianto, kepala sekolah Rendi menepuk bahunya.
__ADS_1
"Syukurlah bapak ketemu kamu di sini Ren." tegur Pak Julianto.
Rendi langsung menoleh ke belakang dengan sedikit terkejut, "eh ... Pak Julianto, kirain siapa, ada apa yah Pak?" tanya Rendi sopan.
"Tidak enak ngobrol di sini, kita ngobrol di kantor saja, ayo!" ajak Pak Julianto pada Rendi.
Rendi dengan patuh mengikuti kepala sekolahnya itu, entah apa yang akan Pak Julianto bicarakan dengan Rendi, tampaknya ada sedikit masalah serius, terlihat dari ekspresi wajah Pak Julianto.
Rendi sampai di ruang guru, di sana para guru sudah berkumpul semuanya, mengingat belum di mulainya jam pelajaran juga.
Rendi di suruh duduk dekat dengan Pak Julianto, ini pertama kalinya ada murid yang ikut rapat dengan para gurunya di sekolah tersebut.
"Baiklah, kita mulai Rapatnya, mengingat Rendi juga sudah hadir di sini." ucap Pak Julianti membuka pembicaraan.
"Orang kaya baru, kami akan membuat organisasi untuk membantu para korban bencana, yang akhir-akhir ini menimpa negara kita, katanya kamu sudah banyak uang, coba kamu akan memberikan donasi pembuka berapa?" tanya Bu Wina guru yang membenci Rendi.
"Bu Wina! Jangan bicara seperti itu!" Bu Lina membela Rendi.
"Sudah, sudah, kalian ini kenapa malah berantem, tujuan kita untuk berbuat kebaikan, jangan di awali dengan keburukan." Pak Julianto menegur keduanya, ia kemudian menoleh ke arah Rendi, "maaf yah Ren, kami memang mau membuat organisasi yang seperti Bu Wina bilang, siapa tahu kamu akan menyumbang untuk membuka awal pergerakan sekolah kita."
Rendi tersenyum, ia tidak merasa tersinggung sama sekali dengan ucapan Bu Wina, karena ia ingin membalas ucapan Bu Wina yang kasar bukan dengan ucapan kasar lagi, melainkan dengan kenyataan.
__ADS_1
"Pak Julianto dan Bapak, Ibu guru yang ada di sini, tanpa mengurangi rasa hormat untuk kalian semua, saya akan menyumbang dua puluh juta rupiah dan saya juga ingin menyekolahkan satu tahun sepuluh murid tidak mampu ke dalam sekolah ini, saya harap kalian akan menerima permintaan saya." ucap Rendi dengan sopan.
Sontak semua guru yang ada di sana terkejut, mereka tidak menyangka sama sekali Rendi akan mengatakan kata-kata yang di luar perkiraan mereka.