
Julian duduk di sofa, dia menatap Vladimir dengan sengit.
Vladimir hanya bisa menundukkan kepalanya karena dia sudah tahu bagaimana kuatnya Julian. sampai - sampai senjata saja tidak bisa melukainya.
" Apa kamu kesini untuk membuat onar di kediamanku ?!" tanya Julian dingin.
Vladimir langsung menggelengkan kepalanya " saya tidak berani Tuan Lewis "
Susan mengernyitkan dahinya, karena dia baru pertama kali melihat Ayahnya ketakutan seperti itu, padahal biasanya dia selalu bertingkah Arogan.
Tapi dihadapan Julian, Valdimir bagaikan anak kucing yang sedang di tatap Anjing, dia tidak berani berbuat apapun.
Julian menghela napas " Vladimir !, Darius Lewis adalah kakakku, jangan coba - coba kamu menyentuhnya lagi !"
Vladimir mendongak karena terkejut, dia menatap Darius dengan seksama, Darius yang melihat hal tersebut menaik turunkan alisnya.
Vladimir sedikit kesal ketika melihat ekspresi Darius, dia kemudian beralih menatap Julian " Tuan Lewis, jika itu mau anda, saya pasti akan menurutinya "
Julian menganggukkan kepalanya " Bagusalah kalau kamu mengerti, apa perintahku sudah kamu jalankan ?"
" Sudah Tuan, mereka semua sudah menjaga Mansion ini, kalau boleh tahu kenapa tiba - tiba membuat penjagaan ketat yah Tuan ?" tanya Vladimir sopan.
Bukannya Julian yang menjawab tapi Darius " Kita akan melawan Profesor C5 !"
Seketika senyum yang dari tadi dipertahankan Vladimir lenyap seketika, wajahnya berubah menjadi jelek karena dia kurang lebih sudah tahu melawan Profesor C5 sama saja bunuh diri.
Darius yang melihat ekspresi Vladimir seperti itu dia tertawa terbahak - bahak " Hahahahaha.... Pemimpin Mafia di Provinsi Anarka ternyata bisa takut juga !, hahahahaha...."
Tawa Darius menggema hingga ke seluruh Aula Mansion, membuat Julian dan Susan memgeryitkan dahinya, karena Darius terlihat sangat puas menertawakan Vladimir.
Susan menginjak kaki Darius dengan keras " Awwwwww !"
Darius langsung menoleh ke arah Susan, tapi Susan malah memelototinya, karena seburuk apapun Vladimir tetap Ayahnya. giliran Vladimir yang menyeringai melihat Darius yang tidak berani pada susan.
" Kalian ini seperti anak kecil saja !" Julian akhirnya buka suara.
Darius dan Vladimir tersenyum getir ketika mendengar teguran dari Julian.
__ADS_1
Julian menghela napas " Vladimir !, kamu atur penjagaan, jika ada apa - apa langsung beritahu aku !, kamu boleh pergi "
" Baik Tuan Lewis !" Vladimir akhirnya meninggalkan mereka.
" Susan, Natali kalian pergilah ke kamar Kalian yang sudah di tunjukkan Celia, aku mau ngobrol sebentar dengan Kak Darius !" perintah Julian datar.
" Julian, ijinkan aku ngobrol dengan ayahku dulu !" Susan membuat permintaan.
Julian mengangguk " pergilah !"
Susan tersenyum senang, dia dan Natali langsung keluar mengejar Vladimir, di ruang tamu hanya tersisa Julian dan Darius saja.
Julian kemudian menatap Darius dengan serius, dia sudah tidak membuang waktu lagi karena kondisi mereka sedang dalam bahaya.
" Kak, aku punya rencana untuk melawan Profesor C5 !, apakah kamu mau membantuku ?" tanya Julian pada Darius.
Darius menghela napas " ini semua juga karena aku, jadi aku pasti akan membantu kamu apapun rencana kamu " jawab Darius serius.
Julian mengangguk " Aku akan membuat Robot !, pastinya kekuatan Robot ini akan setara dengan Monster buatan Profesor C5, atau mungkin lebih kuat !"
" Rafael bicaralah !" Julian memanggil Rafael.
" Saya disini Tuan Lewis, halo Tuan Darius,perkenalkan saya Rafael Ai cerdas buatan Tuan Lewis "
Darius langsung terkejut saat Rafael memperkenalkan diri " Ba..bagaimana mungkin ?, Julian !, dia pasti orang yang di suruh kamu bicara kan ?!"
Darius berusaha menyangkal keberadaan Rafael. Karena belum ada yang pernah menciptakan Ai yang bisa mengobrol dengan pembuatnya kecuali di Tv dan Novel fantasi saja.
Jika itu ada mungkin sebuah ke ajaiban yang datang beberapa abad sekali, untuk itu Darius tidak percaya akan hal tersebut.
" Rafael muncullah dalam bentuk Virtual !" Julian memberikan perintah.
" Baik Tuan Lewis !" Perlahan sinar biru yang keluar dari Ponsel Julian membuat Hologram anak kecil yang berdiri di hadapan Darius.
" Tuan Darius, saya adalah Rafael !" Rafael membungkuk Hormat pada Darius.
Darius tidak bisa berkata - kata, dia menatap Julian dengan seksama, sekarang dia sadar jika adiknya juga seorang Jenius sepertinya.
__ADS_1
" Rafael yang akan membantu kita, dengan kecerdasan dan semua yang di ketahui Rafael, ditambah kecerdasan kita berdua, aku yakin jika kita bisa membuat Robot dalam beberapa hari saja !, apakah kakak sekarang percaya ?" Ucap Julian meyakinkan.
Darius hanya memganggukkan kepalanya lirih, dia sudah tidak tahu lagi ingin berbicara apa untuk mengekspresikan kondisinya saat itu.
" Untuk Detail pembahasan, lebih baik kita keruangan Computer aku kak, kita akan membahas bahan apa saja yang diperlukan !" Julian mengajak Darius ke ruang Computernya.
Darius mengikuti dengan patuh, dari belakang dia menatap punggung Julian " Ayah ibu, lihatlah adik kecilku sekarang sudah menjadi orang yang besar !, aku sangat senang bisa berdiri disampingnya sekarang, aku berharap Ayah dan ibu melihat kami dari surga !" gumam Darius dalam hati.
Julian dan Darius membahas perencanaan dan bahan pembuatan Robot, mereka berdua berdiskusi semalaman suntuk.
Julian dengan Vitalitasnya dan Darius yang sudah terbiasa meneliti segala sesuatu sampai larut malam, jadi mereka tidak ada yang mengantuk sama sekali.
Percakapan keduanya semakin intens ketika ingin memilah - milah bahan yang pas, sering terjadi ketidak cocokan satu sama lain di antara mereka, seperti Julian ingin yang ini Darius menganggapnya jelek, begitupun sebaliknya.
Hingga akhirnya mereka berdua sepakat membuat Robot dengan tubuh kuat yang hampir menyerupai manusia, bisa di bilang robot Cerdas yang bisa dikendalikan Rafael !.
" Kurasa seperti ini Cukup Julian !" Darius memperlihatkan desain dan bahan - bahan yang akan di gunakan.
Julian menganggukkan kepalanya " kakak benar, bagaimana menurutmu Rafael ?" tanya Julian pada Rafael.
" Semuanya sudah bagus Tuan, hanya saja kita akan membuatnya dimana ?"
Julian berpikir sebentar " Kenapa kamu bingungtidak seperti biasanya ?, dibawah Mansion ini ada ruang bawah tanah kan, kita buat disana !"
Rafael tertawa " Hahahaha... saya lupa Tuan, oke saya akan langsung memesan bahan - bahannya dan menyuruh mereka mengirim dengan cepat !"
Julian menghela napas lega " Kak kamu tidak mandi dulu ?" tanya Julian lembut.
" Gila kamu ?, sudah jam berapa ini mandi ?, yang ada aku malah masuk angin !" Darius mengernyitkan dahinya.
" Hehe... habisnya kakak bau " Julian menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Darius tersenyum, dia langsung memeluk Julian " Syukurlah kakak bisa bertemu denganmu lagi, walaupun keluarga kita sudah tidak utuh lagi, tapi kakak senang bisa melihat kamu lagi Julian "
Julian balas memeluk Darius, dia meneteskan air matanya " Aku juga senang bisa bertemu denganmu kak, aku tidak menyangka jika punya saudara " ucap Julian dengan penuh kesedihan.
.
__ADS_1