
Julian sangat geram ketika melihat Yellow ada di bahu Red, Vitalitasnya langsung meledak keluar.
Red dengan santai melambaikan tangannya " Jangan lama - lama, tuan Kenji sudah menunggu kita !" Red belum menyadari jika Julian sudah sangat marah pada mereka.
Tanpa basa-basi Julian langsung menerjang ke arah Fat dengan kecepatan Ekstrimnya, sehingga Fat terkejut karena kecepatan Julian melebihi Red.
Fat Menepuk tangannya " Boomm, Boommm, Boommm...
Julian tidak terpengaruh sama sekali dengan ledakan yang dilakukan Fat " Matilah kau kunyuk !!"
" Boooommm
Ledakan tersebut membuat gerbang Mansion dan sekitarnya hancur lebur, padahal Julian sudah sedikit menahan kekuatannya.
Red yang tadi santai membawa Yellow dia berhenti dan menoleh kebelakang, karena ledakan tersebut hampir mengenainya yang sudah berjarak 100 meter dari sana.
Di Bandara, Wan's dan yang lainnya sudah mulai kewalahan melawan para Klon Natali, karena mereka semua tidak bisa mati.
" Booomm
Sebuah Robot Hancur ketika di tikam di Klon Natali.
Rafael kemudian memberikan Perintah " mundurlah kalian dan gunakan serangan jarak jauh !"
Para Robot langsung mundur dan menembaki Klon Natali, benar saja cambuk Darah tidak biasa bereaksi terhadap tembakan para robot.
Walaupun mereka terus beregenerasi, setidaknya bisa mengulur waktu untuk Rafael menikam titik lemah mereka.
Siapa yang menyangka jika Klon Natali sudah dia atasi dengan menggunakan serangan jarak jauh.
Tiba - tiba Klon S10 muncul dan menghancurkan beberapa robot, sehingga Rafael terkejut.
" Bomm
Beberapa Robot langsung hancur ketika Klon S10 menggunakan pukulan Vitalitasnya.
" Dom kamu hadang dia bersama Teen!" Rafael memberikan perintah.
Keduanya langsung menuruti perintah Rafael,Dom yang memiliki pertahanan kuat meladeni S10, sementara Teen meluncurkan beberapa tembakan besar, agar bisa melukainya.
Sayangnya Dom dan Teen bukanlah tandingannya, walaupun dia cuma Klon tapi kekuatannya setara dengan S10 yang aslinya.
Teen hancur berkeping-keping saat pukulan Klon S10 mengenainya, Rafael terus memberikan perintah, tapi nampaknya para Robot tidak bisa mengalahkan mereka.
Rafael menghubungi Susan " Nona Susan cepat tekan tombol merah itu !"
__ADS_1
Susan terkejut dengan perintah Rafael " Ba..baiklah !" Susan menekan tombol merah tersebut dan Munculah para KLon S kode. Hanya S10 saja yang tidak ada, karena Darius tidak mendapatkan sisa potongan tubuhnya.
Rafael langsung memberikan perintah agar para S kode ke Bandara, karena Rafael yakin Julian tidak memerlukan bantuannya.
Suara tembakan di Bandara terus terdengar untuk menghentikan puluhan Klon Natali, sementara itu klon S10 menghancurkan Robot satu persatu.
Rafael sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi dengan S10, dia hanya bisa menunggu para Klon S kode datang.
Para Polisi dan Militer yang menyaksikan Pertarungan tersebut menelan ludah, karena lawan mereka sangat menakutkan.
Jacob yang melihat para Robot Julian hampir kalah berteriak " Kenapa kalian diam saja !, kita juga sebagai pertahanan terakhir Negara !, ayo serang !!"
Suara Jacob bagaikan tamparan buat para Militer, mereka langsung terbangun dari ketakutan mereka.
" Benar kata tuan Turner !, Ayo serang !"
" Serang !"
" Serang !"
Tank yang dari tadi diam dan beberapa alat tempur bergerak, Helikopter berterbangan.
" Dub
" Dub
Tank menembakkan meriamnya hingga mengenai S10 yang sedang mengamuk itu, walaupun daya ledaknya tidak sebesar tembakan para robot Julian. Setidaknya bisa mengulur sedikit waktu.
" Drrtt
" Drrtt
Helikopter menembaki puluhan Klon Natali dengan senapan mesin yang ada di helikopter.
Wan's dan Alpa melihat para helikopter tersebut, dan sang Pilot mengacungkan jempolnya.
Tempat tersebut sudah seperti area peperangan saja, sudah tidak ada bangunan ataupun pesawat yang utuh, semuanya luluh lantak.
S10 sedikit kerepotan karena serangan Tank selalu mengarah padanya, dia tidak bisa mendekat untuk mengahancurkan mereka semua.
...***...
Di J Mall, Seila yang baru menyadari Julian tidak ada di bertanya pada Celia " Julian kemana Cel?"
Celia menggelengkan kepalanya " entahlah, dia berpamitan juga tidak jelas, katanya kita di suruh menunggu disini sampai dia datang menjemput kita "
__ADS_1
Seila mengerutkan keningnya " Loh kok gitu sih, bukannya dia sudah janji akan menemani kita ?"
Celia menghela napas " Kamu kaya gak tahu Julian saja, mungkin ada kepentingan mendadak, sudahlah kita tidak perlu bahas itu "
Seila juga menghela napas " aku kira akan bersenang-senang dengannya hari ini "
Mereka berdua merasa kecewa, tapi mereka juga sadar kalau Julian orang yang penting di Anarka, jadi bisa saja ada pekerjaan yang harus dia urus.
Di tempat Alina, dia sedang gelisah saat Rafael menyuruhnya agar tetap di kantor dan jangan pulang ke Mansion.
" Sebenarnya ada apa lagi Julian ?, tolong jangan membahayakan nyawa kamu lagi " ucapnya sambil mondar-mandir di ruangannya.
Walaupun Rafael berkata seperti itu, tapi tetap saja Alina Khawatir Julian kenapa-kenapa, karena dia orang yang nekad.
Di tempat Rosi dan Liyana yang sekarang melakukan Bisnis bersama juga merasakan hal yang sama dengan wanita lainnya.
" Ros, menurut mu apa yang sedang terjadi, sehingga Rafael menyuruh kita agar tidak pulang dulu ?" tanya Liyana penasaran.
" Kamu tanya sama aku ?, sementara aku saja tidak tahu apa yang terjadi, Li.. apakah ada masalah lagi yah di Mansion ?" Rosi malah balik bertanya.
Keduanya sangat cemas, sampai - sampai tidak fokus dengan pekerjaan nya masing-masing.
Di tempat Okta tidak kalah cemasnya, dia yang sedang rapat pun tidak konsentrasi dengan apa yang sedang dibahas.
" Nona Okta, apa anda setuju dengan kita semua ?" tanya Asistennya.
" Eh... Iya aku setuju, kita akhiri saja rapatnya sampai disini, kalian bahas perkembangannya dan serahkan padaku nanti !" Okta sudah tidak bisa menahan dirinya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Sementara Rachel, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, karena Rachel sangat jarang memegang ponselnya, dia hanya memegang Ponselnya ketika sedang istirahat saja.
Dia masih fokus mengurus pasien - pasiennya dengan penuh keseriusan.
Para Wanita Julian saling menghubungi satu sama lain untuk menanyakan apa yang sedang terjadi dengan Julian, tapi sayangnya tidak ada yang tahu sama sekali.
Ketika menghubungi Mansionpun tidak ada yang mengangkatnya, di tambah Celia menghubungi Sebastian juga tidak di angkat, karena Ponsel Sebastian tertinggal di dalam Mansion.
Semakin cemas tentu saja, para wanita Julian sangat Cemas, karena tidak bisa menghubungi orang Mansion.
Di tambah mereka tidak boleh meninggalkan tempat mereka, sebenarnya mereka ingin menentang perintah Julian, tapi takutnya Julian marah pada Mereka. Jadi mereka hanya bisa harap - harap cemas di tempatnya masing-masing dengan perasaan yang campur aduk.
...***...
Sementara itu di tempat Julian, Asap yang mengepul mulai menghilang, terlihat Julian yang hanya meninju tanah saja.
Fat yang ternyata tadi menyusut, dia kembali membesar dan memeluk Julian " Matilah kau !"
__ADS_1