
Serangan demi serangan terus Rendi dapatkan, tubuhnya penuh dengan sayatan pisau dua pembunuh bayaran tersebut. Jika saja tidak ada regenerasi tubuh darahnya, mungkin Rendi sudah kehabisan banyak darah dan tewas di sana.
Rendi yang terpojok berpikir keras untuk bisa keluar dari bom asap tersebut. Tiba-tiba ia teringat dengan Sistem Spin yang belum di putarnya hari ini.
"Sistem! putar Spin untuk hari ini!" perintah Rendi sambil berharap dapat kemampuan yang berguna.
Layar hologram muncul, Sistem Spin berputar cepat di sela-sela Rendi menerima banyak serangan. Pria itu mencoba mengaktifkan kemampuan kamuflase. Namun, karena ia tidak bisa fokus, efek rasa sakit yang ia rasakan terus-menerus dari sayatan mereka. Kemampuan tersebut tidak mau aktif.
Rendi menggertakkan giginya, ia mencoba berlari ke sana kemari sambil menunggu Sistem berhenti berputar.
[ Selamat, Anda mendapatkan mata Dewa!]
Rendi tidak melihat layar hologram tersebut, karena fokus menghindar dari serangan kedua pembunuh bayaran tersebut.
Tiba-tiba matanya bersinar ke emasan, Rendi terkejut saat bisa melihat jelas sekitarnya. Walaupun asap tebal masih mengepul di sana.
"Kamu memang bisa di andalkan Sistem!" ucap Rendi sambil menyeringai.
Rendi melihat pergerakan dua pembunuh bayaran tersebut yang ternyata memakai alat deteksi hawa panas.
Rendi diam ditempat menunggu mereka berdua menyerang lagi.
Benar saja ketika mereka menyerang lagi, Rendi mengepalkan tangannya dengan erat. Tinju besinya bersiap untuk menghajar mereka berdua.
Swuz
Bang
Arghh
Duakk
Seorang pembunuh bayaran terkejut ketika Rendi bisa menghantamnya tepat di perut hingga terhempas dan menabrak dinding.
Rendi menghirup napas dalam-dalam, lukanya perlahan pulih. Ia melesat ke arah orang satunya.
Swuz
__ADS_1
Duak
Krak
Pyar
Kepala pembunuh bayaran yang sedang melesat menyerangnya langsung hancur ketika tinju besi Rendi dengan telak mengenainya.
Rendi menoleh ke orang satunya yang sedang berusaha untuk berdiri lagi. Dengan kecepatan supernya menghampiri orang tersebut langsung mencekik lehernya menempelkannya di dinding.
Pria tersebut mencoba untuk berontak, sayangnya Rendi cengkraman Rendi sangatlah kuat, sehingga ia hanya bisa menatap Rendi dengan ketakutan.
"Biar aku beritahu satu hal kepada kalian, aku tidak akan bisa dibunuh oleh orang-orang seperti kalian!"
Krak
Pral
Cengkraman Rendi sangatlah kuat, sehingga leher pria tersebut hancur, kepalanya lepas dari tubuhnya yang jatuh ke lantai. Darah menyembur keluar dari potongan lehernya.
Rendi menatap pria tersebut sambil menghela napas lega. Dari lawan-lawannya yang lain, mereka berdua yang memiliki perlawanan paling berasa.
Tiba-tiba saja sebuah peluru Basoka meluncur ke arahnya dengan kecepatan penuh.
Booommm
Teras rumah Malik hancur berantakan, asap tebal mengepul di tempat Rendi berdiri.
Tampak seorang pria botak yang mengapit rokok di bibirnya tersenyum penuh arti. Ia yakin kalau tubuh Rendi pasti sudah hancur berkeping.
"Cih, hanya cecunguk saja, tidak ada yang bisa mengalahkannya!" gerutunya menghina.
Clap
Arghhh
Hoekk
__ADS_1
Tiba-tiba terlihat sebuah tangan berwarna hitam menembus dadanya, pria itu langsung memuntahkannya seteguk darah. Ia menoleh kebelakang, matanya membelalak lebar ketika melihat Rendi yang menyeringai bagaikan Iblis di belakangnya.
Rendi menarik tangannya, tampak dada pria tersebut berlubang, sebelum akhirnya ia jatuh terkapar di tanah dan tewas.
"Tadi hampir saja," ucap Rendi sambil menghela napas lega.
Ketika berjalan keluar dari rumah. Rendi yang pandangannya bisa menembus dinding, ia sudah melihat ada orang yang mengincarnya. Sehingga ia bisa dengan mudah menghindari serangan tersebut dengan kecepatan supernya.
...***...
Sementara itu di bawah tanah, Mei Ning dan Malik tampak sedang terpojok di sebuah ruangan tempat tangan kanan Malik di sekap.
"Hahahaha... bagaimana bos? Apa kamu suka menjadi buronan?" tangan kanan Malik mengejeknya, walaupun ia tampak sudah babak belur.
Malik menggertakkan giginya. "Diamlah kau bodoh!"
Dor
Malik tanpa ampun langsung menembak kepala pria tersebut, hingga ia tewas seketika di sana.
"Nona Mei, jika kemungkinan terburuk terjadi, aku akan menahan mereka, anda pergilah selamatkan diri!" ucap Malik yang tampak sudah frustai.
"Tuan Malik, Rendi pasti akan datang menolong kita, percayalah!" tegur Mei Ning yakin.
Suara deru langkah kaki mulai terdengar. Mei Ning dan Malik langsung waspada, setelah semalaman suntuk bertarung, tentu saja mereka berdua yang masih manusia biasa merasa lelah, ditambah senjata mereka hanya tinggal beberapa peluru saja.
Mereka berdua menggenggam senjata mereka dengan erat sambil menodongkannya kearah pintu masuk ruangan tersebut.
Drrrt
Drrrt
Suara senapan sergap memberondong pintu masuk, mereka berdua langsung berlindung agar tidak terkena tembakkan tersebut di dinding dekat pintu. Namun, suara di luar tiba-tiba sunyi, sebelum akhirnya terdengar pintu hancur.
Brak
Pintu masuk ditendang hingga hancur. Malik mengangguk ke arah Mei Ning. Wanita itu yang tahu kode tersebut, ia juga bersiap.
__ADS_1
"Uraaaaaaa!" teriak Malik sambil menembakkan senapan sergapnya ke arah pintu yang hancur.
Mei Ning juga melakukan hal yang sama, mereka berdua memberondong ke arah pintu sampai peluru mereka habis.