Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Menemui Klien


__ADS_3

Malam harinya ...


Rendi sudah bersiap-siap ke tempat acara makan malam dengan partner bisnisnya yang datang dari luar negeri, ia sudah terlihat sangat tampan, memakai Jas berwarna Silver dan terlihat lebih berkarisma.


Kali ini Rohis yang akan menyetir untuk Rendi, karena sopir itu juga ingin merasakan mendampingi bosnya kemanapun ia pergi, tidak mengantar para pelayan ke pasar saja.


Mobil yang di keluarkan Rohis juga Rolls-Royce Phantom yang tidak pernah di gunakan oleh Rendi, tujuannya menggunakan mobil tersebut, karena ia pikir agar Rendi terlihat lebih elegan.


"Silahkan Tuan," ucap Rohis sopan sambil membukakan pintu mobil.


Rendi masuk ke dalam mobil, tanpa berbicara sepatah katapun. Rohis juga bergegas masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu tempat Rendi masuk.


Rendi mengatakan lokasi yang akan ia hadiri kepada Rohis, dengan sigap Rohis tahu tempat itu, sehingga mobil langsung melaju ke sana.


"Siapa nama kamu?" tanya Rendi sambil memainkan ponselnya.


"Abdul Rohis tuan, panggil saja Rohis," jawabnya langsung.


"Kamu kerja di rumahku bareng Hendri?"


"Tidak tuan, saya lebih dulu kerja di tempat anda, Hendri mulai kerja dengan anda saat kami mendengar anda akan datang ke Jakarta, tapi selama dua bulan kami menunggu, anda tidak datang juga dan malah datang bulan ketiga, bisa di katakan kerjaan kami cukup ringan, karena cuma ngantar pelayan bolak-balik ke pasar saja,"

__ADS_1


Rendi tersenyum simpul, ia berpikir kalau Rohis lebih cerdas dari Hendri, ia juga nampak jujur, saat membicarakan kerjaannya.


"Apa kamu betah kerja denganku?" tanya Rendi lagi.


Rohis terlihat tersenyum. "Siapa yang tidak betah kerja dengan tuan, kerjaan ringan gajinya juga gede, walaupun selama ini kami seperti kerja tanpa bos, tapi tuan selalu membayar penuh kami, sehingga kami tidak mungkin bisa meninggalkan kerjaan ini, saya yakin di tempat lain tidak akan seperti bekerja di tempat anda."


"Kamu sedang memuji atau mencari simpati dariku?" tanya Rendi menyelidik.


"Buat apa mencari simpati dari tuan, kami tidak perlu melakukan itu saja, sudah terlihat kalau tuan orang yang baik, kami percaya itu," jawabnya tegas.


Rendi mengangguk mengerti, Rohis tampak sangat percaya diri saat berbicara, ia yakin sopirnya yang satu itu sudah pernah bekerja untuk orang besar lainnya, sebelum bekerja di tempat dirinya. Melihat dari cara bicara dia yang begitu santai.


...***...


"Tuan Murdianto, selamat datang," sapa Sulaeman dengan sopan sambil membungkukkan badannya, begitu juga dengan dia wanita itu.


Rendi hanya menganggukkan kepalanya, Sulaeman langsung mempersilahkan Rendi masuk ke dalam Restoran tersebut.


Salah satu wanita yang bersama Sulaeman terlihat menatap dengan seksama tubuh Rendi dari atas sampai bawah.


Apa pria ini calon Bosku? Sepertinya dia lebih muda dariku, apakah dia bisa di andalkan?

__ADS_1


Berbagai pertanyaan muncul di benak calon asisten Rendi, ia yang sudah berkecimpung di dunia bisnis lama, tentu saja bisa menilai orang yang kompeten atau tidak, tapi untuk Rendi, ia tidak memastikannya, pesona Rendi berbeda dengan pebisnis pada umumnya menurut wanita itu.


Mereka berdua duduk di kursi yang sudah di siapkan, sementara dua wanita itu berdiri di belakang mereka.


"Kenapa kalian tidak duduk?" tegur Rendi pada kedua wanita itu.


Sontak keduanya langsung beradu pandang, mereka bingung apakah Rendi menyuruhnya duduk atau itu hanya sarkasme saja.


"Tidak tuan, terimakasih," jawab salah satu dari wanita itu.


"Kenapa memangnya? Apa karena aku atasan dan kalian bawahan?" tanya Rendi lagi.


"Tuan, kami di sini menghormati anda, kami tidak mau menurunkan wibawa anda!" jawab calon asisten Rendi lugas.


Rendi menghela napas. "Aku tidak tahu kalau peraturan itu ada, tapi apa kalian akan terus berdiri menunggu orang yang tidak tahu kapan datangnya menggunakan sepatu hak tinggi seperti itu?"


Kedua wanita itu reflek menoleh ke kakinya, benar saja mereka menggunakan sepatu hak tinggi, kemungkinan jika menunggu lama kaki mereka akan pegal.


"Kalau tidak mau duduk bersama kami, duduklah di kursi sebelah, sambil menunggu Klien kita datang, jangan sakiti diri kalian sendiri," ucap Rendi perhatian.


Kedua wanita itu tersipu, mereka berdua menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi yang berada di meja sebelah.

__ADS_1


Sulaeman tersenyum simpul, ia tidak pernah menyangka sama sekali kalau bosnya sangat perhatian dengan bawahannya, padahal Sulaeman pikir kalau bos muda seperti Rendi akan sangat arogan dengan bawahannya.


Kedua wanita yang merupakan Asisten dan calon Asisten Rendi itu juga memiliki pemikiran yang sama dengan Sulaeman, sehingga rasa kagum keduanya pada Rendi tanpa sengaja tumbuh padanya.


__ADS_2