
Beberapa hari telah berlalu. Sulis belum juga terbangun dari komanya.
Rendi masih setia menjaga gadis itu setiap hari, ia bahkan mengusulkan untuk menikahi Sulis yang sedang koma.
Pak Kosim merasa senang dengan tawaran Rendi, karena pria tersebut memiliki komitmen. Namun, Pak Kosim tidak merestuinya, mengingat ia juga tidak ingin mengorbankan masa depan Rendi, apa lagi di Negaranya Rendi sudah dikenal sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan negerinya dari kehancuran.
Rendi ingin menikahi Sulis untuk menepati janjinya. Ia menyiapkan kemungkinan terburuk jika sampai Sulis meninggalkannya.
Rendi tampak sedang tertidur di samping Sulis sambil duduk. Tiba-tiba tangan Sulis bergerak, matanya perlahan terbuka.
Gadis itu tampak kebingungan, ia berusaha melepaskan alat bantu pernapasan yang menutupi mulutnya.
Sulis mencari-cari orang yang ada di sana, hingga ia melihat Rendi yang sedang tertidur di sampingnya.
"Ren...." panggilnya lirih dengan suara parau. Namun, pria itu masih tetap terlelap.
Sulis mengulurkan tangannya, hingga meraih kepala Rendi dan mengusapnya. Gadis itu tersenyum melihat pria yang ia cintai ada di sampingnya.
Rendi yang merasakan ada tangan yang menyentuh kepalanya, ia terbangun memegang tangan tersebut. Pria itu terkejut ketika melihat tangan Sulis, ia langsung menoleh melihat ke arah gadis yang di jaganya beberapa hari ini.
"Sayang, kamu sudah bangun? syukurlah...." Rendi tidak tahan untuk tidak menggenggam tangan Sulis dan mengecupnya sambil menitihkan air mata. Ia mendekat ke wajah Sulis mengusap-usap puncak kepalanya kemudian mengecup keningnya.
"Ren, kamu terlihat sangat kurus," ucapnya lirih.
Rendi menghapus air matanya, ia memaksakan sebuah senyum. "Kata siapa? Aku masih seperti dulu," jawabnya menahan tangis haru.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Sulis lembut.
"Sudah sepuluh hari, tapi tidak apa-apa, sekarang kamu baik-baik saja," jawab Rendi sambil tersenyum dan tidak henti-hentinya mengecup tangan gadis itu yang ada di genggamannya.
__ADS_1
Sulis cukup terkejut ketika mengetahui dirinya telah jatuh pingsan selama sepuluh hari, artinya ia koma cukup lama.
"Ren, aku haus," ucap Sulis lembut.
"sebentar." Rendi mengambilkan air minum, ia membantu Sulis untuk minum air tersebut.
"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar yah, aku panggil dokter dulu," ucap Rendi lembut.
Sulis menganggukkan kepalanya, Rendi tersenyum dan meninggalkan gadis itu sendirian.
Ketika Rendi keluar dari ruangan Sulis, kebetulan Pak Kosim dan Istrinya sudah kembali dari membeli sarapan.
"Ren, kamu mau kemana?" tanya Pak Kosim lembut.
Rendi tersenyum. "Sulis sudah sadar Pak, aku mau memanggil dokter dulu," jawabnya bersemangat.
"Sulis sadar?" tanya Pak Kosim tidak percaya.
Pak Kosim dan Istrinya saling menatap, sebelum akhirnya mereka bergegas masuk kedalam ruangan tempat Sulis di rawat.
Ketika mereka masuk, benar saja Sulis tampak sedang menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Nak, kamu sudah bangun? Syukurlah...." ucap Ibu Sulis yang langsung menghambur memeluknya.
Pak Kosim juga tidak bisa menahan tangis bahagianya, akhirnya setelah sepuluh hari Sulis koma, ia terbangun juga.
Sulis juga tidak bisa menahan tangisnya, keluarga tersebut sama-sama menangis bahagia.
Tidak berselang lama Rendi dan dokter yang terus mengecek kondisi Sulis datang. Ia mengecek semua kondisi tubuh Sulis, tapi ketika Sulis di suruh menggerakkan kakinya, gadis itu tampak tidak merasakan apa-apa.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan kakiku dok? Kenapa aku tidak bisa menggerakkannya?" tanya Sulis khawatir.
Dokter menghela napas. "Nona Sulis, peluru yang ditembakkan ke anda, tepat mengenai tulang ekor anda. Namun, kami akan memeriksa lebih lanjut mengenai hal ini, anda tidak perlu cemas terlebih dahulu," ucapnya lembut.
"Dok, Sulis pasti bisa berjalan lagi kan?" Rendi tahu kalau cidera tulang ekor tidak bisa dianggap remeh, karena bisa jadi Sulis akan lumpuh jika cideranya fatal.
"Lebih baik kalian berdoa saja, agar cidera Nona Sulis tidak parah, jadi nantinya kita bisa melakukan terapi. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter seraya meninggalkan tempat tersebut.
Sulis tampak sedih, ia tahu kalau cideranya parah, mengingat waktu terkena tembakkan dirinya merasakan sakit yang luar biasa.
Gadis itu langsung menangis, ia tidak bisa menerima kenyataan jika nantinya akan lumpuh, semua mimpi indahnya ketika hidup dengan Rendi bisa sirna, karena ia tidak akan bisa melayani Rendi lagi.
"Sayang kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Rendi sambil menghapus air mata Sulis.
"Ren, aku gak mau lumpuh, a-aku ingin hidup bahagia bersama kamu Ren, aku gak mau lumpuh!" tangis Sulis pecah.
Rendi langsung memeluknya. "Kamu tidak akan lumpuh sayang, tadi dokter juga bilang nanti bisa dilakukan terapi," ucapnya sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Benar kata Rendi, kamu harus tetap kuat! Kamu pasti bisa berjalan lagi!" timpal Pak Kosim mencoba memberikan semangat.
Sayangnya Sulis bukanlah orang yang bodoh, ia tahu cidera tulang ekor sangatlah mungkin untuk mengalami kelumpuhan.
Gadis itu terus menangis diperlukan Rendi. Membuat perasaannya sangat sakit, ia tidak bisa melihat Sulis terus seperti itu.
Pak Kosim yang tidak bisa membendung air matanya, mereka lebih memilih keluar dan menangis di luar. Mereka tidak mau memperkeruh keadaan, membiarkan Sulis tenang dulu bersama Rendi.
Hingga akhirnya beberapa jam berlalu, Sulis yang masih lemah dan masih terkena efek obat yang ia minum, akhirnya terlelap kembali.
Bersamaan dengan itu hasil pemeriksaan Sulis keluar dan benar saja, wanita itu di pastikan lumpuh total, karena saraf tulang ekornya rusak. Kemungkinan untuk gadis itu sembuh tidak ada.
__ADS_1
Dokter menyarankan agar mereka selalu bersama Sulis untuk menghiburnya, sampai gadis tersebut menerima kenyataan kalau dirinya sudah tidak bisa berjalan lagi.