Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Dukungan Dari Walikota


__ADS_3

Selepas jalan dengan Novi, Rendi kembali ke kontrakannya. Hendri selalu siap kemanapun Rendi mau pergi.


Saat ia sampai di kontrakan, terlihat ada kerumunan warga di depan kontrakannya, sehingga membuat Rendi bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. Namun, karena ia lelah, Rendi tidak memerdulikan keramaian tersebut dan langsung masuk ke dalam kontrakan, dengan di bantu Hendri untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan bosnya itu.


Samar-samar Rendi mendengar panggilan warga pada Walikota tempatnya tinggal, tapi ia tidak menghiraukannya, karena Rendi pikir jika itu Walikota mungkin sedang blusukan melihat warganya.


"Bos, kampung bos kan sudah mulai di bangun nih, bos juga katanya mau mendaftar kuliah di Jakarta, kapan rencana bos pulang?" tanya Hendri sopan, saat mereka berdua sudah duduk di dalam kontrakan.


"Satu Minggu lagi aku di sini, nunggu ijazah aku yang belum jadi, setelah itu aku mungkin akan tinggal di Jakarta terus," jawab Rendi santai.


Setelah melakukan beberapa pertimbangan, Rendi akhirnya memutuskan untuk tinggal di Jakarta, ia sudah memiliki keinginan besar untuk mulai membuat bisnisnya lebih berkembang, apalagi status dia sudah menjadi pebisnis tersukses di Indonesia.


Terlihat wajah sumringah Hendri, ia akhirnya bisa kembali ke kota, dan menikmati kehidupan di sana lagi.


Saat mereka berdua sedang mengobrol, terdengar suara ketukan pintu yang membuat Rendi dan Hendri secara Reflek menoleh ke arah pintu.


"Bener ini kontrakan Mas Rendi?" ucap seorang pria paruh baya bersama dengan beberapa pengawalnya.

__ADS_1


Rendi mengangguk, ia menatap pria paruh baya tersebut dengan tidak percaya, karena ia tahu kalau orang itu walikotanya.


"Silahkan masuk Pak Bromo," ajak Rendi sopan.


Walikota tersenyum, ia mengangguk dan masuk ke dalam kontrakan Rendi kemudian duduk. Terlihat pria paruh baya itu menyapu pandangannya ke seluruh kontrakan, tidak ada barang mewah di sana, semuanya hanya ada barang-barang sederhana saja.


"Mas Rendi ternyata hidupnya sangat sederhana, padahal Mas Rendi punya segalanya," ucap Pak Bromo sopan.


"Bapak terlalu menganggap saya berlebihan, ngomong-ngomong ada maksud apa yah Bapak kemari?" tanya Rendi sopan.


Rendi mengangguk, ia menoleh ke Hendri, bawahannya itu langsung mengerti, beranjak dari duduknya dan meninggalkan mereka berdua. Pintu pun di tutup agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.


Setelah pintu sudah di tutup, tiba-tiba walikota itu bersujud di hadapan Rendi, sontak saja Rendi terkejut, ia bergegas menyuruh Walikotanya itu agar duduk dengan tegap kembali.


"Apa yang Bapak lakukan? Jangan seperti itu dengan sesama manusia Pak!" tegur Rendi lugas.


Pak Bromo menitihkan air matanya. "Maaf Mas Rendi, saya hanya bisa berbuat seperti ini untuk memohon bantuan Mas Rendi agar bisa membuat kota ini bersih dari orang-orang yang rakus dengan kekuasan, saya tidak bisa apa-apa melawan mereka, karena kebanyakan dari mereka punya bekingan kuat."

__ADS_1


Rendi mengernyitkan dahi. "Loh, kok Bapak minta tolong sama saya? Saya memangnya bisa apa? Bapak lihat sendiri saya hanyalah bocah yang belum lulus SMA, masalah seperti itu bukannya harus dengan pihak berwajib?"


"Mas Rendi, anda tentu tahu kondisi negara kita, sebagai seorang yang memiliki pemikiran luas seperti mas Rendi, saya yakin Mas Rendi pasti memiliki cara untuk membuat negeri ini maju, saya sudah mendengar tentang reformasi yang mas lakukan di kampung Karbal, karena itulah saya datang kemari," ucap Pria paruh baya itu dengan serius.


Rendi menghela napas. "Kalau sekelas desa saya masih bisa menanganinya, itu juga berkat bantuan warga yang kompak, kalau untuk pusat kota, sepertinya saya belum berani mencampuri urusan kalian."


Terlihat raut wajah kecewa Walikota, tapi Rendi kembali buka suara. "Jika Pak Bromo serius dengan niat Bapak, tunggu sampai saya benar-benar terlihat di semua kalangan masyarakat negeri ini, saya juga punya niat untuk memajukan negara ini, jadi Bapak fokus saja dengan pekerjaan Bapak, hindari sebisa mungkin pekerjaan kotor, percayalah tidak lama lagi saya juga akan membuat negara ini bangkit!"


wajah kecewa Walikota langsung berubah menjadi sumringah, walaupun Rendi tidak mau turun tangan sekarang, tapi setidaknya dia mau bergerak nanti, dengan jawaban itu saja sudah membuatnya sangat senang, karena akhirnya ada orang kuat yang akan membuat perubahan besar di negaranya.


"Baik Mas Rendi, saya akan menunggu hari itu tiba, percayalah di kota ini saya akan jadi orang pertama yang akan mendukung anda secara penuh!" ucap Pak Bromo penuh tekad.


Rendi tersenyum. "Saya memegang omongan Bapak, mari berjuang bersama, untuk sampai ke titik tersebut nantinya."


Pak Bromo mengangguk, ia kemudian bersalaman dengan Rendi dan menghapus air matanya yang daritadi berlinang. Kemudian pamit undur diri.


Rendi tidak tahu harus bilang apa, karena memang mimpinya juga ingin merubah tatanan negaranya menjadi lebih baik, tentunya tanpa embel-embel politik, ia akan menggunakan kekuatan dari Sistem Spin yang bisa memberi segalanya.

__ADS_1


__ADS_2