
Rendi yang pergi berbelanja untuk keperluan membuka kedai nasi goreng, mereka sudah sampai di pasar. Karena hari sudah sore, jadi hanya tinggal beberapa kios saja yang masih buka.
"Di sana bos, kios kelontong yang masih buka." Samiun dengan semangat menunjuk sebuah Kios kelontong yang masih buka.
Rendi mengangguk, mereka langsung ke kios tersebut. Rendi menyerahkan ke Sengkuni dan Samiun untuk memilih wajan dan peralatan lainnya.
Novi juga ikut memilihkan piring yang menurutnya bagus, piring dengan gambar bunga-bunga kecil yang menghiasinya.
"Ini bagus Ren." Novi memerlihatkan piring tersebut pada Rendi.
"Mbak bos, ambil dua lusin saja untuk sementara." Samiun buka suara.
"Dikit amat, kalau nanti ada yang pecah ke tabrak ayam bagaimana?" Sengkuni menimpali.
"Benar juga yah," Samiun manggut-manggut mengerti, tiba-tiba ia teringat kalau tidak mungkin ada Ayam yang ke kedainya nanti."sontoloyo! Mana ada ayam di sana nanti!"
"Lah, kata siapa? Di tempat nasi goreng ada yang pake Ayam." jawab Sengkuni yakin.
"Sebenarnya kamu ngajak ribut atau gimana sih? Tadi bicara Ayam nabrak piring, sekarang nasi goreng pake Ayam? bilang maunya apa kamu!" Samiun menyingsing lengannya karena kesal dengan temannya itu.
Rendi dan Novi menggelengkan kepalanya, mereka benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dengan tingkah absurd bawahan Harisman.
"Lah, kalau nasi gorengnya ayamnya di taruh piring, berarti ayamnya nabrak piring dong, masa ayamnya lari, kamu gimana sih?" Sengkuni menggeleng-gelengkan kepalanya.
Samiun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "kamu benar juga yah, ini sebenarnya aku yang bodoh atau kamu sih?" tanya Samiun tidak berdaya.
__ADS_1
"Sudah, sudah, malah membicarakan ayam, ayo lanjutkan belanjanya, ini sudah sore loh, Miun kamu cari tukang becak di depan untuk membawa belanjaan kita nanti!" Rendi menegur keduanya.
"Baik bos!" Samiun bergegas ke depan pasar, mencari tukang becak yang masih mangkal.
Sementara itu Rendi, Novi dan Sengkuni kembali berbelanja, mereka membeli kompor gas, tabung gas, wajan, piring, penanak nasi dan masih banyak lagi, semua keperluan dagangan mereka di beli sekalian di sana.
Setelah semua peralatan sudah di beli, mereka beralih ke kios sembako, untuk membeli minyak goreng, telur, beras dan kebutuhan lainnya, Rendi memborong semuanya, ia hampir menghabiskan uang sepuluh juta untuk membeli semua keperluannya tersebut.
Setelah selesai mereka menghampiri Samiun dan Sengkuni yang sedang membantu tukang becak mengangkut barang belanjaan mereka. Ada dua tukang becak yang di boking Samiun, yang satu masih muda, dan yang satunya pria sepuh yang sudah ringkih.
"Ayo dong kek angkat." Samiun mengangkat beras satu karung dengan kakek tukang becak.
"Bentar dik, berat sangat ini." Kakek itu terlihat kesusahan membopongnya satu karung beras yang beratnya lima puluh kilo gram, walaupun sudah di bantu Samiun.
Samiun merasa geram dengan si Kakek, "awas Kek, biar aku saja!"
Samiun mengambil ancang-ancang, kakinya mengambil kuda-kuda dengan mantap, tangannya memegang ujung-ujung karung.
Rendi melihat Samiun yang dengan gagah mau mengangkat beras tersebut, ia merasa bangga dengan bawahannya itu, karena mau membantu si kakek tukang becak
Urat-urat di tangan Samiun menonjol keluar, begitupun kepalanya, terlihat ia menggunakan seluruh tenaga.
Broot!
Hembusan angin surga keluar dari pinggul Samiun yang montok, si kakek yang berada di belakang Samiun menganga lebar, bukannya kantung beras terangkat, malah angin surga yang keluar.
__ADS_1
Rendi dan Novi tertawa terbahak-bahak, mereka berdua benar-benar tidak menduga kalau Samiun ternyata sangat lemah, karena kantung berasnya tidak bergeser sedikitpun.
Samiun menoleh ke belakang sambil memegangi pantatnya, ia tersipu malu karena di tertawakan oleh Rendi dan Novi.
Sengkuni yang baru datang kebingungan, "bos kenapa, Miun?"
"Hehehe ... mereka baru melihat pertunjukan seniku." jawabnya enteng.
"Seni gundulmu, itu celanamu basah!" tegur si kakek tukang becak.
"Iyakah?" Samiun langsung mencium tangannya yang memegangi pantat tadi, wajah Samiun langsung berubah jelek, ia bergegas berlari ke toilet pasar.
Rendi semakin tertawa terpingkal-pingkal, sementara Sengkuni masih kebingungan, ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.
Sengkuni yang tubuhnya lebih kekar dari Samiun, ia dengan mudah mengangkat karung beras tersebut dan membawanya ke becak kakek tua itu.
"Ih ... sudah Ren." Novi mencubit pinggang Rendi yang masih tertawa, agar berhenti.
"A-du-duh, hahahaha .... maaf, maaf, Nov."
Novi hanya tersenyum simpul, ini pertama kalinya ia melihat Rendi tertawa lepas seperti itu, ia merasa hidupnya sangat berharga kalau melihat Rendi bisa sebahagia itu.
*M*udah-mudahan, kelak aku bisa selalu membuat kamu tertawa seperti ini Rendi.
Novi memantapkan tekadnya dalam hati, untuk bisa terus melihat Rendi bisa selalu seperti itu, walaupun entah kapan semua itu akan terjadi, yang pasti ia akan selalu berusaha membuat Rendi selalu bahagia.
__ADS_1
Setelah semuanya sudah di angkut ke dalam becak, mereka langsung menuju ruko yang di dapatkan Rendi dari Sistem Spin, mereka sekaligus mau menata tempat itu, agar besoknya bisa memesan meja, Kursi dan gerobak dengan pasti.