Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Pembunuh yang Ramah?


__ADS_3

Rendi bergegas membersihkan dirinya, agar si junior tidak meronta-ronta membayangkan apa yang seharusnya tidak ia bayangkan.


Rendi menghela napas lega setelah ia terbebas dari pikiran kotor yang telah merasukinya barusan.


"Sungguh wanita yang bisa membuat semua pria bisa khilaf!" gerutunya kesal.


Rendi bergegas mengenakan pakaiannya, benar saja, ****** ******** hilang satu, sudah di pastikan di kenakan oleh wanita itu.


Bocah yang sudah menjelma menjadi pria dewasa itu menghela napas berat. Ia bergegas memakai pakaiannya dan mencari Sistem Spin.


"Lebih baik aku simpan ini di brankas sajalah," guamamnya lirih.


Sebelum menyimpannya di brankas dalam kamar, Rendi menekan layar Sistem Spin terlebih dahulu.


[ Selamat, Sistem telah mencapai level maksimal dan akan berevolusi! ]


Rendi mengerutkan keningnya. "Sistem juga bisa berevolusi?"


Tiba-tiba Sistem Spin menghilang dari tangan Rendi, perlahan muncul layar Virtual yang hanya bisa di lihat oleh Rendi.


[Sistem telah berevolusi, Semoga hari anda menyenangkan.]


"Sudah gitu doang?" tanya Rendi kepada dirinya sendiri sambil menghela napas berat.


Rendi beranjak dari duduknya, setidaknya walaupun ia tidak dapat apa-apa, sekarang tidak perlu khawatir Sistemnya akan hilang.

__ADS_1


Pria yang baru berusia delapan belas tahun itu keluar dari kamarnya, saat ia mau turun dari tangga, terdengar dua orang wanita yang sedang ngobrol di bawah.


"Ibu!" Rendi yakin kalau itu adalah suara Ibunya, ia bergegas turun ke bawah takut Sera di apa-apakan oleh Wanita yang akan membunuhnya semalam.


Tapi saat ia sampai di bawah, Ibunya sedang mengobrol santai dengan wanita itu, terlihat Ibunya juga sangat nyaman berbicara dengannya.


"Ibu, kenapa tidak bilang mau datang?" tanya Rendi mengalihkan pembicaraan kedua wanita itu.


"Kamu ini yah Ren, kalau membawa wanita ke rumah mbok ya belikan dia pakaian dalam, kasihan dia nanti kedinginan!" bukannya menjawab sapaan Rendi, wanita paruh baya itu memarahi Rendi.


"Hah!" Rendi melebarkan rahangnya terkejut.


Wanita pembunuh tersenyum penuh arti, ia kemudian memasang wajah semanis mungkin. "Iya Bu, mana Mas Rendi mainnya kasar, masa semua pakaian dalam aku di buang,"


"Siapa nama kamu sayang?" tanya Sera lembut.


"Mei Ning Bu, panggil saja Mei," jawabnya lembut.


Rendi tidak percaya kalau orang yang akan membunuhnya bisa bersikap manis seperti itu dengan Ibunya, padahal semalam ia hampir saja menghabisi nyawanya.


"Bu, aku mau bicara sebentar dengannya," Rendi menghampiri Mei dan menarik tangannya.


Sera pikir kalau Rendi malu karena hubungannya telah di ketahui, dan mereka akan membicarakan hal tersebut empat mata, karena itulah mereka menjauh. Menurut Sera itu hal yang wajar.


"Apa kamu gila! Astaga, aku bahkan belum mengenal kamu dan kamu bicara seenaknya dengan Ibu?!" bentak Rendi lirih.

__ADS_1


Mei tersenyum. "Kalau begitu gitu kita akan saling mulai mengenal, aku berharap kamu bakal menerimaku, seperti Ibu kamu," godanya sambil mengedipkan mata kepada Rendi.


Rendi tidak tahu harus tertawa atau menangis, walaupun ia berbicara yang sebenarnya dengan Ibunya, pasti wanita paruh baya itu tidak percaya, mengingat Mei Ning juga memakai bajunya, apa lagi di kamarnya ada benda sakral Mei Ning yang penuh lendir, itu bisa membuatnya semakin terpojok.


Rendi menggertakkan giginya. "Oke, kali ini aku kalah denganmu, tapi kalau kamu mau tinggal di sini, selesaikan dulu masalah kita! Aku tidak suka punya masalah yang terbengkalai!"


Mei tersenyum penuh arti. "Tentu saja sayang, aku pasti akan menyelesaikan semuanya untukmu," jawabnya sambil mengecup bibir Rendi.


Rendi sedikit mendorong Mei Ning, ia mengusap bibirnya, benar-benar di dekat wanita itu Rendi, bisa-bisa khilaf.


Mereka berdua kemudian kembali menemui Ibu Rendi yang menunggu di ruang keluarga. Sera tersenyum ketika melihat Mei merangkul mesra Rendi.


Sementara Rendi hanya bisa menghela napas berat, ia tidak tahu kalau hidupnya malah akan penuh drama seperti itu.


...***...


Sementara itu di kamarnya, Novi sedang memerhatikan foto Rendi yang ada di ponselnya.


"Sebentar lagi Ren, kita pasti akan bertemu, kalau boleh aku ingin tinggal serumah denganmu, walaupun kamu pasti akan menolaknya," ucap Novi sambil mengusap foto Rendi kemudian mengecupnya.


Sulis di kamarnya juga sedang melakukan hal yang sama dengan Novi, hanya saja ia lebih memahami kondisi Rendi.


"Aku harap, kamu tidak menikah dengan siapapun dulu, sebelum aku membuktikan diriku bisa bersanding denganmu, Ren." ucapnya sambil memeluk foto Rendi.


Kedua gadis yang benar-benar tulus menyukai Rendi itu, sedang menyimpan rindu mereka. Mereka berdua tidak tahu saja kalau Rendi di Jakarta di kelilingi wanita-wanita cantik yang siap menerkamnya jika ia lengah.

__ADS_1


__ADS_2