
Rendi benar-benar merasa bersalah, ia juga belum tahu harus memberikan Samiun kerjaan apa, tidak mungkin jika ia menyuruhnya kerja di toko baju.
Rendi menghela napas, "nanti aku beri kamu uang, aku belum tahu ada kerjaan yang cocok buatmu, kamu mau kan menunggu?"
"Bos, kalau di beri uang cuma-cuma aku gak maulah, begini-begini juga aku punya harga diri bos." jawab Samiun menolak tawaran Rendi.
"Memangnya keluargamu cukup di beri makan harga diri, atau harga dirimu bisa buat jajan adik-adik kamu?" tanya Rendi sambil menyeringai.
"Hehehe ... benar juga yah bos," jawabnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hais, kamu ini, sudah nanti aku ambil uang, setelah itu baru aku carikan kamu pekerjaan." ucap Rendi mantap.
"Kenapa kamu gak bukakan mereka kios apa gitu Ren?" celetuk Novi yang datang dari dapur sambil membawa makanan yang di masaknya bareng Sulis.
Rendi tersenyum, menurutnya ide Novi benar juga, di samping itu ia juga bisa mempekerjakan beberapa orang di kios tersebut.
"Tapi masalahnya, kita mau jualan apa?" Rendi memegang dagunya berpikir.
"Bos, kami kan sering nongkrong malam tuh, bagaimana kalau nasi goreng?" Samiun memberikan ide.
"Memang kamu bisa masak nasi goreng?" tanya Sulis yang baru keluar dari dapur sambil membawa peralatan makan.
__ADS_1
"Eits ... jangan salah Mbak bos, aku ini jago masak, bisalah buat nasi goreng, dan Sengkuni juga dia kebetulan pernah dagang nasi goreng juga, bos." ucap Samiun sangat yakin.
Rendi memikirkan matang-matang rencana yang di pikirkan Samiun, takutnya mereka bekerja hanya sesaat saja, padahal Rendi berharap mereka bisa menjadikan kerjaan tersebut, sebagai kerjaan tetap mereka.
"Sudah Ren, kalau kamu mau kasih mereka kerjaan, buatkan saja mereka tempat mangkal, atau suruh mereka mencari lokasi yang strategis sendiri." Novi memberikan saran.
"Sebenarnya kalau masalah itu mudah saja, yang aku takutkan mereka hanya main-main saja ingin berkerja." Rendi menatap Samiun dengan tajam.
Samiun mengerti maksud Rendi, ia buru-buru buka suara, "sumpah bos, aku benar-benar pengin berubah jadi orang baik-baik, bos Harisman juga sudah mengarahkan kita semua, hanya saja bos Harisman belum sepenuhnya mandiri, jadi dia tidak seperti anda yang bisa memberikan kami peluang untuk bekerja."
Jawaban Samiun membuat Rendi tersenyum lebar, jika bawahannya memiliki pemikiran seperti Samiun semua, tentu ia akan sangat senang, dengan begitu ia bisa membantu orang lain sekaligus menata hidup mereka ke arah yang lebih baik lagi.
"Sudah, sudah, kita bahas lagi nanti, kita makan dulu sebelum makanannya dingin," tegur Sulis yang dari tadi menyimak.
Novi mengambilkan nasi untuk Rendi, sementara Sulis yang mengambilkan lauknya, mereka berdua terlihat seperti istri Rendi saja.
Samiun yang ada di sana bagaikan kerbau dungu, ia melihat bosnya di layani kedua wanita cantik, sementara dirinya hanya memegangi piring kosong sambil mengayal bisa seperti Rendi.
"Ngapain bengong! Ayo makan!" tegur Rendi pada Samiun.
"Eh ... iya bos." jawab Samiun yang langsung menyendok nasi.
__ADS_1
Sulis dan Novi tahu apa yang ada di dalam pikiran Samiun, mereka berdua terkikik geli melihat bawahan Rendi yang begitu memprihatinkan.
"Enak yah jadi bos." celetuk Samiun dengan mulut penuh makanan.
Rendi mengerutkan keningnya, "Enak apanya?"
"Ya itu, mau makan saja ada yang ladenin, lah aku boro-boro di ladenin, ngambil sendiri juga kalau ada makanannya." jawab Samiun sambil menghela napas.
"Cari pasangan dong." ucap Novi.
Samiun menghela napas lagi, "semua usaha sudah aku lakukan Mbak bos, tapi ya itu, cewe sekarang nyarinya, kalau gak tajir ya tampan, lah aku, tampan tidak, tajir juga tidak."
Samiun memasang wajah sedih, ia merasa kalau hidupnya sangat tidak adil, padahal ia juga pengin bersama seorang wanita.
"Duh kasian, cup, cup, " ucap Novi prihatin.
"Jangan berkata seperti itu, semua pasti memiliki kekurangan dan kelebihan," ucap Rendi bijaksana.
"Iya, bos bisa bilang begitu karena bos memiliki keduanya, tampan dan kaya, kalau jadi aku, beuh ... bos pasti merasakan penderitaanku." jawab Samiun sedih.
Seketika Rendi langsung terkesiap dengan ucapan Samiun, karena ia juga dulu seperti Samiun, tidak ada yang mau dekat dengannya, Novi dan Sulis juga dekat dengannya saat ia sudah menjadi seperti sekarang.
__ADS_1
Rendi terlihat sedih, ia tahu betul bagaimana rasanya tidak memiliki seseorang yang bisa mengerti perasaannya, hari-harinya dulu benar-benar sangat kelam.