
Tok ... Tok ...
Terdengar suara ketukan pintu saat Rendi sudah menyelimuti tubuhnya dengan sarung.
"Astaga, kenapa Kunti sialan itu mengikuti sampai ke sini? Gak beres ini?" gumam Rendi sambil mengintip dari balik sarung ke arah pintu.
Tok ... Tok ....
Suara ketukan pintu semakin terdengar jelas, tubuh Rendi merinding, ia menelan ludah berkali-kali, dalam hati sambil membacakan ayat-ayat suci.
Rendi menghirup napas dalam-dalam, ia kemudian memberanikan diri untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
Rendi mengambil sapu, ia berjalan hati-hati, jika itu Mba Kunti, ia akan langsung menghajarnya tidak peduli jika dia setan sekalipun.
Rendi menutup matanya, ia memutar kunci dan membuka pintu.
"B-B ...."
Bag
Bug
Bag
Bug
"Mampus kau! Berani kamu mengikutiku!' Rendi terus memukuli orang tersebut, yang ternyata Samiun.
"Ampun bos, ampun ....!" Samiun menahan pukulan Rendi dengan kedua tangannya.
Sapu yang di gunakan Rendi patah, ia baru sadar setelah mendengar teriakan Samiun yang memohon ampun.
__ADS_1
Rendi membuka matanya, ia terkejut saat melihat Samiun yang sedang meringkuk pasrah di lantai depan kontrakannya.
"Astaga, Samiun?!" seru Rendi terkejut melihat bawahannya yang terlihat benjol di kepala.
"Bos tega amat, padahal aku kemari mau mengantar ini." ucap Samiun sambil menunjuk Kwetiau yang jatuh di lantai.
"Makanya, kalau ngetuk pintu orang itu sambil bersuara, aku kira tadi maling." Rendi mengulurkan tangannya untuk membantu Samiun berdiri.
Samiun meraih tangan Rendi. "tadi aku juga mau memanggil bos, eh ... tau-tau sudah di gebukin aja."
Mata Samiun berkaca-kaca, ia memegangi kepalanya yang benjol. Rendi yang melihat itu merasa bersalah.
"Ayo masuk dulu, ceritakan kamu mau apa?"
Samiun mengangguk, mereka berdua masuk ke dalam, sebelum itu Samiun membereskan Kwetiau yang jatuh di lantai, ia memasukkannya ke dalam plastik, untuk di buang nanti.
"Bos, karena banyak pelanggan yang minta di buatin Kwetiau, kami sekarang juga menyediakannya di kedai, tadinya ini untuk di cicipi bos, tapi sudah rusak, nanti aku ganti sajalah." ucap Samiun setelah masuk dan duduk di dalam.
Rendi tersenyum. "ide bagus itu, tidak perlu mengambil lagi, aku juga sudah kenyang. Nanti pas aku pulang dari Jakarta saja bakal mampir ke kedai."
Rendi kemudian meminta maaf atas tindakannya, tapi Samiun tidak mempermasalahkannya, ia pikir dirinya juga salah karena tidak memanggil nama Rendi saat mengetuk pintu.
Tidak berselang lama, Samiun pamit ke kedai, karena tidak enak meninggalkan teman-temannya yang sedang repot di sana.
Rendi mengantar Samiun sampai ke motornya, setelah bawahannya itu pergi, ia kembali masuk ke dalam kontrakannya dan mengunci pintu kembali.
Rendi menghela napas. "Samiun, Samiun, untung saja aku tidak menggunakan tinju besi, kalau aku menggunakan itu, entah gimana kondisinya."
Berkat drama dengan Samiun, Rendi jadi melupakan mba Kunti, ia pun menarik sarungnya kembali.
Baru ia mau tertidur, terdengar suara ketukan pintu lagi, kali ini Rendi tidak gegabah untuk langsung menghajarnya. Ia membuka pintu, terlihat karyawan toko Spin Colection ada di depan pintu.
__ADS_1
"Bos, ini barang yang bos mau." ucap Karyawan itu sambil menyerahkan bungkusan plastik hitam pada Rendi.
Rendi tersenyum. "terimakasih, kamu mau ngopi dulu?" tanya Rendi basa-basi.
"Tidak bos terimakasih, saya langsung pulang saja." jawabnya sopan.
"Ya sudah, hati-hati di jalan." ucap Rendi lembut.
Karyawan mengangguk, ia menaiki motornya dan pergi dari kontrakan Rendi. Bocah SMA itu pun melihat isi bungkusan yang di berikan oleh karyawan barusan, ternyata tas kecil slempang yang seperti ia mau. Rendi tersenyum, ia menutup pintu kemudian menaruh tas tersebut dan pergi tidur.
...***...
Ke esokan paginya, Rendi sudah bangun dari jam lima pagi, ia bergegas membersihkan diri, mengecek barang yang akan di bawanya, dan sarapan mie rebus.
Setelah semuanya sudah siap, ia mengambil Sistem Spin yang pastinya sudah bisa di gunakan kembali.
Rendi menekan Sistem Spin, roda Spin berputar sangat kencang, perlahan melambat hingga akhirnya berhenti di sebuah gambar berbentuk tangan yang menyangga otak.
[ Selamat, Anda mendapatkan keahlian memakai senjata jenis apapun, otak anda akan berevolusi, bersiaplah!]
Rendi mengerutkan keningnya. "apa maksudnya i ... Arghhh!"
Rendi tiba-tiba meraung saat kepalanya terasa sangat sakit, sepuluh kali lipat dari orang yang sedang sakit kepala. Ia memegangi kepalanya sambil berguling-guling di lantai kontrakan.
Arghh
Arghh
Rendi terus meraung-raung kesakitan selama lima menit otaknya berevolusi, sebelum akhirnya ia kembali seperti biasanya.
Rendi menatap langit-langit, terlihat sorot matanya jadi berbeda, ia sedikit lebih serius daripada biasanya.
__ADS_1
Rendi menyetabilkan napasnya, ia kemudian duduk sambil menyeringai. "ternyata otak ini meningkatkan, kepandaianku juga? Menarik."
Rendi tersenyum simpul, ia merasa bisa memikirkan jenis bisnis apapun, di tambah banyak pikiran lainnya yang membuat ia segera menjadi orang paling kaya di dunia.