
Ketika Rendi membuka pintu, terlihat Mei Ning sudah menunggunya bersender di dinding dekat kamar.
"Kenapa kamu melakukan ini sendiri? Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Mei Ning ketika Rendi baru masuk ke dalam apartemen.
Rendi tentu saja terkejut saat mendengar suara Mei Ning, ia mengelus dadanya sendiri dan menatap wanita itu sambil menghela napas.
"Aku tidak mau kamu melakukan tugas ini," jawab Rendi sembari berjalan ke arah kamar mandi.
"Kenapa? Apa karena dia pamanku? Ren, aku akan melakukan apapun untuk kamu, aku tidak peduli sekalipun itu pamanku!" seru Mei Ning dengan suara lantang.
Rendi berhenti melangkah, ia sedikit terkesiap dengan perkataan Mei Ning. Pria itu membalikkan badannya.
Mei Ning terlihat menitihkan air mata, ini pertama kalinya Rendi melihat wanita itu menitihkan air mata, padahal ketika ia di cekik waktu dalam pesawat dan akan kehilangan napas tidak memohon sambil menangis, tapi kali ini berbeda, membuat perasaan Rendi sedikit terusik.
"Walaupun itu pamanku, tapi jika itu bisa membuat kamu percaya denganku, aku membunuhnya Ren! Apa kamu masih tidak percaya padaku, setelah apa yang telah aku lakukan untukmu?" tangis Mei Ning pecah, wanita itu bersimpuh di lantai sambil menutupi wajahnya.
__ADS_1
Kecewa, ya wanita itu sangat kecewa, ternyata pengorbanannya tidak pernah di anggap sama sekali oleh pria yang di kaguminya..
Perasaannya yang kemarin sempat berbunga ketika mendapat kecupan mesra dari Rendi seketika sirna, kini hanya ada luka yang menganga dala hatinya.
Rendi tidak tahu harus berbuat apa, karena ia tidak pernah menyangka kalau Mei Ning benar-benar menyukainya.
Kaki pria itu tiba-tiba melangkah maju ke depan, ia jongkok dan memeluk wanita itu sambil mengusap puncak kepalanya.
"Maaf Mei," hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir pria yang selama ini mengabaikan perasaan Mei Ning.
"Aku hanya ingin di akui olehmu Ren, walaupun aku tahu, diriku bukanlah wanita yang baik, sudah banyak sekali kejahatan yang aku lakukan, tapi ini pertama kalinya buatku mencintai seorang pria, dan itu kamu Ren," ucap wanita itu sambil terisak.
Pelukan Rendi semakin erat, hatinya mulai luluh dengan wanita pembunuh berdarah dingin itu.
"Ren, aku mencintaimu," ucap wanita yang usianya terpaut tujuh tahun lebih tua dari Rendi itu.
__ADS_1
Rendi melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata Mei Ning. "Jujur aku tidak bisa bilang aku bisa mencintaimu, karena di hatiku sudah ada seseorang Mei, aku tidak mau membuat kamu lebih sakit lagi," ucapnya tidak berdaya.
"Menjadi sisi gelapmu juga tidak apa Ren, aku hanya ingin bersama kamu," ucap Mei Ning yang kembali memeluk pria di depannya itu.
Rendi menghela napas, ia melepaskan pelukan Mei Ning dan membopongnya ke tempat tidur. "Istirahatlah, biarkan aku berpikir dengan tenang," ucap Rendi lembut sambil menyelimuti Mei Ning.
Wanita itu mencekal tangan Rendi. "Temani aku Ren, aku janji tidak akan berbuat lebih, aku hanya ingin tidur di dekat kamu,"
Rendi tampak berpikir sebentar, ia kemudian mengangguk. "aku ganti pakaian dulu," ucapnya lembut.
Mei Ning tersenyum di sela isak tangisnya kemudian melepaskan cekalan tangannya. Rendi berganti pakaian, ia kemudian menemani wanita itu.
Mei Ning memeluk Rendi sambil memejamkan matanya, pria itu hanya bisa menatap langit-langit sambil menghela napas berat.
Tanpa terasa hari sudah pagi, Mei Ning tampak masih terlelap sambil memeluk Rendi. Terlihat wajah berseri-seri dari wanita itu, sehingga membuat Rendi yang sudah terbangun, tidak berani membangunkan-nya.
__ADS_1
Begini amat kisah cintaku, ada seseorang yang jelas-jelas mencintaiku seperti ini, ada juga yang diam tapi menyukaiku, dan yang kecentilan juga, apa yang harus aku lakukan kepada mereka semua?
Rendi jelas saja bingung, karena semua wanita yang dekat dengannya tampak begitu mencintainya, tapi hatinya sudah terlalu besar condong ke salah satu di antara mereka. Sehingga membuat Pria itu bingung sendiri untuk memilih yang layak untuknya.