Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Akhir dari Para Mafia


__ADS_3

Ke esokan harinya....


Berita kematian Danton dan antek-anteknya di rilis. Pihak militer yang sudah tidak takut apa-apa lagi. Mereka mulai memburu para tikus-tikus kantor, semua bandara dan pelabuhan di tutup total hari itu juga.


Jika ada yang melawan, para Militer tidak segan untuk membunuh mereka. Partai politik di negeri Rendi bubar dengan sendirinya. Mereka semua ketakutan jika harus mempertahankan partai mereka yang bercitra buruk.


Beberapa hari ke depan Negera Rendi dilakukan pembersihan besar-besaran. Semua keuangan pejabat negara di Audit, hasilnya 80% para pejabat negeri korup dan mereka semua ditangkap.


Malik yang paling sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Ia menghubungi orang-orangnya agar cepat mengisi kekosongan, agar negaranya tidak runtuh.


Dengan dukungan kuat dari Rendi, Malik memegang kursi pemimpin negaranya. Beberapa peraturan baru mulai di berlakukan. Ia menambahkan jika ada pejabat korup lagi mereka akan langsung di hukum mati tanpa ada remisi atau semacamnya.


Peraturan baru membuat semua warga sangat senang, karena mereka melihat akan ada masa depan yang cerah di Negaranya, dengan pemimpin baru mereka.


...***...


Sementara itu disebuah rumah sakit terbaik di Jakarta. Tampak pria lusuh hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong, sedang duduk di samping gadis yang sedang koma.

__ADS_1


"Ren makan dulu yuk," ajak Novi lembut.


Rendi tidak menggubrisnya, ia hanya diam sambil menatap Sulis dengan sorot mata sedih.


Novi sangat sedih melihat Rendi yang tidak mau melakukan apa-apa selama dua hari belakangan, bahkan makan pun pria itu tidak mau sama sekali. Selama dua hari ia duduk di sana sambil memandangi wajah Sulis.


Pak Kosim dan Istrinya yang datang ke Jakarta juga merasa sedih melihat Rendi yang seperti itu, walaupun ia tahu anaknya sedang koma. Namun, sikap Rendi membuat pria paruh baya itu merasa iba dengannya.


"Ren, benar kata Novi, lebih baik kamu makan dulu. Bapak yakin Sulis juga akan sedih jika melihat kamu yang seperti ini," ucap Pak Kosim lembut.


"Iya Ren, ayo makan dulu, biar nanti Sulis sembuh kamu bisa mengajaknya bercanda lagi," timpal Ibu Rendi.


Mei Ning yang ada di sana menghela napas, ia mendekat ke arah Rendi kemudian menamparnya dengan sangat keras.


Plaaak


Suara nyaring tamparan membuat semua orang terkejut. Mei Ning mengabaikan mereka semua, menatap Rendi yang mau melihatnya.

__ADS_1


Mei Ning tersenyum. "Dengar yah pria bodoh! Kalaupun kamu tidak makan dan minum, memangnya Sulis akan bangun, tidak bukan? Berpikirlah positif, jika Sulis bangun dan kamu mati, siapa yang akan sedih? Setelah kamu mati siapa yang akan menghiburnya saat dia sedih!?" tegur Mei Ning tegas.


"Kamu tidak tahu apa-apa, diamlah," ucap Rendi lemah.


"Tidak tahu apa-apa? Umurku dan kamu lebih tua aku! Aku lebih tahu daripada kamu, caramu mencintai seseorang itu seperti orang bodoh! Bahkan aku saja yang cinta mati denganmu saja masih memakai logika! Aku bisa saja membunuh wanitamu yang lain, tapi aku tidak melakukannya, karena aku sadar, dengan aku melakukan itu, bukannya aku dapat cintamu, yang ada kamu bakal membenciku!"


Tiba-tiba air mata Mei Ning menetes dari pelupuk matanya, tapi ia menghapusnya dan berbicara lagi. "Bukan cuma kamu yang sedih jika terus seperti ini, tapi lihatlah mereka yang menyayangimu, mereka sangat sedih melihat kamu yang seperti ini. Ren... mengertilah."


Mei Ning ambruk dihadapan Rendi sambil menundukkan kepala, terdengar suara Isak tangisnya.


Rendi terkesiap dengan perkataan Mei Ning, mau bagaimanapun, semua yang di katakannya memang benar. Ia tidak seharusnya seperti itu.


Rendi menoleh ke arah Novi dan Ibunya, kemudian Pak Kosim, mereka semua juga tampak sedih. Pria itu menghela napas berat, ia kemudian memegang bahu Mei Ning memapahnya untuk berdiri dan memeluknya.


"Maaf dan terimakasih sudah mengingatkan aku," ucapnya lirih.


"Kamu tidak salah Ren, kami hanya ingin kamu sadar, masih ada kami juga yang merasakan hal yang sama denganmu," jawab Mei Ning sambil menangis.

__ADS_1


Novi mendekat, ia memeluk Rendi dari belakang. Mereka semua memiliki perasaan yang sama, sedih karena harus menerima kenyataan yang terjadi.


Akhirnya Rendi sudah mau makan, walaupun hanya beberapa suapan, tapi setidaknya ia sudah tidak menyakiti dirinya sendiri. Namun, Pria itu masih tetap tidak mau meninggalkan Sulis sendirian di sana, sehingga setiap hari ia selalu menjaganya dengan sepenuh hati.


__ADS_2