System Harem

System Harem
Seila dan Celia


__ADS_3

Julian keluar dari kamarnya, saat dia baru menutup pintu kamarnya dan menoleh, ia melihat Seila yang sedang berdiri di belakangnya.


" Astaga Seila !" Julian mengelus dadanya karena terkejut melihat Seila berdiri disana.


Seila tersenyum tipis " Julian, aku sungguh takut jika harus seperti ini terus. sebenarnya apa yang terjadi dengan musuh - musuh kamu yang menakutkan itu ?"


Seila menanyakan hal itu karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika biasanya para Milyarder hanya bermusuhan dengan sesama Milyarder lainnya karena bisnis mereka. Tapi Julian berbeda, ia memiliki musuh yang bisa membunuhnya.


Julian tanpa ragu memeluk Seila, dia mengusap puncak kepala Seila " maaf karena kamu ikut terlibat dalam masalahku. Aku janji akan segera mengakhiri ini semua agar kalian bisa hidup dengan tenang dan bahagia.


Seila balas memeluk Julian, ia mengeratkan pelukannya " aku tidak ingin kamu kenapa - napa Julian, tolong jangan bertindak lebih dari ini "


Julian memegang dagu Seila agar dia menatapnya sambil mendongak melihat wajahnya.


" Percaya padaku, masalah ini pasti akan aku bereskan secepatnya, sekarang kamu jangan pergi jauh - jauh dari sini dulu. Biar kebutuhan kalian, Alpa yang akan membelinya " Ucapnya penuh dengan kasih sayang.


Seila mengangguk, hatinya melembut karena Julian begitu perhatian dengannya.


Di Anarka dia hanya memiliki Julian, jadi baginya kasih sayang dari Julian terasa sangat berarti baginya.


Julian mengantarkan Seila ke kamarnya, Karena ia terbiasa di manja seperti putri raja. Kamar Seila masih terlihat belum di bersihkan dari debu - debu yang menempel di beberapa tempat.


Julian menggelengkan kepalanya sambil menghela napas " Ayo aku bantu membersihkannya " ajaknya lembut.


Seila tersenyum cerah, ia menganggukkan kepalanya dengan bersemangat. Pasalnya dia menemui Julian memang untuk memintanya membantu membersihkan kamar.


Keduanya mulai membersihkan kamar, Seila juga sangat bersemangat walaupun gerakannya sangat kaku.


Julian yang melihat itu tersenyum tipis, dia perlahan memberikan arahan pada Seila agar mulai belajar mengetahui caranya membersihkan kamarnya sendiri.


Seila juga tidak merasa keberatan, karena dia sudah bertekad tidak mau kalah dengan Wanita Julian yang lainnya. Jadi dirinya sebisa mungkin untuk cepat beradaptasi seperti yang lainnya.


" Akhirnya selesai juga " Julian merebahkan dirinya di ranjang bersama dengan Seila.


" Terimakasih Julian " Ucap Seila sambil menatap Julian.


Julian tersenyum dan menoleh ke arah Seila " sudah sepantasnya aku bertanggung jawab menuntun kamu, asalkan kamu mau belajar seperti ini aku senang kok "


Julian kemudian duduk " Kamu mandi dulu gih, akan kubuatkan minuman untuk kamu "

__ADS_1


Seila juga ikut beranjak " oke " ucapnya sambil mengedipkan mata genit.


Julian beranjak dari duduknya dan meninggalkan Seila yang masih duduk memandanginya pergi.


" Aku pasti berusaha menjadi wanita yang terbaik untukmu Julian ! " gumam Seila dalam hati.


Faktor Daya Seila Bowl : +5


Target Harem Tersentuh dengan perlakuan Host.


Faktor Daya Tarik Seila Bowl sekarang : 95%


[ Karena Target Harem menaikan Daya tariknya ketahap Minimal, anda akan mendapatkan 10 poin kekuatan tambahan, setiap peningkatan daya tarik 1% selanjutnya Host akan mendapatkan 10 poin kekuatan ].


Poin Kekuatan Host sekarang : 10


Julian tersenyum saat keluar dari kamar Seila " Seperti dugaanku, maaf hanya ini caranya agar aku bisa melindungi kalian " gumamnya dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


Julian langsung kedapur, disana kebetulan ada Celia yang membantu Sebastian dan para pelayan menyiapkan bahan - bahan makanan yang dibeli oleh R16 dan Alpa.


" Tuan Lewis " Sebastian yang melihat Julian langsung membungkuk Hormat. Pelayan yang lainnya juga ikut membungkuk Hormat setelah tahu Julian ada disana.


Julian tersenyum, dia memencet hidung Celia " kamu ini yah "


" Ih Julian " Celia merajuk manja.


Sebastian dan Pelayan yang menyaksikan kemesraan mereka berdua hanya bisa tersenyum getir saja. Pasalnya Celia memang sudah tidak malu - malu lagi menunjukkan kedekatannya dengan Julian.


" Sebastian buatkan aku dua es jeruk dan bawa ke kamar Seila yah, aku sedang membantunya membersihkan kamar " Ia memberikan perintah pada Sebastian dan kemudian menatap Celia " apa kamu mau ikut ke kamar Seila ?"


Celia menggeleng " aku mau membantu Ayah dulu, setelah itu baru membereskan kamar " Celia melepaskan rangkulannya.


Julian mengangguk mengerti " ya sudah, aku pergi dulu " ia mengusap puncak kepala Celia dan meninggalkan dapur.


Sebastian melihat anak angkatnya itu yang terlihat sangat ceria daripada para wanita Julian yang lainnya. Mereka masih terlihat sedikit trauma atas kejadian yang menghancurkan Mansion dan menewaskan puluhan pelayan.


" Celia, kenapa kamu tidak bersama tuan Lewis seperti yang lain ?, apakah kamu tidak apa - apa seperti ini ?" Sebastian bertanya dengan khawatir.


Celia menghentikan aktivitasnya dan menatap ayahnya itu " Jika aku bermanja - manja dengan Julian seperti yang lainnya. Aku kasihan dengan Julian, dia juga butuh perhatian dan dukungan Moral, jika semuanya menjadi beban pikirannya terus siapa yang akan mendukungnya. Ayah... aku ingin menjadi wanita Julian yang bisa memberikannya dukungan walau hanya kata semangat saja "

__ADS_1


Celia berbicara dengan penuh ketegasan, dua seolah ingin menjadi Wanita yang benar - benar kuat, agar bisa berdiri tegap di samping Julian.


Sebastian yang mendengar itu menitihkan air mata kebahagiaan, orang yang dia selamatkan dulu dengan traumatis pada seorang pria sekarang sudah menjadi Wanita yang sangat tegar.


" Ayah kenapa ?" Celia cemas saat Sebastian menitihkan air matanya dan lekas menghampirinya.


Sebastian langsung menghapus air matanya " Ayah hanya kelilipan saja, tidak perlu kamu cemaskan " ucapnya sambil menyunggingkan sebuah senyum tulus.


Celia menghela napas lega, Es jeruk pesanan Julian yang sudah jadi langsung di kirimkan ke kamar Seila oleh satu pelayan.


Pelayan masuk kamar Seila yang kebetulan pintunya terbuka " Permisi Tuan " Pelayan masuk dan menarik Es jeruk itu di meja hadapan Julian.


" Terimakasih " ucap Julian tulus.


Pelayan menganggukkan kepalanya, membungkuk hormat dan meninggalkan kamar Seila.


Seila yang baru selesai mandi dan hanya mengenakan pakaian santai, rambut yang masih ditutupi handuknya, dia menghampiri Julian dan duduk di sampingnya.


" Setelah ini kamu mau kemana Julian ?" tanya Seila sambil mengambil es jeruk dan meminumnya.


Julian juga melakukan hal yang sama " Aku mau membantu yang lainnya juga, kalau kamu bosan pergilah ke ruang keluarga disana banyak sesuatu yang bisa membuat kamu sedikit tidak bosan "


Seila mengangguk " aku pasti nanti kesana, Julian kenapa kamu melepaskan Ayah begitu saja ?"


Seila sebenarnya ingin menanyakan masalah Ayahnya saat pertama datang, tapi saat dia tiba masalah demi masalah terus bermunculan jadi dia sedikit lupa dengan pertanyaan itu dan sekarang mengingatnya.


Julian meletakkan gelas Es jeruknya di meja " bukankah sudah jelas jika jawabannya kamu "


" Aku ?" Seila menunjuk dirinya sendiri.


Julian menghela napas " memangnya kalau aku tidak melepaskan Ayah kamu, terus kamu akan seperti ini padaku ?" ia malah balik bertanya pada Seila.


Seila tersenyum kecut, dia menundukkan kepalanya karena malu " Jadi aku sangat berarti untumumu ?"


Julian memegang dagu Seila dan berkata dengan lembut " jika kamu tidak berarti untukku buat apa aku melakukan semuanya untukmu, mulai sekarang singkirkan lah pertanyaan bodoh seperti itu Seila "


Seila mengangguk mengerti, dia menatap mata Julian dengan lensa merahnya itu yang terasa mengintimidasi dan penuh dengan keyakinan.


Karena Seila baru pertama kali berhadapan dengan Julian sedekat itu, jantungnya berdebar sangat kencang, karena ternyata pria yang dia cintai sangatlah mempesona dan penuh dengan karisma.

__ADS_1


__ADS_2