
Rendi melihat dua orang pembunuh bayaran yang tampak santai sekali, mereka duduk di meja makan sambil menatap Rendi dengan tatapan menghina.
Rendi menanggapinya dengan santai, ia juga ikut duduk bersama dengan kedua pembunuh bayaran tersebut, sambil memakan apel di mulutnya dan meletakkan air mineral di meja.
"Kalian pandai sekali datang di saat mereka sudah tumbang semua," ucapnya sambil mengunyah apel yang ia gigit.
"Makanlah yang kenyang sebelum mati di tangan kami," ucap salah satu pembunuh bayaran.
"Ah... terimakasih banyak, kalau begitu aku makan dulu tuan-tuan," jawabnya dengan senang hati.
Rendi mengupas pisang, ia melahapnya dengan santai. Dua pembunuh bayaran tidak berkata apa-apa, mereka hanya menyaksikan pria yang berlumuran darah itu sedang makan.
Hingga akhirnya Rendi selesai makan buah yang ia ambil dari kulkas. Ketika Rendi sedang minum, salah satu pembunuh bayaran langsung menodongkan Shotgun ke arah kepalanya.
Swuzz
"Bukankah bahaya menodongkan senjata di kepala orang?" tanya Rendi yang tiba-tiba ada di belakang pria tersebut sambil mencengkram lehernya.
Pria di sebelahnya dengan reaksi yang sangat cepat menghunuskan pisau ke arah Rendi. Sehingga ia terpaksa melepaskan cengkramannya dan sedikit menjauh dari kedua orang tersebut.
"Ternyata kamu data yang mereka berikan cukup Valid!"
Dor
Dor
Suara tembakan Shotgun terdengar menggema di ruangan tersebut. Rendi bergegas menghindarinya. Namun, pembunuh yang satunya sudah menebak pergerakannya, sehingga ia tergores pisaunya.
"Percuma saja kamu melawan, menyerahlah," ucap pembunuh yang membawa Shotgun.
Rendi menyeringai, ia memerlihatkan luka sayatan yang ada di tangannya kepada kedua pembunuh tersebut, ketika sedang beregenerasi.
Kedua pembunuh tersebut membelalakkan mata lebar, ternyata bukan hanya kecepatannya saja yang menjadi senjata, tapi ia juga bisa beregenerasi.
"Brengsek! Ternyata kamu seorang monster!" kedua pria itu langsung waspada seketika.
Mereka berdua sadar lawannya bukanlah manusia biasa, mengingat ia bisa meregenerasi tubuhnya layaknya manusia buatan saja.
__ADS_1
Dor
Dor
Suara Shotgun terus mengincar Rendi, tapi ia dapat menghindarinya dengan mudah. Pembunuh yang satunya mengeluarkan sebuah Katana panjang.
"Bersiaplah!" seru pria yang memegang Shotgun.
Pria yang tidak banyak bicara itu mengangguk, ia menggengam katananya dengan erat dan memerhatikan setiap langkah Rendi.
Pria yang menggunakan Shotgun, sengaja menggiring Rendi agar ke jalur serangan pria yang memegang Katana.
Benar saja ketika Rendi sudah di jalur serangannya, pria yang memegang Katana dengan cepat menebas Rendi.
Trang
Pria tersebut melesat dengan cepat, Rendi juga dengan sigap menahannya dengan tangan besi, sehingga Katan tersebut yang biasanya bisa memotong besi saja sampai patah.
Rendi merasakan sakit di tangannya, ternyata tangannya tersayat oleh katana tersebut. Ia tidak habis pikir ternyata tangan besinya bisa di sayat seperti itu.
"Yuzu Awas!" teriak pengguna Shotgun, ketika melihat Rendi melesat ke arah pria tersebut.
Yuzu baru saja menoleh, sebuah hantaman telak mengenai samping perutnya, karena ia mencoba menghindar.
Pral
Arghh
Samping perut Yuzu tertembus pukulan tangan besi Rendi hingga darah mengalir deras keluar dari sana.
Pria yang memegang Shotgun Tidka tinggal diam, ia menembaki Rendi agar rekannya tersebut menghindar dari sana.
Yuzu menghampiri rekannya sambil menelan sebuah pil penghilang rasa sakit, dengan satu tangannya yang memegangi samping perutnya agar darahnya tidak mengalir terus.
"Yuzu, kamu tidak apa-apa?" tanya Pria pemegang Shotgun, sambil mengeluarkan dua pisau yang ia sembunyikan di bajunya.
"Bagaimana? Apa kalian mau menyerah?" tanya Rendi sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Dasar monster!" pembunuh tersebut melesat menyerang Rendi menggunakan pisaunya.
Yuzu menggertakkan giginya, ia mengambil pisaunya juga dan menyerang bersamaan Rendi.
Rendi terus meladeni serangan demi serangan mereka berdua dengan santai. Kini perbedaan di antara mereka mulai terlihat.
"Sekarang Yuzu!" teriak salah satu di antara mereka.
Yuzu melemparkan Bom asap, seketika tempat tersebut di penuhi dengan asap tebal, keduanya yang memang sebenarnya asasin menggunakan cara tersebut untuk menghabisi Rendi.
Pandangan Rendi terbatas oleh asap tersebut, ia tidak mengira kalau masih ada trik yang di sembunyikan keduanya.
Swuz
Pral
Rendi terkena sayatan di dada, karena ia tidak menyadari kehadiran serangan tersebut.
Swuz
Pral
Pral
Rendi terus terkena serangan mereka berdua di tengah-tengah asap tebal yang menutupi jarak pandangannya.
"Brengsek, ada juga cara seperti ini, apa mereka meniru gaya ninja di televisi?" gerutu Rendi kesal.
Swuz
Pral
Terus menerus Rendi terkena serangan mereka berdua, pria itu mencoba keluar dari asap, tapi mereka berdua terus meledakkan bom asap kemana Rendi pergi sehingga pergerakan Rendi sangatlah terbatas.
Rendi tentu saja sedikit khawatir, walaupun ia bisa beregenerasi, tapi jika terus seperti itu, takutnya ia akan berakhir di sana.
Rendi berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan kedua orang pembunuh itu yang tidak bisa di kalahkan dengan mudah seperti pembunuh lainnya.
__ADS_1