Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Malik Ibrohim


__ADS_3

Rendi menyuruh salah satu orang yang akan membimbing para tunawisma tersebut untuk kusus memerhatikan Maulida dan Meli, adik kakak tunawisma yang tadi Rendi ajak bicara.


Setelah melihat mereka semua sudah mendapatkan rumah masing-masing, Rendi pamit undur diri kepada para tunawisma tersebut, dan ia menyerahkannya ke orang-orang yang akan membimbing mereka semua.


Maulida dan Meli paling bersemangat melambaikan tangan kepada Rendi, ketika pria itu naik mobil dan pergi dari sana.


Rendi menghela napas lega di dalam mobilnya, setidaknya ia akan mengubah wilayah tersebut dahulu agar menjadi lebih baik, sebelum merubah wilayah lainnya.


Ponsel Rendi tiba-tiba berdering, ia melihat ternyata Novi yang menelponnya. "Ada apa Nov?" tanya Rendi langsung.


"Pulang kampus aku boleh main ke rumah kamu gak?" tanya Novi di seberang telepon.


"Boleh, tapi aku pulang sore kayaknya, masih banyak urusan."


"Tidak apa, aku juga pulang sore, nanti aku hubungin lagi deh."


"Oke," jawabnya sambil menutup panggilannya.


"Rohis, kita ke panti asuhan Mutiara Bunda!" perintah Rendi kepada bawahannya itu.


"Baik bos."


Rendi memang memiliki janji dengan seseorang di panti asuhan tersebut.

__ADS_1


Orang itu merupakan salah satu pengusaha sukses juga dari Jakarta. Sebenarnya ia bingung kenapa orang itu mengajak ketemuan dengannya di tempat tersebut. Biasanya orang-orang penting seperti itu akan minta ketemuan di Kafe ataupun Restoran.


...***...


Rendi dan Rohis sampai di panti asuhan Mutiara Bunda. Ia turun dari mobil dan melihat panti asuhan yang cukup bagus, banyak juga anak-anak yang tinggal di sana.


Pria yang baru genap delapan belas tahun itu kemudian melihat seorang pria paruh baya yang sedang bermain dengan anak-anak.


Rendi menghampiri pria tersebut dengan santai. Pria itu tersenyum ketika melihat Rendi, ia menyuruh anak-anak agar meninggalkan mereka berdua terlebih dulu.


"Tuan Murdianto, terimakasih sudah mau menemui saya di sini," ucapnya sopan sambil mengulurkan tangannya.


Rendi menyambut uluran tangan pria tersebut. "Selama itu untuk perubahan bangsa ini, kenapa tidak, Tuan Malik."


Malik tersenyum, ia menyuruh Rendi duduk di kursi panjang yang ada di sana.


"Negeri ini sudah semakin terbelakang dari tetangga, anak-anak yang harusnya bisa bahagia dengan kedua orang tuanya malah berakhir di tempat seperti ini, entah karena mereka tidak bisa menghidupi anak mereka, atau karena hanya kesenangan semata," ucap Pria itu tiba-tiba.


Rendi menghela napas. "Begitulah kenyataan yang sekarang sedang kita jalani."


"Yah anda tepat sekali, tapi aku beranggapan kalau negara ini bisa memberikan harapan kepada rakyatnya, aku yakin semua ini tidak akan terjadi, ya walaupun ada bisa di pastikan akan sangat minim." jawabnya yakin.


"Jadi, apakah kamu punya ide untuk menyelesaikan semua ini?" tanya Rendi memastikan.

__ADS_1


"Hanya ada satu cara untuk merubah negeri ini, Tuan Murdianto," jawabnya pria tersebut yakin.


"katakanlah, siapa tahu aku dapat melakukannya," ucap Rendi lugas.


"Para Mafia yang menguasai negeri ini harus di basmi terlebih dahulu, jika anda ingin membuat perubahan besar di negeri ini!" ucapnya mantap.


Rendi menggelengkan kepalaku sambil tersenyum getir. "Mafia? Aku saja tidak memiliki info tentang mereka, bagaimana mau menghabisi mereka?"


"Karena itulah saya mengajak anda untuk melakukan pertemuan di sini, Singapur dan Tiongkok, di sana mereka bersembunyi, jika anda memang mau membasmi mereka saya bisa memberikan lokasi tepatnya," jawab orang itu yakin.


Rendi menoleh ke arah pria paruh baya itu, tatapan mereka saling bertemu satu sama lain, terlihat sorot mata serius dari pria paruh baya tersebut.


"Kenapa anda sangat yakin kalau aku bisa melakukannya?" tanya Rendi memastikan.


"Karena saya tahu, anda bukanlah pemuda biasa, di balik semua kekayaan anda, saya yakin ada sesuatu yang lebih besar, melindungi anda!" jawabnya mantap.


Rendi mengernyitkan dahi. "Kenapa anda bisa berpikiran seperti itu?"


Pria paruh baya itu tersenyum simpul. "Kemunculan anda yang tiba-tiba menggemparkan dunia bisnis, itu suatu hal yang laka dan yang pasti silsilah keluarga anda tidak ada yang menjadi pebisnis! Mereka hanyalah petani yang hidup di desa."


Rendi terkejut karena orang tersebut tahu tentang dirinya, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian menekan pangkal hidungnya.


"Katakan padaku, apa niatmu sebenarnya!" Rendi tidak berbasa-basi lagi, ia juga tidak berbicara sopan lagi.

__ADS_1


Pria paruh baya itu berdiri di hadapan Rendi, kemudian ia membungkuk. "Saya Malik Ibrahim, akan menjadi orang paling setia anda, jika anda berhasil menjadi orang nomor satu di negeri ini tanpa lewat jalur partai! Seluruh kekayaan saya, akan saya hibahkan kepada anda Tuan Murdianto!"


Rendi beranjak dari duduknya. "Aku tidak perlu kekayaanmu, kesetianmu akan lebih berguna untukku, hubungi asistenku, kamu urus semua rencanaku yang ada di sini, aku akan menghabisi para Mafia itu secepatnya!" ucap Rendi tegas seraya meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2