
Rendi yang sudah beristirahat, ia kemudian membersihkan diri dan pergi ke luar rumah, ia membiarkan kedua orang tua Novi di rumahnya begitu saja.
"Sebastian!" panggil Rendi pada kepala pelayannya itu saat berjalan keluar rumah.
Dengan tergopoh-gopoh, Sebastian menghampiri Rendi yang sedang berjalan keluar rumah.
"Tuan memanggil saya?" tanya Sebastian sopan, sambil mengikuti Rendi.
"Ya, aku mau jalan-jalan sore, bisa suruh sopir untuk mengantar aku berkeliling?"
"Tentu saja Tuan!"
Sebastian bergegas berlari ke garasi, di sana terlihat Hendri dan Rohis yang sedang bermain catur, yang merupakan dua sopir pribadi Rendi.
"Hendri! Siapkan mobil, Tuan mau pergi jalan-jalan!" perintah Sebastian tegas.
Seketika kedua Sopir tersebut langsung bergegas berdiri. "baik Pak Sebas!" jawab Hendri yang langsung menyiapkan mobil.
Sementara itu Rohis membereskan catur yang mereka gunakan dan mendekat ke arah Sebastian yang masih berdiri di tempatnya.
"Pak Sebas, apa tuan akan tinggal di sini terus?" tanyanya sopan.
"Entahlah, untuk beberapa hari mungkin beliau akan di sini, kita lihat saja nanti, ingat kalian harus selalu siap, saat tuan ada di sini!" ucap Sebastian tegas.
"Siap Pak! Kami juga sudah bosan, tiap hari cuma lap dan manasin mobil saja." jawab Rohis tidak berdaya.
__ADS_1
Sebastian menggelengkan kepalanya, ia juga merasa tidak enak kalau Rendi tidak tinggal di rumah itu, pasalnya gaji mereka cukup besar untuk ukuran seorang pelayan, tapi kerjaan mereka cuma banyak malas-malasan, karena tidak ada yang harus mereka lakukan setelah semua pekerjaannya selesai.
Mobil Fortuner GR Sport berwarna putih, keluar dari garasi. Hendri langsung mengemudikan mobilnya ke
depan rumah tempat Rendi menunggu.
Saat sampai di depan rumah, Hendri langsung turun dan membukakan pintu untuk Rendi.
"Silahkan tuan." ucapnya sopan.
Rendi mengangguk, ia kemudian masuk ke dalam mobil tersebut. bocah SMA tersebut tidak pernah menyangka kalau ia juga akan di berikan mobil juga di rumah itu. Rendi tidak tahu saja, masih ada tiga Mobil lagi yang ada di garasi rumahnya, tidak termasuk mobil Suroto.
Jenis Mobil yang ada di garasi Rendi bukan mobil sembarangan, semuanya mobil mahal dan mewah, dua mobil Fortuner dengan warna hitam dan Putih, satu buah Ferrari dan satunya Lamborghini. Jika Rendi tahu hal tersebut mungkin ia juga akan terkejut, pasalnya rumahnya saja seharga puluhan milyar di tambah harga mobilnya yang di atas lima ratus juta, tentu itu semua di luar ekspektasi Rendi, karena biasanya Sistem hanya memberikan sebuah barang saja.
...***...
"Tempat nongkrong anak muda yang nyaman, apa kamu punya rekomendasi?" Rendi balik bertanya pada sopirnya.
Hendri bingung, tapi seketika ia teringat dengan Garden PIM, di sana banyak kafe dan anak muda yang nongkrong.
"Garden PIM, apa anda mau kesana?" tanya Hendri lagi.
"Oke, kita coba kesana." jawab Rendi sambil membalas pesan dari kedua gadis yang ia tinggalkan di kampung.
Hendri mengangguk mengerti, ia melakukan mobilnya ke Garden PIM, tanpa bertanya lagi pada Rendi, karena bosnya terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil Rendi sudah sampai di Garden PIM, seperti biasa Hendri bergegas membukakan pintu untuk Rendi.
Rendi keluar dari mobil, ia yang sudah memiliki pikiran yang cerdas, tentu penampilannya sekarang berubah drastis, gaya pakaiannya juga mengikuti trend masa kini, apa lagi di kamarnya begitu banyak baju trendi yang tersedia di lemarinya.
Bisa di katakan Rendi terlihat sangat tampan dengan pakaian tersebut, ia sudah bukan pemuda desa lagi yang selalu berpenampilan apa adanya.
Hendri dengan patuh mengikuti Rendi, di samping ia sopir, tapi ia juga seorang bodyguard, jadi ia akan tetap mengikuti Rendi kemanapun.
Rendi melihat Kafe yang banyak muda-mudi nongkrong di sana, ia pun langsung ke sana dan duduk, sementara Hendri berdiri di belakang Rendi.
Tentu saja hal tersebut menarik perhatian para muda-mudi di sana, terlebih para wanita yang menatap Rendi dengan penasaran.
"Kenapa kamu berdiri terus, duduk bersamaku sini!" tegur Rendi pada Hendri.
"Tidak tuan, terimakasih." jawab Hendri ya g bergeming di tempatnya.
Rendi menghela napas, sekarang ia tahu kenapa di TV-TV para bodyguard tidak mau duduk dengan bosnya, mereka takut menghancurkan wibawa bosnya.
"Mas, mau pesan apa?" seorang pelayan wanita mendekati Rendi.
"Menu rekomendasi di sini." jawab Rendi singkat.
"Baik, tolong tunggu sebentar Mas." pelayan tersebut terlihat sangat ramah.
Rendi mengangguk, ia kembali fokus dengan ponselnya, karena kedua gadis yang ada di kampung terus-menerus berkirim pesan dengannya.
__ADS_1
Dari meja lain sekelompok wanita yang sedang nongkrong di kafe tersebut juga, mereka semua menatap Rendi dengan wajah berbinar.