Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Bawahan Yang Berbeda


__ADS_3

Rendi dan Novi menunggu santai di lantai dua ruko tersebut, yang dulunya terbengkalai, sekarang sudah menjadi kamar Mirna dan temannya.


Keduanya di suruh menunggu di sana karena Harisman tidak tega melihat bosnya berdiri mengantri bersama dengan para pelanggan. Mirna dan temannya juga tidak keberatan, lagi pula di sana tidak ada apa-apa, hanya ada lemari pakaian dan TV saja.


Rendi dan Novi juga tidak terburu-buru menyuruh Harisman untuk melayani mereka, sambil menunggu Hendri datang ke tempat tersebut.


"Ren, di sana tempatnya bagus gak?" tanya Novi tiba-tiba.


"Namanya juga kota besar, ya pasti bagus, banyak kafe dan tempat-tempat indah lainnya, hanya saja kalau siang panas banget menurut aku," ucapnya jujur.


"Hmmm, begitu yah," gumam Novi lirih.


"Kenapa? Kamu mau tinggal di Jakarta?" tanya Rendi memastikan.


"Bagaimana yah ngomongnya, kalau masalah tinggal dimana aku gak peduli, yang aku inginkan cuma bisa terus bersamamu."


Rendi seketika terkesiap dengan perkataan Novi, ia menatap serius wajah gadis itu. Novi juga menatap wajah Rendi.


Mereka saling menatap satu sama lain, terlihat Novi yang sangat serius ingin bersamanya, sehingga Rendi tidak tahu harus berkata apa, karena mereka masih sangat muda, tidak mungkin sudah merencanakan hidup dari sekarang, karena kalau rencana tersebut gagal, ia yakin sakitnya tidak bisa di lupakan begitu saja.

__ADS_1


"Ren, jangan pernah tinggalkan aku, aku rela melakukan apapun untukmu, aku akan menjadi wanita yang baik untukmu!" mata Novi berkaca-kaca, terlihat jelas kalau gadis tersebut sangat serius dengan ucapannya.


Rendi memegang pipi Novi, "kita masih muda Nov, jangan berbicara seperti itu dulu, walaupun aku juga menginginkannya, tapi kita juga harus berpikir positif, jalani saja dulu masa muda kita, jangan berpikir terlalu jauh, kamu tahu sendiri impianku masih banyak yang belum aku raih, aku takut kamu kecewa jika kamu berpikir seperti ini."


"Aku tahu Ren, aku akan selalu menunggumu kapanpun kamu siap, aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu," Novi menggenggam tangan Rendi yang ada di pipinya.


Rendi tersenyum, "terimakasih, semoga kita bisa terus seperti ini, hingga nanti kita bisa menjadi satu."


Novi mengangguk lirih, mereka masih saling menatap, perlahan wajah mereka mendekat satu sama lain, saat bibir mereka hanya berjarak satu senti lagi ....


"Bos, ini pesanannya su ...." suara Harisman tercekat saat melihat Rendi dan Novi yang hampir berpagut mesra.


Seketika Rendi dan Novi membatalkan kemesraan mereka dan menoleh ke arah Harisman secara bersamaan dengan tatapan yang tajam.


"Aku tidak melihatnya, ini nasi gorengnya aku taruh sini yah bos dan Mbak bos, aku turun dulu!" ucap Harisman buru-buru dan bergegas turun ke bawah.


Rendi dan Novi saling menatap, mereka berdua benar-benar di buat tidak berdaya dengan bawahan Rendi yang pasti selalu mengganggu momen indah mereka berdua.


"Hahahaha ... kenapa aku merasa Dejavu dengan kejadian seperti ini!" Rendi tertawa sambil menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Hihihi ... aku juga sama, kenapa mereka selalu muncul di saat yang tidak tepat." Novi juga terkikik geli.


Rendi menghela napas, "ya sudah, kita makan saja dulu."


"Hendri bagaimana?" tanya Novi memastikan.


"Saya di sini bos!" Hendri tiba-tiba muncul dari tangga.


Hendri sebenarnya sudah sampai dari tadi, tapi saat melihat Rendi yang sedang berbicara dengan Novi, ia bergegas turun kembali, karena ia tahu pasti akan ada momen sakral di antara keduanya. Ia juga sudah memperingatkan Harisman untuk tidak ke atas terlebih dahulu. Namun, Harisman yang merasa sudah terbiasa dengan Rendi, ia yakin kalau bosnya tidak sedang aneh-aneh.


Hasilnya Harisman malah turun dengan wajah pucat, Hendri hanya menyeringai ke arah Harisman, karena ia yakin pasti Harisman melihat kejadian sakral bosnya.


"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Rendi memastikan.


"Sejak awal, hanya saja saya tidak berani mengganggu kalian, jadi lebih baik saya menunggu di tangga." jawabnya jujur.


Novi dan Rendi saling menatap, mereka berdua menggelengkan kepala sambil tersenyum bersamaan, ternyata pemikiran Hendri lebih pintar daripada Harisman.


"Sudahlah, ayo makan!" ajak Rendi pada bawahannya itu.

__ADS_1


Hendri mengangguk, mereka bertiga makan bersama di sana, sambil sesekali mengobrol dan bercanda dengan Hendri. Novi juga merasakan kalau Hendri tidak seperti bawahan Rendi yang lainnya. Ia benar-benar sosok pria dewasa, dengan kata lain bisa di ajak cerita dan nyambung pembicaraan nya.


Rendi juga kagum dengan Hendri yang cepat akrab dengan Novi, ia yakin kalau Hendri sebenarnya pintar berbicara dengan wanita, hanya saja ia terhalang oleh pekerjaannya, jadi di umurnya yang sudah dewasa belum nikah juga.


__ADS_2