
Karena sedang ngobrol masalah tahayul di desa tersebut, sontak saja bulu kuduk ketiganya langsung merinding.
Mereka menelan ludah, kemudian membalik badan. Namun, mereka tidak melihat Siapa saat menoleh ke belakang.
Rendi dan dua gadis itu menyapu pandangannya ke seluruh tempat tersebut, tapi mereka tidak melihat apapun.
"Ren, aku takut." Novi langsung merangkul lengan Rendi dengan kuat.
"Ren, masa siang bolong seperti ini ada Jurig sih?" Sulis juga merangkul lengan Rendi juga.
Rendi masih celingukan mencari tahu siapa orang yang berani mengerjai mereka bertiga, tapi ia tidak melihat orang sama sekali.
Rendi memberanikan diri buka suara. "s-iapa k-amu!?"
"Hahahaha...." terdengar gelak tawa dari atas pohon.
Rendi dan kedua gadis yang bersamanya sontak langsung menoleh ke atas, mereka berdua mengerutkan keningnya saat melihat seorang bocah yang sedang di atas pohon kecacil. (buahnya mirip kelengkeng, hanya saja rasanya asam manis.)
"Sialan, ternyata kamu yang manggil kami?" hardik Rendi pada bocah tersebut.
"Lah, emang aku, kalian lagi pacaran yah kak? Hebat bisa pacaran dengan dua cewe, aku mau satu dong kak." bocah itu bertingkah sok akrab dengan Rendi.
"Hus, bocah kecil tahu apa kamu." Rendi menegur bocah itu.
"Hehehe ... kalian mau ini gak?" bocah itu menunjukkan buah kecacil pada mereka.
__ADS_1
"Apa itu Ren?" tanya Novi yang memang tidak pernah memakan buah kecacil.
"Kelengkeng desa, kalian mau?"
Sulis dan Novi mengangguk, Rendi pun meminta pada bocah tersebut, bocah itu dengan semangat memetik satu ranting yang isinya begitu banyak buah tersebut.
Bocah itu turun dari pohon sambil membawa satu ranting buah kecacil, menghampiri Rendi dan kedua gadis yang bersamanya.
"Nih Kak, sebagai gantinya kasih aku uang buat beli es dong, kak." ucap bocah itu sambil menyerahkan buah tersebut.
Rendi menghela napas, "ujung-ujungnya duit juga."
"Hehehehe ..." bocah itu terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Rendi merogoh sakunya, ia memberikan uang sepuluh ribu rupiah pada anak tersebut, tentu saja si bocah begitu senang, dia berterima kasih dan langsung pergi dari sana.
Sulis dengan ragu mengambilnya, walaupun ia belum pernah memakannya, tapi ia pernah dengar kalau buah tersebut rasanya asam.
Sementara Novi dengan semangat mengambil dan langsung menggigitnya, baru saja ia menggigitnya, ekspresi wajah Novi langsung berubah.
"Asam banget!" celetuk Novi sambil begidik.
"Hahaha ... buah ini memang asam, tapi kalau buat bocah-bocah di desa sangat enak, aku juga dulu sering makan kaya gini, beli jajan gak punya duit, lebih baik nyari kayak gini saja, gratis dan bisa makan sepuasnya." Rendi mengingat saat ia masih dengan neneknya.
Dulu ia memang senang mencari buah kecacil saat sedang musimnya, karena hanya itu jajan untuk dirinya yang tidak bisa membeli jajan di warung.
__ADS_1
Gunung nyapa memang memiliki beberapa jenis pohon yang buahnya bisa di makan, seperti kecacil, ketos, jambu biji, jambu air, nangka, mangga.
Biasanya buah-buahan seperti nangka yang memanen kuncen gunung nyapa, tapi kalau kebetulan Rendi melihat yang masak, terus belum di lihat Kuncen, ia mengambilnya juga, karena mau bagiamana pun hanya itu buah enak yang bisa ia makan.
Melihat Rendi yang bengong dengan mata berkaca-kaca, Sulis yakin kalau Rendi sedang mengingat masa lalunya yang kelam.
"Ren, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Sulis sambil mengusap lembut punggung Rendi
Rendi tersadar, "aku tidak apa-apa, kok."
Sulis tahu kalau Rendi sedang menyembunyikan kesedihannya, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sementara Novi yang tidak tahu apa-apa, ia bingung kenapa Rendi dan Sulis tiba-tiba menjadi sedih.
Setelah mereka ngobrol-ngobrol di puncak gunung dengan puas, Rendi mengajak kedua gadis yang bersamanya untuk turun dari gunung nyapa. Ia tidak lupa untuk membawa buah kecacil ke dalam tasnya, karena Rendi yakin Harisman dan bawahannya pasti mau memakannya.
"Aku punya ide, kalau aku mau berinvestasi di wisata ini, apa kalian setuju?" tanya Rendi pada Novi dan Sulis saat turun gunung.
"Wah, boleh juga tuh, tapi biayanya pasti sangat mahal." jawab Sulis tidak berdaya.
"Ya elah, masalah biaya kamu tenang saja, Rendi punya banyak uang." timpal Novi meyakinkan.
Sulis menatap Rendi dengan curiga, ia juga sebenarnya sudah curiga, darimana Rendi mendapatkan banyak uang padahal selama ini yang ia tahu, kehidupan Rendi sangatlah kekurangan.
Rendi yang melihat Ekspresi Sulis seperti itu, ia tahu kalau gadis itu pasti sedang memikirkan bagaimana ia mendapatkan banyak uang begitu mudah.
__ADS_1
"Sudahlah, kita bahas itu nanti saja, ayo pulang!" Rendi sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Sulis tidak mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan menyudutkannya.
Mereka bertiga pun turun gunung, sebelum pulang ketiganya membeli rujak uleg di warung yang ada di kaki gunung.