
Fina menjerit histeris melihat Rendi tumbang, teman-temannya juga terkejut, mereka menutup mulutnya tidak percaya kalau Rendi akan terbunuh di sana.
Hendri bergegas turun dari mobil, ia sangat marah saat melihat Rendi terkena tembakan, seharusnya tadi dirinya saja yang melawan mereka semua.
Orang yang menembak Rendi tertawa senang, karena ia merasa telah menang. Namun, tawanya seketika menghilang saat Rendi bangun kembali dari tempatnya terjatuh.
"A-du-duh." rintih Rendi kesakitan saat lubang di dahinya mulai menutup dan peluru yang bersarang di kepalanya keluar perlahan dan jatuh ke tanah.
Hendri seketika berhenti berlari, ia tertegun di tempat saat melihat kejadian itu, tentu saja ia bingung dengan kenyataan yang di lihatnya.
"Ti-Tidak mungkin, kamu ini sebenarnya apa?!" pria yang menembak Rendi begidik ngeri.
Rendi berdiri dengan tegap, ia berjalan ke arah pria tersebut, yang tubuhnya sedang menggigil ketakutan, melihat Rendi yang terkena tembakan tapi masih hidup.
Orang tersebut menodongkan senjatanya ke arah Rendi lagi, dengan tangan yang bergetar hebat, ia berkali-kali menelan ludahnya.
Rendi tentu tidak mau terkena tembakan lagi, ia dengan cepat melesat ke arah orang tersebut dan memukul perutnya dengan keras, sehingga ia langsung terhempas menabrak mobil box dan tidak sadarkan diri.
Rendi menghela napas. "sakit bodoh! Enak saja mau menembak aku dua kali."
Fina dan teman-temannya juga ikut tercengang, sampai-sampai Fina yang tadi menangis histeris seketika terdiam, para wanita itu tentu tidak percaya kalau Rendi masih hidup, padahal mereka tadi melihat kalau Rendi benar-benar terkena tembakan.
"Gua tidak salah lihat kan? Ini bukan mimpikan? Coba tampar aku, Fin." celetuk Nela pada temannya.
Ceplaak
Aduhh
__ADS_1
Bela menampar Nela dengan sangat keras, sehingga wanita itu meraung kesakitan, di tambah ada cap telapak tangan di pipi Nela.
"Sakit bodoh!" bentak Nela pada Bela.
"Kan tadi kamu yang nyuruh untuk di tampar?" elak Bela pura-pura bodoh.
"Jangan keras-keras dong." gerutu Nela kesal sambil mengusap-usap pipinya.
Fina bergegas turun dari mobil, ia langsung menghambur ke arah Rendi dan memeluknya. Sontak Rendi terkejut, saat wanita cantik yang lebih dewasa darinya itu memeluk dirinya dengan kencang.
Bai harum parfum Fina menyeruak masuk ke dalam hidung Rendi, membuat bocah SMA itu begidik terangsang.
"Syukurlah Lo tidak apa-apa Ren." ucap Fina lembut, dengan sedikit terisak.
"Jangan kencang-kencang meluknya, nanti aku khilaf." celetuk Rendi.
"Lo itu benar-benar gak peka banget sih jadi cowo!" bentak Fina sambil menghapus air matanya.
"Hehehehe ... maklumin Mbak Fina, aku kan masih bau kencur." Rendi menaik turunkan alisnya, menggoda wanita dewasa di depannya itu.
Wajah Fina langsung merah merona, ia merasa malu karena pernah mengatakan hal tersebut saat pertama kali bertemu dengan Rendi.
Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat wanita di depannya itu yang lebih dewasa, bisa tersipu oleh bocah sepertinya.
"Hendri! telepon Polisi, biar mereka di serahkan pihak berwajib!" seru Rendi pada Hendri yang masih tertegun di tempatnya.
"Ba-Baik Tuan!" Hendri langsung tersadar dan menelpon polisi.
__ADS_1
"Fin, kamu telepon Ayah kamu, masalah ini Ayahmu harus tahu." ucap Rendi lembut.
Fina mengangguk, ia bergegas mengeluarkan ponselnya dan memberitahu Ayahnya, tentu Yudi sangat terkejut, ia pun meninggalkan kantornya dan bergegas untuk menemui anaknya.
***
Di kantor Polisi, Rendi, Fina dan teman-temannya di mintai keterangan, mereka semua menjadi saksi atas tindak kejahatan yang hampir saja menimpa mereka.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Yudi datang ke kantor Polisi bersama Sera dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa, Ayah, Ibu ... semua ini berkat Rendi, jika tidak ada dia, entah apa yang akan terjadi padaku." ucap Fina sendu.
Yudi dan Sera menoleh ke arah Rendi, mereka berdua langsung berterimakasih pada Rendi. Sera merasa terharu karena anaknya begitu pemberani.
Setelah semua sudah beres, mereka semua keluar dari kantor polisi.
"Tuan Murdianto, sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak." Yudi membungkuk hormat pada Rendi.
"Aku cuma kebetulan lewat saja, anda tidak perlu sungkan. Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan dan Nyonya." Rendi berjalan ke mobilnya.
Saat Rendi mau masuk mobil, Fina tiba-tiba meraih tangannya, sehingga membuat Rendi menoleh, wanita itu tanpa malu-malu lagi langsung mengecup pipi Rendi.
"Terimakasih Ren." ucapnya sambil tersipu malu.
Rendi memegang pipinya, ia mendekatkan mulutnya di telinga Fina. "lain kali jangan seperti ini di depan umum."
Setelah mengatakan itu Rendi masuk ke dalam mobilnya, ia menyuruh Hendri untuk kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Yudi dan teman-teman Fina tersenyum simpul, mereka tentu senang melihat Fina yang bisa dekat dengan Rendi. Berbeda dengan Sera yang tidak bisa mengerti dengan kondisi tersebut, karena anak tirinya kemungkinan jatuh cinta dengan anak kandungnya.