
Wanita itu tidak lain Sulis yang kebetulan bekerja di perusahaan Property milik Rendi atas rekomendasi pamannya.
Karena Sulis karyawan baru, jadi ia tidak tahu kalau Rendi pemilik perusahaan tersebut.
Dengan semangat Sulis langsung berdiri dari tempatnya dan memeluk Rendi, sehingga membuat sang manajer dan karyawan lainnya melebarkan rahangnya.
"Rendi, kenapa kamu ada di sini?" ucap Sulis antusias tanpa perduli dengan orang-orang yang menatap mereka.
Rendi melepaskan pelukan Sulis, ia tersenyum simpul ke wanita tersebut. "Aku kebetulan sedang mau mengecek tempat ini, kita ngobrol di tempat lain saja,"
Rendi menoleh ke arah manajer. "Aku mau mengobrol dengannya, suruh seseorang gantikan posisi dia!" perintah Rendi lugas.
"Ba-Baik Bos!" jawab Manajer langsung.
Sulis di bawa Rendi ke ruangan CEO, wanita itu hanya bisa tersipu ketika karyawan lainnya menatap iri dirinya yang mengenal bos besar mereka.
"Pak Harjo, Sulis kenal dengan bos Murdianto?" tanya salah satu karyawan wanita.
"Jangan urusi urusan bos, kalian lanjutkan bekerja!" perintah manajer lugas.
"Baik pak," jawab karyawan tersebut sambil menundukkan kepala.
Manajer menghela napas, ia bergegas menyuruh OB untuk membuatkan minum untuk Bosnya yang sedang berkunjung.
...***...
"Kamu kerja di sini mulai kapan?" tanya Rendi kepada Sulis yang terlihat sudah semakin dewasa.
__ADS_1
"Baru juga satu Minggu aku di sini Ren." jawabnya lembut.
"Kenapa tidak bilang ke aku, kalau kamu mau mencari kerjaan di Jakarta? Aku kan bisa mencarikan kerjaan yang lebih baik," Rendi merasa tidak berguna.
Sulis tersenyum. "Kalau aku minta tolong sama kamu, sama saja aku lewat jalan pintas dong? Ren, aku mau benar-benar mulai dari bawah, walaupun gaji kecil, asalkan aku nyaman dengan pekerjaan itu gak masalah buatku, siapa tahu nanti aku bisa meningkatkan prestasiku dan bisa menjadi lebih baik lagi."
Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. "memang kamu ini berbeda dari wanita lainnya."
Rendi kagum dengan pemikiran Sulis, terbukti ia tidak mau mendapatkan jabatan tinggi darinya dan memilih untuk merintis dari bawah untuk menunjukkan kapasitasnya, hal tersebut sudah sangat jarang orang-orang yang memiliki pemikiran seperti Sulis.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Rendi lagi.
"Kontrakan dekat sini, jalan kaki sepuluh menit sampailah dari sini," jawabnya jujur.
Rendi manggut-manggut mengerti. "Kamu mau pulang pergi di antar ke kontrakan, atau mau aku belikan motor?" tanya Rendi langsung.
"Pilih salah satunya saja, aku tidak mau kamu menolak," ucap Rendi lugas.
Sulis menghela napas berat, padahal ia sudah bermaksud untuk tidak merepotkan Rendi dan juga berharap tidak bertemu Rendi sampai ia sukses, tapi ternyata ia malah bertemu dengannya.
Sulis menghela napas. "Terserah kamu sajalah Ren, aku menolak pun percuma."
Rendi mengulas sebuah senyum. "Kalau antar jemput, sepertinya kamu malah bakal repot, lebih baik aku belikan kamu motor saja, sekaligus buat kamu pergi beli sesuatu."
Rendi mengambil ponselnya, ia menelpon Sasa untuk membelikan sebuah motor matic keluaran terbaru dan kirim sekarang juga, tentunya dengan nama Sulis.
Bersamaan dengan Rendi menelpon, seorang OB masuk menaruh minuman dan Meja kemudian pergi lagi, OB tersebut terlihat mencuri-curi dengar apa yang di katakan bosnya di telepon.
__ADS_1
Sulis yang tahu itu menghela napas, ia yakin sebentar lagi gosip tentangnya akan tersebar di perusahaan itu.
"Sudah beres, nanti sore motornya datang," ucap Rendi sambil tersenyum.
"Terimakasih Ren," ucap Sulis tidak berdaya.
Mereka ngobrol-ngobrol sebentar, sebelum akhirnya Sulis pamit undur diri, karena ia tidak mau meninggalkan pekerjaannya begitu lama.
Rendi mengerti akan hal itu, ia membiarkan Sulis kembali bekerja, sementara dirinya masih di ruangan itu.
Pria yang sudah mulai dewasa itu memeriksa berkas keuangan, tidak ada yang janggal dan semuanya baik-baik saja, itu membuktikan kalau perusahaan itu baik-baik saja.
Rendi kemudian memanggil manajer perusahaan properti untuk masuk ke ruangannya.
"Permisi Tuan," Pak Harjo masuk dengan sopan.
"Silahkan duduk, ada yang mau aku bicarakan denganmu," ucap Rendi datar.
Pak Harjo mengangguk, ia duduk di hadapan Rendi dengan sedikit ketakutan, pasalnya ia mengira kalau Rendi marah karena menempatkan Sulis menjadi karyawan pemasaran.
"Bos, saya akan segera memberikan Nona Sulis pekerjaan yang layak, maaf saya salah," ucapnya buru-buru karena takut Rendi marah.
Rendi mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Eh, bukannya bos memanggil saya karena pekerjaan Nona Sulis?" tanya Pak Harjo bingung.
"Hais kamu ini, Wanitaku tidak selemah itu, aku memanggil ke sini untuk membahas komplek perumahan E, aku akan membeli semua komplek perumahan E tanpa terkecuali, segera urus semua berkasnya, agar nanti penghuninya tinggal tanda tangan saja untuk memiliki rumah tersebut!" perintah Rendi lugas.
__ADS_1
Pak Harjo tentu saja terkejut, ia tidak tahu apa yang akan di lakukan bosnya itu dengan membeli semua perumahan Komplek E, apalagi Jumlah rumah tersebut ada sekitar 200. Walaupun komplek perumahan E tidak mewah, tapi harga per unit mencapai 80 juta, artinya Rendi akan mengeluarkan uang 16 Milyar. Sehingga membuat bawahannya itu menelan ludah.