Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Musuh Yang Mengakui


__ADS_3

Rendi kembali ke kelasnya, saat ia baru masuk kelas, terlihat Rudi yang sudah masuk ke kelas lagi dengan tangan kiri yang di gips dan di gendong menggunakan kain yang melingkar ke lehernya.


Telinga kanan Rudi juga terlihat di pasangi alat pendengar suara, Rendi yang melihat hal itu, ia sangat yakin kalau Rudi pasti tuli efek ia memukuli kepalanya dengan sangat keras.


Melihat kedatangan Rendi, Rudi hanya menunduk, ia tidak berani sama sekali menatap wajah Rendi, sikapnya yang dulu sangat ia sesalkan, jika saja ia tidak arogan, mungkin dirinya tidak akan seperti itu.


Rendi lewat di samping Rudi, karena tempat duduknya memang di belakang Rudi, ia berhenti saat di dekat Rudi.


"Sudah baikan kamu?" tanya Rendi ramah.


Rudi hanya menganggukkan kepalanya tanpa berani mendongak menatap Rendi, baginya Rendi adalah malaikat pencabut nyawa yang menyerupai manusia.


"Baguslah." ucap Rendi yang kembali jalan dan duduk di kursinya.


Teman-teman Rudi semuanya kebingungan, mereka yakin kalau Rudi sangat ketakutan dengan Rendi, tapi karena apa? semua teman Rudi bertanyalah dalam hati mereka masing-masing.


Tidak berselang lama, setelah Rendi duduk, Bu Lina masuk, ia langsung mengajar seperti biasanya. Rendi juga menyimak baik-baik pelajaran yang di berikan Bu Lina.


Saat jam pelajaran pertama sudah usai, Bu Lina menahan anak didiknya agar tidak keluar terlebih dahulu, karena ia akan memberikan pengumuman.


"Semuanya, Ibu mau memberikan kalian pengumuman sebentar, tolong kalian duduk dulu!" seru Bu Lina, sehingga anak-anak yang mau keluar istirahat kembali duduk.


"Sekolah kita akan melakukan penggalangan dana untuk korban bencana, apa di antara kalian ada yang mau menjadi sukarelawan?" tanya Bu Lina pada mereka semua.

__ADS_1


"Rendi saja Bu!" seorang Siswa buka suara.


"Iya Bu, Rendi saja!" timpal Siswa lainnya.


"Benar Bu, Rendi kan senang kalau di suruh-suruh!" teman lainnya ikut menunjuk Rendi.


Bu Lina terlihat tidak senang, masa iya Donatur terbesar di suruh untuk menjadi sukarelawan, seharusnya Rendi mendapatkan kehormatan lainnya.


Bu Lina mau bicara, tapi Rudi berdiri dan buka suara, "biar saya saja dan beberapa teman lainnya Bu, jangan Rendi."


Bu Lina mengernyitkan dahi, "tapi kamu masih sakit, Rudi."


"Tidak apa Bu, aku bisa kok, lagian nanti mereka membantu juga, iya kan?" Rudi memelototi teman yang biasa bersamanya.


Sontak mereka langsung menjawab dengan tegas, "iya Bu, kami akan membantu Rudi!" jawab mereka serempak.


Semua teman kelas Rendi tentu bingung, bisa-bisanya Rudi dan gengnya mau menggantikan Rendi dengan suka rela, padahal mereka biasanya yang membuly Rendi.


Rendi tersenyum melihat Rudi yang mau berbuat baik, ia menepuk bahunya dari belakang.


"Terimakasih."ucapnya ramah.


Rudi hanya mengangguk sambil tersenyum, ia tidak tahu lagi harus berekspresi seperti apa, yang ia pikirkan ingin membuat Rendi memaafkannya dan tidak membuatnya marah lagi.

__ADS_1


Setelah mencatat nama Rudi dan gengnya, ia pun pergi dari kelas tersebut, anak-anak juga berhamburan keluar untuk istirahat.


Rendi yang belum sarapan dari pagi, ia bergegas ke kantin dan seperti biasa memesan satu mangkok bakso dan dua lontong sebagai pengganjal perut.


Rendi sedang asyik memakan baksonya, tiba-tiba Rinto duduk di sebelahnya sambil membawa semangkok bakso juga.


"Sekarang sombong kamu Ren, mentang-mentang sudah sukses." celetuk Rinto saat baru duduk.


Rendi menoleh, ia tersenyum saat melihat Rinto, "eh ... kak Rinto."


"Ajak aku kerja di tempat kamu dong, biar aku bisa dapat gaji gede." ucapnya dengan sendu.


"Kerja dimana kak? Aku tidak punya pekerjaan yang cocok buat kak Rinto."


"Dimana saja boleh Ren, kalau bisa kerjaan malam hari, sehabis aku pulang dari sini, aku butuh tambahan, biar bisa nabung."


Rendi menghela napas, "nanti yah kak, aku sebenarnya ada, kedai nasi goreng, tapi baru mau buka malam ini, kalau nanti rame, aku ajak kak Rinto deh."


"Wah, bisa tuh, tapi jangan bohong Ren."


"Iya, iya, aku gak bakal bohong kok, nanti tunggu satu minggu lagi, gimana perkembangan kedai itu, kalau Rame nanti kakak bisa langsung masuk kerja." jawab Rendi mantap.


Rinto mengangguk setuju, ia yakin kalau Rendi tidak akan bohong, mengingat selama ini ia juga suka membantunya.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati pesanan mereka sambil sesekali bercanda. Sulis yang biasanya menghampiri Rendi, kali ini ia tidak terlihat sama sekali, mungkin karena belum bisa menerima kenyataan kalau Rendi lebih memilih Novi dari pada Sulis.


Rendi tidak ambil pusing, karena dari awal ia memang hanya menganggap Sulis sebagai saudarinya saja, jadi ia tidak pernah berfikir memberikan Sulis harapan atau apa, memang nyatanya ia hanya memberikan perasaannya pada Sulis sebatas keluarga.


__ADS_2