
Semua para preman itu tumbang tanpa perlawanan berarti, mereka semua pingsan tersungkur di tanah.
Rendi mendekati pemimpin Preman, ia langsung mencengkram kerah bajunya dan mengangkatnya ke atas.
"Bos, maaf bos, saya tidak hanya di suruh!" ucapnya memelas, dengan wajah ketakutan.
Pemimpin Preman tidak menghiraukan rasa sakit di tangannya, yang ia takutkan sekarang di hajar Rendi habis-habisan.
"Siapa yang menyuruhmu!" bentak Rendi.
"P-Pak Sultan bos, dia tidak suka dengan bos yang mau membangun kampung Karbal!" jawabnya lantang.
Para warga yang mendengarnya, reflek langsung menoleh ke arah Pak Sultan yang merupakan salah satu Bau di kampung Karbal.
Pak Sultan yang mendengar pengakuan dari bos preman, dia langsung berdiri dan berniat berlari.
"Woi Bedebah! Jangan lari!" seorang pemuda dengan sigap mengejar Pak Sultan.
Warga lainnya juga mengikuti pemuda itu untuk menangkap Pak Sultan, sementara warga lainnya menahan pejabat yang ada di sana, para pejabat ketakutan, mereka sampai ada yang menangis dan meminta maaf secara terus menerus.
Bug
Rendi menghantam tengkuk pemimpin Preman hingga pingsan, kemudian ia melemparkan-nya begitu saja ke tanah.
"Telepon Polisi! Tangkap mereka semua!" perintah Rendi tegas.
__ADS_1
Warga yang memiliki nomor telepon Polisi, mereka menghubungi nomor tersebut, sisanya mengumpulkan para preman yang berserakan di tanah menjadi satu.
"Rusdianto! Kamu mengenal anggota KPK di Jakarta atau tidak?" tanya Rendi pada bawahannya itu.
"Ada bos," jawabnya yakin.
"Telepon dia sekarang, aku mau sekalian usut pemerintah kusut kampung ini, bila perlu sampai ke kepala daerah! Carikan aku juga pengacara kondang, bila perlu Hotman Paris panggil ke sini!" perintah Rendi tegas.
"Ba-Baik Bos," jawab Rusdianto lagi dengan tangan gemetaran.
Rusdianto tentu takut, karena Rendi kalau sudah marah tidak peduli dengan apapun, itu membuktikan kalau bosnya itu bukanlah orang yang mudah di singgung.
Rendi juga sudah muak dengan mereka para tikus-tikus kantor, rencana awal ingin mencari bukti, Rendi tidak peduli sama sekali, ia yakin dengan uangnya bisa melancarkan semua rencananya.
...***...
Polisi pun datang, Pak Sultan juga sudah tertangkap warga, tentu dengan bentuk wajah barunya yang penuh benjolan dan lukisan darah, yang di ciptakan karya seni tangan-tangan kasar rakyat kecil.
Para Preman dan Pak Sultan di bawa ke kantor polisi, sementara para pejabat lainnya yang belum ada bukti bersalah, mereka hanya di beri ceramah oleh Rendi agar mengakui perbuatannya, jika tidak mengaku, Rendi akan semakin mengusut masalah tersebut semakin berat.
Rendi tidak meminta jawaban langsung dari mereka, ia membiarkan mereka berpikir terlebih dahulu, jelas tujuannya agar memberikan mereka sedikit serangan mental.
Setelah Polisi sudah menangkap mereka semua, dan para pejabat pulang ke rumah masing-masing, acara yang sempat tertunda kembali di lanjutkan, para warga makan-makanan bersama dengan riang gembira.
Sementara itu, Rendi dan Sulis duduk berdua, sedikit lebih jauh dari kerumunan warga, mereka berdua menikmati jatah mereka dan makan berduaan.
__ADS_1
"Ren, kamu sekarang jadi keren banget loh, padahal dulu kamu sangat penakut," puji Sulis tiba-tiba.
Rendi tersenyum. "Bukannya aku sudah keren dari dulu? Kamunya saja yang tidak memerhatikan."
"Ih ... apaan, orang kamu dulu juga takut sama aku," ejek Sulis.
"Itu bukan takut, cuma mengalah dengan seorang gadis, karena kata Nenek menyakiti gadis itu tidak baik," jawabnya bijak.
Sulis menghela napas. "Aku masih ingat saat dulu kamu serba kesusahan, boleh aku bertanya Ren?"
"Tanya saja," jawab Rendi santai sambil memakan urab lauk tumpeng.
"Kamu dapat semua kekayaan itu dari mana Ren?" tanya Sulis serius.
Rendi seketika berhenti memakan- makanannya, ia menoleh ke arah Sulis, menatap gadis itu lekat-lekat.
Terlihat rasa ingin tahu yang besar dari wajah Sulis, Rendi sampai bingung ingin menjelaskannya darimana.
Rendi menghela napas. "Jujur aku tidak bisa memberitahumu sekarang Sulis, bahkan mungkin sampai nanti juga tidak, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, hanya istriku kelak yang akan aku beritahu dari mana aku mendapatkan semua kekayaan ini, tapi kamu jangan khawatir semua kekayaanku di jamin tidak dari melakukan kejahatan, cukup itu saja yang perlu kamu tahu."
Wajah Sulis seketika lesu, padahal ia berharap di beritahu dan ia pun akan berjanji merahasiakan semuanya, tapi nyatanya Rendi belum sepenuhnya percaya dengan dirinya, sehingga ia merasa kalau Rendi belum mengakuinya sama sekali.
"Jangan di tekuk begitu wajahnya," Rendi memegang dagu Sulis, agar menatapnya. "Bukan cuma kamu, sekalipun Novi bertanya juga, aku tidak akan memberitahunya, ini adalah rahasiaku sendiri, jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak, oke."
Rendi mengulas sebuah senyum, akhirnya Sulis juga tersenyum saat tahu kalau Novi juga tidak di beritahu, artinya posisi mereka masih sama dan masih ada harapan untuk merajut masa depan dengan Rendi.
__ADS_1