Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Membantu Sesama


__ADS_3

Rendi menyuruh Rohis menurunkan belanjaan yang tadi mereka beli di Minimarket.


Ronal bergegas membuka pintu dengan semangat dan menarik tangan Rendi untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


Saat Rendi masuk, air matanya tanpa terasa langsung menetes, terlihat wanita paruh baya yang sedang terbaring lemah di lantai yang hanya beralaskan tikar lusuh.


Seorang bocah berumur dua tahun ada di sebelahnya sedang memainkan mobil-mobilan yang bannya sudah copot.


"Bu, Ronal pulang! Mas Rendi ingin bertemu Ibu!" ucap bocah tersebut menghampiri Ibunya dan mencium tangannya.


Wanita paruh baya itu mau duduk untuk menyambut Rendi, tapi Rendi bergegas untuk menahannya, agar ia berbaring saja.


"Ibu istirahat saja, aku gak papa bicara sambil Ibu berbaring," ucap Rendi lembut sambil menghapus air matanya.


Ia tahu betul bagaimana rasanya menjadi mereka, karena kurang lebih dulu dirinya pernah merasakan hal yang sama.


Hidup dengan serba kekurangan, uang juga tidak punya, membuat Rendi semakin merasakan sakit dalam hatinya.


Ternyata begitu banyak orang yang lebih menderitanya sepertinya, contohnya keluarga Ronal.


Bocah tujuh tahun itu mengambil air galon untuk Rendi di gelas bekas. Tanpa ragu Rendi langsung meminum air tersebut sampai tandas, tenggorokannya memang dari tadi tercekat karena melihat penderitaan mereka.

__ADS_1


"Maaf yah Mas, di sini cuma ada air putih," ucap wanita paruh baya itu dengan suara parau.


"Tidak apa Bu, ngomong-ngomong Ibu sakit apa? Sudah ke dokter belum?" tanya Rendi memastikan.


"Saya tidak apa-apa Mas, paling cuma magh saya kambuh, nanti juga sembuh sendiri," ucapnya masih dengan suara parau.


"Bos, ini taruh dimana?" tanya Rohis yang membawa barang belanjaannya.


"Bawa masuk Rohis, sekalian kamu bisa masak nasi gak? Kalau bisa masak nasi dan telur, buat Ibu ini makan!" perintah Rendi lugas.


Ibu Ronal terkejut, ia tidak menyangka kalau Ronal membawa seorang dermawan ke gubuknya itu.


"Tidak perlu Mas," ucap wanita paruh baya itu lagi.


"Oke Mas Rendi, mari Om masuk!" ajak Ronal sopan.


Rohis masuk ke dalam, ia memang bisa masak nasi, dengan bantuan Ronal di dapur kumuh itu, Rohis menanak nasi dan menggoreng telur.


Ronal terlihat bersemangat, sudah lama ia tidak makan nasi banyak, bocah itu berharap bisa makan kenyang malam ini.


Setelah nasi sudah matang, Rohis membawanya keluar dengan telor dadar yang tadi ia goreng tentunya. Ronal membawa piring ke depan. Sementara Rendi membantu Ibu itu untuk bersandar di sebuah tanggul kali yang menjadi sebagian dinding gubuk tersebut.

__ADS_1


Rendi Dengan telaten menyuapi Ibu tersebut, ia melakukannya penuh dengan kasih sayang, tidak ada rasa jijik atau apapun di benak Rendi.


Sementara Rohis membuatkan susu untuk adik Ronal, ia juga bermain bersamanya, bocah dua tahun itu terlihat sangat senang bisa bermain dan minum susu dengan Rohis.


Setelah mereka sudah selesai, Rendi menyuruh Rohis untuk membereskan peralatan makan.


"Bu, besok kalian pindah yah, Nanti aku akan Carikan rumah yang layak untuk kalian," ucap Rendi lembut.


"Tapi Mas...."


Rendi menggelengkan kepalanya. "Anggap saja ini rejeki dari Tuhan untuk Ibu, besok kita akan pindah, agar Ibu dan dua anak Ibu bisa hidup dengan layak, aku juga nanti buatkan usaha untuk Ibu!"


Rendi kekeh akan memberikan mereka tempat tinggal, walaupun Ibu Ronal berusaha menolak. Ia tidak tega melihat keluarga tersebut hidup seperti itu, apa lagi Ayah Ronal ternyata sudah meninggal saat adiknya baru berusia tiga bulan karena tabrak lari.


Tentu Rendi tidak akan membiarkan keluarga tersebut terus hidup seperti itu. Malam itu juga Rendi menelpon asistennya, yang sudah memberikan nomor padanya lewat pesan WA.


"Kamu cepat hubungi siapapun untuk mencarikan rumah siap huni, agar besok bisa langsung di tempati!" ucap Rendi singkat dan langsung mematikan teleponnya.


Sasa terbengong di tempatnya, hari sudah malam dan dia harus menyiapkan rumah untuk bisa di tinggali besok.


"Argh! Baru saja aku bekerja dengannya, tapi sudah membuat perintah seperti ini!" gerutu Sasa di kontrakannya.

__ADS_1


Namun, Sasa berusaha sebaik mungkin, ia bergegas menghubungi koneksinya untuk mencari rumah tersebut.


__ADS_2