Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Bijaksana?


__ADS_3

Rendi tahu kalau Mei Ning bisa saja kabur ketika menjalankan misinya, karena itulah ia akan menemaninya saat menjalankan misi. Namun, pria itu sadar, kelak Mei Ning sedang terluka. Ia pun memutuskan untuk membiarkannya istirahat terlebih dahulu.


Rendi juga berniat membelikan obat untuk Mei Ning, agar lukanya cepat sembuh, sekaligus membeli persiapan untuk melakukan misinya.


Pria yang sudah membulatkan tekadnya itu untuk menanggung semua keburukan demi kebaikan, ia keluar apartemen saat Mei Ning sudah tertidur lelap.


Rendi berencana membeli mobil, alat komunikasi dan peralatan lainnya yang ia butuhkan, menurutnya asalkan punya uang semua pasti mudah di atur.


Rendi juga menghubungi Malik, karena pria itu memiliki koneksi di Singapura, agar semua keperluannya bisa di beli dengan mudah di sana.


...***...


Rendi sedang menunggu kenalan Malik yang akan membantunya di sebuah kafe.


"Tuan Rendi?" tegur seseorang yang menghampiri Rendi.


"Tuan Sam?" tunjuk Rendi sambil tersenyum.


"Benar Tuan Rendi, saya Sam," ucap Pria tersebut sopan.


"Silahkan duduk," ucap Rendi ramah.


Sam duduk di hadapan Rendi, mereka memesan makanan sambil berbincang-bincang, membahas keperluan Rendi yang akan di belinya.


Sam mencatat semuanya, karena ia sudah di beritahu Malik, kalau Rendi merupakan seorang Milyarder meskipun usianya masih sangatlah muda.

__ADS_1


Sam yang notabenya hanya pebisnis kelas menengah di Singapura, tentu tidak ingin menyinggung Rendi sama sekali.


"Apa hanya ini saja Tuan Rendi?" tanya Sam sopan.


"Ya itu saja cukup, aku juga hanya tinggal sementara di sini, mungkin nanti aku jual lagi pada anda," ucap Rendi sambil tersenyum.


"Anda bisa saja, ya sudah, nanti saya kirim semua barangnya ke apartemen anda," jawab Sam sopan.


Rendi mengangguk, mereka kembali berbincang-bincang sebentar, sebelum akhirnya Sam meninggalkan Rendi, karena ia harus menyiapkan semua permintaan Rendi.


Rendi sekarang duduk sendirian di kafe tersebut, ia masih menikmati suasana di sana.


"Hai, kamu orang Indonesia?" tiba-tiba ada seorang wanita yang menegur Rendi.


Rendi menoleh, ia melihat wanita yang penampilannya sangat aduhai, tapi wajahnya juga cantik juga. Pria itu mengangguk lirih.


"Silahkan," jawab Rendi singkat.


Wanita itu tampak mengamati Rendi dengan seksama, tampaknya ia tertarik dengan pria di depannya itu. Namun, Rendi sebaliknya ia sudah menaruh curiga dengan wanita itu, karena ia yakin wanita di depannya itu sudah menikah, terlihat dari perawakannya, walaupun masih terlihat seperti gadis.


"Wartiyem," wanita itu mengulurkan tangannya.


"Eh," Rendi menahan tawanya ketika mendengar namanya, karena terkejut wanita secantik itu namanya begitu langka.


"Tertawa saja tidak apa-apa, aku terbiasa di tertawakan karena namaku jelek, ya walaupun aku begitu mempesona," ucap wanita itu bangga sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya, ia meminum kopinya agar kembali tenang. Wartiyem yang melihat pembawaan Rendi yang begitu tenang dan tidak terpancing dengan wajah dan tubuh seksinya, ia penasaran dengannya.


"Kamu di sini sedang ngapain? Maksudku kerja di sini atau cuma liburan?" tanya Wartiem penasaran.


"Aku sedang mengurus bisnis, kalau Mbaknya?" Rendi bertanya dengan sopan.


"Emmm... aku TKI di sini, hari ini libur aku jalan-jalan kemari," jawabnya jujur.


Rendi manggut-manggut mengerti, karena memang banyak TKI yang ada Singapura, penampilan mereka memang sangat mengagumkan ketika libur, walaupun pekerjaan mereka hanya PRT dan sebagainya di sini. Namun, Rendi tahu kalau semua itu demi melepas sedikit penat mereka dalam bekerja, walau ada beberapa orang yang kebablasan mencari selingkuhan.


Contohnya Wartiyem ini, Rendi sudah sangat yakin kalau wanita ini mengincar dirinya, tapi hebatnya ia bisa mencium aroma pria kaya.


"Sudah menikah Mbak?" tanya Rendi tanpa basa-basi.


Pertanyaan tersebut tampak membuat Wartiyem bingung, sehingga membuat Rendi tersenyum getir, ternyata dugaannya benar.


"Aku memang sudah menikah, tapi suamiku tidak bisa menafkahi, karena itulah aku berangkat ke luar negeri," jawabnya sedih.


"Sudah punya anak Mbaknya?" cecar Rendi.


"Baru satu Mas, mau nambah lagi kalau suami mampu menafkahi," jawabnya lagi.


Rendi tersenyum. "Mbak, boleh aku beri saran?"


Wartiyem mengangguk. Rendi langsung buka suara. "Mbaknya boleh marah atau apalah kepada suami Mbak yang tidak bisa menafkahi kata Mbaknya tadi, tapi Mbak juga harus ingat, di rumah Mbak punya anak, apakah pantas Mbak berbicara dengan pria lain di sini sementara niat Mbak dari rumah mau merubah nasib datang kemari, alangkah baiknya Mbak fokus membina keluarga yang bahagia sesuai cita-cita Mbak ketika pertama kali datang kemari, bukan seperti sekarang memakai pakaian yang terbuka, merias diri, Mbaknya sangat cantik, tapi akan lebih cantik kalau Mbak bisa menjaga martabat keluarga Mbaknya."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Rendi beranjak dari duduknya. "Maaf yah Mbak, aku sedang ada urusan,"


Rendi meninggalkan tempat itu, Wartiyem hanya bisa diam seribu bahasa, karena semua perkataan Rendi ada benarnya, ia telah melupakan niat awalnya bekerja di luar negri dan malah tebar pesona di negeri orang.


__ADS_2