
Rendi tentu saja terkejut ketika melihat Pemuda yang tidak lain bawahan Harisman, ia tidak begitu mengenalnya, karena pemuda tersebut tidak seperti Harisman dan lainnya yang suka bercanda. Ia cenderung pendiam ketika berkumpul.
"Tuan Rendi mengenalnya?" tanya Malik penasaran.
"Ya, dia bawahanku di kampung, kenapa kamu bisa memiliki video ini!" tegur Rendi dingin.
Pemuda itu tampak ketakutan. "Bos, aku sudah tidak mau lagi berbuat dosa, tolong bantu aku lepas dari mereka," ucapnya sambil tiba-tiba menangis.
Rendi mengernyitkan dahi. "Mereka? Apa Harisman dan yang lainnya?"
Pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Bukan bos, mereka para komunis yang ingin menguasai negara ini," jawabnya masih dengan air mata bercucuran.
"Komunis? Jaman sekarang masih ada orang-orang seperti itu?" tanya Rendi heran.
"Benar Bos, tentu Bos tahu ketika anda dalam perjalanan ke Jakarta, aku yang menaruh bom waktu di mobil anda. Mereka sudah tahu kalau anda yang akan menjadi penghalang, karena itulah mereka mengincar anda," jawabnya jujur.
Rendi kemudian mengingat ketika mobilnya tiba-tiba sedikit terhempas, walaupun tidak hancur tapi ia juga mendengar suara ledakan. Ia menganggukkan kepalanya mengerti, jadi sudah ada yang tahu rencananya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, kamu bilang mereka tahu tentang aku? Jangan bilang mereka selama ini mengawasi aku juga?" Rendi langsung berdiri dari duduknya.
Pemuda tersebut menganggukan kepalanya. "Mereka semua sudah tahu tentang anda," jawabnya merasa bersalah.
"Tuan apa maksudnya?" tanya Malik yang ikut berdiri.
"Astaga, keluarga tuan Rendi? Cepat suruh militer melindungi keluarga tuan Rendi!" perintah Mentri Pertahanan.
Malik sontak saja terkejut, ia baru memahami kalau keluarga Rendi dalam masalah, jika benar-benar mereka mengawasi Rendi selama ini.
Komandan Militer yang mendengar pemberitahuan tersebut, mereka tentu saja langsung bergerak. Mereka yang dekat dengan kediaman Rendi dan orang tuanya langsung pergi ke sana.
Rendi tampak sangat marah, ia tidak pernah menyangka masih ada orang-orang bodoh seperti kelompok tersebut, diberi sebuah kebebasan malah minta lebih lagi.
"Cepat katakan dimana bosmu?!" tanya Rendi dingin.
"Tuan Rendi, tenanglah dulu?" Malik memperingatkan Rendi.
__ADS_1
Rendi menggertakkan giginya. "Kamu tahu, jika saja sehelai rambut keluargaku berani mereka sentuh, aku akan memusnahkan seluruh keturunan mereka sekaligus, bahkan keluargamu!" hardiknya geram.
Pemuda tersebut semakin ketakutan, kini nasibnya ada ditangannya sendiri, ia harus memberitahu semuanya agar belum ada yang menyentuh keluarga Rendi.
Pemuda itu dengan koperatif menceritakan semua tentang kelompoknya dengan detail, ia tidak menutup-nutupinya secuil pun dari Rendi. Namun, sayangnya pria tersebut tidak tahu siapa pemimpin mereka, mengingat pemimpinnya selalu memberikan perintah lewat telepon saja.
Rendi menghela napas. "Ternyata kalian sudah membuat kelompok yang cukup besar juga."
"Karena kami sudah berkumpul sepuluh tahun belakangan, banyak juga orang-orang baru yang bergabung, seperti saya yang bergabung baru dua tahun kebelakang." jawabnya jujur.
Bersamaan dengan Rendi mengorek semua informasi dari pemuda tersebut. Sekelompok orang sedang mendekat ke kediaman Rendi, mereka tampak tidak memiliki ekspresi sama sekali, seolah-olah telah dicuci otaknya.
"Kalian turunlah, cari celah untuk masuk kedalam, culik salah satu orang berharganya! Kita akan buat orang tersebut tunduk pada tuan besar!" seru pemimpin Kelompok.
"Baik Bos!" jawab para bawahan mantap.
Disaat bersamaan kediaman Ibu Rendi juga tidak luput dari pengawasan kelompok orang-orang tersebut. Mereka sengaja melakukan rencana bersamaan untuk mengantisipasi kegagalan.
__ADS_1