Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Mei Ning tunduk Sepenuhnya


__ADS_3

Rendi melepaskan Mei Ning lagi, karena wanita itu bilang tahu tempat para mafia yang sedang ia cari, menurutnya tidak buruk juga membuat wanita itu menjadi bawahannya, setidaknya di sana nanti ada orang yang bisa ia suruh untuk mencari informasi.


Diluar kamar Rendi, para Pramugari berkumpul untuk mengobati luka Mei Ning.


"Mei, apa tuan Rendi bermain sekasar itu?" tanya salah satu rekannya sedih.


Mei Ning menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Bukan itu, aku yang melakukan kesalahan, karena ketika aku memasukkan ke mulut malah terkena gigi, sehingga beliau kesakitan, jadi beginilah."


"Astaga, kamu belum mahir melakukan itu? Kenapa tidak tanya aku dulu," ucap seorang Pramugari dengan gunung kembar jumbo.


Mei Ning tersenyum kecut, padahal ia berbohong, tapi malah di tanggapi serius oleh rekan-rekan pramugarinya.


Mei Ning pun di ajari oleh mereka semua bagaimana caranya melakukan dengan halus. Pembunuh bayaran tersebut tentu saja terkejut, ia tidak pernah menyangka kalau mereka semua ternyata sudah ahli dalam hal seperti itu.


Wanita itu merasa insecure, karena selama ini ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun, mentok-mentok kalau sudah tidak tahan ia melakukannya dengan jarinya sendiri. Sehingga ia merasa seperti bocah di hadapan para seniornya.


...***...


Setelah satu jam setengah penerbangan, Pesawat yang di naiki Rendi mendarat di bandara Singapura.


"Kamu ikut aku!" Rendi menunjuk Mei Ning, sebenarnya itu hanya untuk menyamarkan keberadaan saja.


Rekan-rekan Pramugarinya menyemangati Mei Ning, agar ia tidak melakukan kesalahan lagi. Wanita itu hanya tersenyum getir, karena sudah banyak sekali di ajari mereka semua tentang memuaskan seorang pria kaya, tentunya dengan berbagai gaya favorit.

__ADS_1


"Jangan lupa pakaian pemberianku kamu gunakan!" seorang pramugari berteriak.


Mei Ning hanya mengangguk, pura-pura bodoh, karena ia tahu Rendi tidak mungkin akan melakukan dengan dirinya, yang ada ia bakal tewas kalau berani bertindak seperti itu lagi.


Mobil jemputan Rendi sudah menunggu, karena maskapai penerbangannya sudah menelpon orang di sana untuk menyiapkan mobil jemputan dan membawa Rendi ke salah satu Apartemen terbaik di sana.


Rendi dan Mei Ning naik mobil yang sama, tampak wanita itu tidak genit lagi, ia sepanjang jalan hanya diam tanpa berbicara satu patah katapun.


Rendi mengulas sebuah senyum, ternyata wanita binal itu mau juga menuruti perintahnya.


...***...


Mereka sampai di apartemen yang di maksud, sopir memberikan sebuah kunci dan nomor apartemen kepada Rendi.


Mereka berdua masuk apartemen, tampak seragam Mei Ning di lumuri darah, karena daritadi ia yang membawa koper, sehingga lukanya yang sudah di balut kembali terbuka.


Mei Ning membereskan pakaian Rendi terlebih dahulu, sementara tuannya itu langsung pergi ke kamar mandi. Setelah selesai membereskan pakaian, ia bergegas mencari kotak P3K untuk mengganti perban dan mengobati lukanya kembali di sofa.


Wanita itu tampak kesulitan membalut kan perban ke belakang setelah mengobati lukanya.


Tiba-tiba Rendi meraih perban yang ia pegang dan membantunya membalutkan perban tersebut.


"Istirahat, jangan berbuat yang aneh-aneh lagi!" perintah Rendi datar.

__ADS_1


Mei Ning mengangguk lirih, ia berdiri mau menghampiri tempat tidur, tapi Rendi mencekal lengannya.


"Mau kemana kamu? Istirahat di situ!" perintah Rendi sambil menunjuk sofa panjang.


Wanita itu jelas saja tertegun, ia tidak menyangka kalau Rendi sekarang begitu dingin tidak seperti pertemuan pertamanya dulu. Namun, ia tidak bisa protes dan hanya bisa menuruti perintah pria yang sekarang sudah menjadi tuannya itu.


Kenapa jadi begini? Apa ini sifat aslinya? Sial, padahal aku pikir dia bakal kaya dulu!


Mei Ning menggerutu di dalam hati, mau bagaimanapun ia sebenarnya berharap bisa bersama Rendi, karena itulah ia juga melakukan seleksi ketat pramugari, tidak tahunya ia malah akan di perlakukan seperti itu.


Rendi duduk di tempat tidurnya, ia membuka Laptop yang sudah di siapkan dari rumah, dengan kemampuan Hackernya, Rendi dengan sangat cepat menemukan data-data orang yang akan ia incar.


"Mei, aku akan melepaskan mu nanti, kalau kamu sudah membunuh dua puluh orang yang aku tetapkan! Apa kamu mengerti?" tanya Rendi.


"Ya, terserah tuan saja, aku akan mengikutinya," jawab Mei Ning malas sambil rebahan di sofa.


"Tumben kamu gak kaya dulu? Ternyata pembunuh sepertimu masih punya rasa takut juga?" goda Rendi.


"Terserah tuan mau bilang apa!" ucap Mei Ning ketus, membalik badannya membelakangi Rendi.


Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, ternyata asyik juga menggoda pembunuh bayaran itu.


Awalnya ia hanya mau menjadikannya sebagai pencari informasi, tapi mengingat Mei Ning seorang pembunuh bayaran, Rendi pikir tidak salah menggunakan wanita itu sebagai senjatanya.

__ADS_1


__ADS_2