Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Laris Manis


__ADS_3

Akhirnya Novi yang bingung, mau tidak mau ia menelpon Rendi, mau bagaimanapun ia harus berani menghadapi teguran orang tuanya bersama Rendi.


Novi menunggu panggilannya di angkat Rendi, ia menggigit kuku jarinya untuk bersiap bicara masalah Ayahnya dengan Rendi.


"Halo Nov, ada apa?" Rendi mengangkat panggilan Novi.


"Ren, a-nu ...." Novi tampak masih bingung.


"Ada apa Nov? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Rendi lagi.


Novi menghirup napas dalam-dalam, ia kemudian bicara setenang mungkin, "Ayahku ingin bicara denganmu, apa kamu bisa datang ke rumahku malam ini?"


"Oh ... Ayahmu sudah ada di rumah, oke, nanti malam aku datang ke rumahmu, ngomong-ngomong sudah dulu yah Nov, aku lagi bantu anak-anak menyiapkan pembukaan kedai, bye Nov." Rendi langsung mematikan ponselnya.


"Ren, tung ...." suara Novi tercekat saat Rendi mematikan ponselnya.


Novi mencoba menghubungi Rendi lagi, karena ia belum selesai bicara, tapi Rendi tidak mengangkat panggilan Novi hingga beberapa kali.


"Arghh! Angkat lagi dong Ren, aku belum selesai bicara!" gerutu Novi kesal.


Gadis itu akhirnya menyerah, setelah tiga kali menghubungi Rendi tapi tidak di angkat-angkat juga.


...***...


Sementara itu di tempat Rendi berada, ia sedang bersama Harisman dan yang lainnya, menata meja dan kursi, begitu juga gerobak dengan peralatan lainnya.


Karena Rendi menaruh ponselnya di tas, ia tidak mendengar jika ada panggilan dari Novi.


"Kaya gini cukup bos?" tanya Harisman yang sedang menggeser posisi gerobak bersama Sengkuni dan Samiun.

__ADS_1


"Ya, sudah cukup, aku rasa." jawab Rendi yang memerhatikan posisi gerobak tersebut.


Harisman dan yang lainnya kemudian menata kompor gas dan bahan-bahan yang akan di gunakan.


Setelah jam lima sore semuanya siap, baleho yang sudah di siapkan pun di pasang, di baleho tertulis Kedai Nasi Goreng sangar.


Karena yang jualan para mantan Preman, sebab itulah mereka sepakat memberikan nama nasi goreng mereka seperti itu.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu, ada sesuatu yang harus aku urus." pamit Rendi pada Harisman dan yang lainnya.


"Oke bos!" jawab mereka serempak.


"Ingat, pembeli adalah raja, layani mereka dengan baik!" perintah Rendi sebelum pergi.


"Siap Bos!" jawab mereka serempak lagi.


Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia mengambil tasnya yang ada di dalam ruko, kemudian langsung pulang.


Sontak saja Harisman dan yang lainnya terkejut, karena mereka tentu tidak menduga sama sekali.


"Wah, ternyata para pelayannya memang sangar tapi ramah." ucap salah satu pelanggan.


"Cocok sih nama kedainya." timpal pelanggan lainnya.


"Kamu benar, gimana rasa masakan mereka." pelanggan lainnya mulai penasaran dengan rasa masakan kedai tersebut.


Sengkuni dan Samiun yang mendapatkan tugas masak, mereka bergegas membuat pesanan pelanggan.


Ada sepuluh pelanggan awal yang datang, sehingga mereka cukup bekerja keras, tidak sampai di situ saja, para pelanggan terus berdatangan.

__ADS_1


Sengkuni dan Samiun tidak punya waktu untuk istirahat sama sekali, keringat mereka bercucuran dengan deras, tapi tentu mereka mengelapnya agar tidak jatuh ke masakan mereka.


Harisman dan yang lainnya juga ikut keteteran mencatat pesanan pelanggan, pasalnya pelanggan yang datang tidak masuk akal.


Jika ada orang yang curiga kalau kedai itu menggunakan jampi-jampi pasti semua orang memercayainya, karena baru buka sudah menarik pelanggan sebanyak itu.


Setelah jam tujuh, akhirnya pelanggan mulai berkurang, Sengkuni dan Samiun pun mulai bisa bergantian istirahat.


"Gila, capek banget aku!" Sengkuni menyalakan rokoknya beristirahat di depan ruko bersama Harisman.


"Aku juga capek, ini kedai baru kaya kedai lama saja, apa bos sudah naruh penglaris yah?" tanya lehor pongah.


"Hus! Jaga mulutmu Lehor! Bos tidak mungkin seperti itu, uangnya sudah banyak, walaupun kedai ini merugi juga tidak masalah buatnya." tegur Sengkuni keras.


"Bener kata Sengkuni, kalau bicara jangan asal ceplak, mau kamu di tabok Bos sampe tuli kaya Rudi?" ancam Harisman pada Lehor.


"Jangan nakut-nakutin dong bos, aku kan cuma bercanda." jawab Lehor ketakutan.


Mereka semua sudah tahu dengan kehebatan Rendi, tentu kejadian saat dulu Rendi membantai mereka semua tidak ingin mereka ulangi lagi.


Setelah ketiga orang itu selesai beristirahat, mereka pun bergantian dengan Samiun dan yang lainnya untuk istirahat.


...***...


Sementara itu Rendi sudah sampai di rumah Novi, ia sedang berdoa di motornya agar orang tua Rendi tidak galak dan mau menerimanya.


Mendengar suara motor Rendi, Novi keluar dari rumahnya untuk menyambut Rendi.


"Kamu kemana saja sih, aku telepon beberapa kali tidak di angkat!" baru juga keluar Novi sudah mengomel.

__ADS_1


Rendi mengerutkan keningnya, "kamu kenapa sih, Nov? Tiba-tiba ngomel-ngomel kaya gitu?"


Novi mau bicara lagi, tapi Ayahnya menegur, "Nov, suruh masuk tamunya dong!"


__ADS_2