
Rendi yang keluar dengan tubuh transparan. Ia menggunakan kecepatan supernya agar tidak terkena tembakan yang di lakukan pembunuh bayaran tersebut.
Peluru tembakan di mata Rendi sangatlah lambat, sehingga ia bisa menghindari dengan begitu mudahnya.
Rendi tersenyum sambil bergerak sangat cepat. Ketika ia sudah sampai di belakang orang tersebut, ia mencabut pemicu granat dan memasukkan ke celana pria itu.
Teman pria tersebut tentu saja terkejut ketika melihat Rendi ada di belakang rekannya itu.
"Sial, bagiamana bisa ada orang di belakang dia!" gerutunya sambil mengincar Rendi. Namun, sayangnya hanya dalam sekejap mata pria itu sudah menghilang dari sana.
Pria itu kembali terkejut, bersamaan dengan itu, Granat yang di taruh Rendi meledak.
Boooomm
Pria itu langsung hancur berkeping-keping, dagingnya berceceran kemana-mana, bersama dengan darahnya.
Rekan pria itu membelalakan mata lebar. "Brengsek! Sebenarnya apa lawan kami ini?!" gerutunya kesal sambil bergegas bersiap menjalankan mobilnya.
Tapi Rendi sudah ada di dalam mobil pria itu sambil menodongkan senjata di kepalanya. Sehingga pria tersebut menelan ludah dan mengangkat tangannya ke atas.
"Tu...."
__ADS_1
Dor
Timah panas menembus kepala pria itu, hingga ia tewas seketika di dalam mobil. Rendi menghela napas sambil menyenderkan tubuhnya di kursi mobil.
Pemuda itu melihat tangannya. "Sekarang aku menjadi seorang pembunuh sama seperti mereka. Apakah Sulis dan Novi masih mau menerimaku jika tahu aku sekarang seperti ini?" ucapnya tidak berdaya.
Rendi turun dari mobil, ia langsung mengambil ponsel barunya di saku untuk menghubungi Malik dan membereskan tempatnya. Namun, ketika ia sedang berjalan santai. Sebuah mobil dengan kecepatan penuh menabraknya.
Duak
Swuzzz
Rendi terhempas puluhan meter, kakinya patah, hampir seluruh tubuh di tulangnya patah karena tabrakan tersebut sangat keras.
Rendi menoleh ke arah Pria tersebut, tampak seorang pria cungkring dengan rokok yang ada di bibirnya itu mendekat dengan santainya.
"Cuma bocah ternyata," ucapnya meremehkan Rendi.
Rendi tersenyum kecut, walaupun ia yakin tidak akan mati jika di tembaki pria itu, tapi tetap saja ia bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa itu, di tambah kondisinya sekarang tidak bisa bergerak sama sekali.
Pria itu menginjak kepala Rendi sambil menodongkan senjayanya ke arah pria yang sudah tidak berdaya itu. "Hoi, Hoi, katanya kamu sangat kuat, tapi ternyata cuma seperti ini saja?" ejeknya sinis.
__ADS_1
Rendi hanya menggertakkan giginya, mau bagaimanapun ia hanya bisa menunggu sampai tubuhnya pulih kembali. Namun, saat pria itu mau menembakkan senjatanya.
Clap
Arghh
Suara teriakan tertahan terdengar dari pria tersebut, sebelum ia ambruk ke jalan di samping tubuh Rendi. Tampak bekas gorokan leher di pria itu.
Rendi melihat ada sebuah kaki seorang wanita, ia melihat wanita tersebut sambil menghela napas.
"Kenapa kamu mencariku?" ucap Rendi santai.
"Kamu ini bodoh yah! Sekarang kamu sudah seperti ini, apa kamu mau meninggalkanku begitu saja!" bentaknya sambil menaruh kepala Rendi di pangkuannya dengan air mata berlinangan di pipinya.
Rendi menatap wajah wanita itu yang tampak sangat bersedih sambil tersenyum. "Tidak perlu menangis, aku tidak apa-apa," ucapnya lembut.
"Tidak apa-apa, apanya? Kamu sudah sekarat seperti ini! Padahal kamu belum buat anak denganku," ucapnya sedih.
Rendi mengernyitkan dahi, bisa-bisanya di saat seperti itu masih memikirkan membuat anak. Agak lain memang wanita Rendi yang satu itu.
Rendi membiarkan Mei Ning menangisinya, sementara tubuhnya terus beregenerasi, hingga akhirnya sudah pulih kembali.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa," ucapnya seraya beranjak dari paha Mei Ning.
"Eh," Mei Ning sontak saja terkejut, ini pertama kalinya melihat hal seperti itu di depan matanya.