Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Pemikiran Dewasa


__ADS_3

Novi tahu Rendi pulang dari Jakarta, waktu ia kebetulan mau membeli nasi goreng sangar.


Samiun memberitahunya kalau Rendi sudah pulang. Tentu saja Novi bergegas ke rumah Rendi, karena saking rindunya dengan Rendi, ia tidak peduli siapa orang yang di dalam kontrakan dan langsung memeluknya, karena ia pikir itu Rendi.


...***...


"Bos, ini bukan salah saya bos, wanita ini memelukku tiba-tiba, sumpah bos!" tegas Hendri dengan raut wajah khawatir.


"Ren, aku tidak tahu, aku kira tadi dia kamu," tukasnya membela diri.


Rendi menghela napas. "aku tahu kalau kamu tidak salah Hendri, dan kamu Nov, lain kali liat dulu siapa orang yang akan kamu peluk!"


"Maaf Ren," jawab Novi sambil menundukkan kepalanya.


Sementara Hendri menghela napas lega, ternyata bosnya tidak memarahinya.


Rendi mengambil pakaian dan menggantinya di kamar mandi, setelah selesai baru ia keluar kembali dari kamar mandi.


Terlihat Novi yang tidak berani menatapnya, Rendi merasa bersalah karena telah sedikit membentaknya.


"Ayah dan Ibumu sudah pulang, Nov?" tanya Rendi lembut.


Novi menggelengkan kepalanya, "belum, mereka masih lama di Jakarta kayaknya, kalau kamu kenapa cepat pulang?"


"Kangen sama kamu," jawabnya sambil tersenyum simpul.


"Eh ... tadi kamu bilang apa, Ren?" tanya Novi memastikan dengan semangat.


"Tidak jadi." goda Rendi sambil menyeringai.


Benar saja Novi langsung mengerucutkan bibirnya, ia merajuk manja pada Rendi.

__ADS_1


Rendi tahu kalau Novi pasti akan merajuk, ia beranjak dari duduknya menghampiri Novi dan manangkup bibir Novi yang sedang menggunakan jarinya.


"Ini yang aku rindukan, tidak ada yang merujuk lagi di sana seperti kamu," ucapnya sambil tersenyum.


Novi melepaskan jari-jari Rendi yang ada di mulutnya, "apaan sih, ih ...."


"Kita beli makanan yuk, aku lapar!" ajak Rendi pada wanita yang ada di depannya itu.


Novi tersenyum, "ayo, kamu mau makan apa?"


"Apa sajalah, yang penting perut terisi."


Novi mengangguk mengerti, mereka berdua saling bergandengan tangan keluar dari kontrakan. Novi menyerahkan kunci motornya, siapa tahu Rendi mau pakai motornya, tapi prianya itu menolak.


"Kita naik mobil saja, kasihan Hendri juga belum makan, biar dia ikut," ucap Rendi lembut.


"Mobil? Kamu bawa mobil?" tanya Novi penasaran.


"Iya bos!" Hendri dengan sigap keluar dari kontrakan.


Mereka langsung ke mobil Rendi, sesampainya di mobil. Novi menelan ludah saat melihat mobil Rendi ternyata salah satu mobil mahal.


"I-Ini mobil kamu Ren?" tanyanya memastikan.


"Iya, ayo masuk!" Rendi membukakan pintu untuk Novi.


Novi hanya bisa mengangguk, ia tidak menyangka akan naik mobil Fortuner di kampung seperti itu.


Rendi juga bergegas masuk ke dalam mobil, ia memberitahu Hendri, untuk ke kedai nasi goreng yang waktu pulang mereka berhenti.


Hendri mengangguk mengerti, ia langsung menginjak pedal gas dan menunjuk kedai nasi goreng tersebut.

__ADS_1


Padahal sebenarnya Rendi tidak tega dengan Hendri, karena ia yakin kalau sopirnya itu capek setelah perjalanan jauh, tapi daripada ia di tinggal sendirian dalam kontrakan, lebih baik di ajak, untuk sekalian memperkenalkannya dengan Harisman dan yang lainnya.


...***...


Mereka bertiga sampai di kedai nasi goreng, tapi saat sampai di sana, tidak ada ruang sama sekali untuk duduk, karena tempat tersebut sangat penuh sesak dengan pelanggan yang mengantri.


"Gila, bisa seramai ini?" tanya Rendi tidak percaya.


"Ini belum apa-apa Ren, nanti jam setengah delapan, beuh ... ramainya sampai jalan ini macet!" celetuk Novi tidak berdaya.


"Astaga, sampai segitunya?"


"Iyah, aku saranin sih kamu cepat buat cabang, biar tidak mengganggu lalu lintas di sini."


Rendi mengangguk mengerti, ia harus bergegas membuat cabang baru, agar mereka juga tidak kewalahan melayani para pelanggan.


"Bos, apa kita akan pergi ke tempat lain?" tanya Hendri memastikan.


"Tidak perlu, kita tunggu saja di sini, kalau kamu mau, pergi mandi dulu di kontrakan, nanti baru kemari lagi." perintah Rendi pada bawahannya itu.


"Anu bos, saya lupa membawa pakaian ganti." ucap Hendri sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.


Rendi tersenyum getir, ia baru sadar kalau saat berangkat pulang ke kampung, ia sangat terburu-buru dan tidak memberitahu Hendri terlebih dahulu, karena itulah bawahannya itu pasti tidak bersiap-siap kalau ia akan menginap di kampung.


Rendi mengeluarkan dompetnya, ia memberikan uang tiga ratus ribu pada Hendri.


"Ambil itu, di dekat sini ada toko pakaian, jeans paling seratus lima puluhan harganya, kaos juga murah-murah tidak seperti Jakarta, kamu pilih saja sendiri, kalau uangnya kurang kamu pakai uangmu dulu, nanti aku ganti." ucap Rendi pada bawahannya itu.


"Terimakasih bos!" Hendri bergegas ke mobil dan mencari pakaian ganti untuk dirinya.


Novi yang melihat Rendi begitu perhatian dengan anak buahnya, ia semakin yakin dengan perasaanya pada Rendi, pada bawahannya saja ia perhatian, apa lagi nanti dengan istrinya, begitu kira-kira pemikiran wanita yang sudah cinta mati dengan Rendi.

__ADS_1


__ADS_2