
Setelah siang hari Julian baru bangun, dia melihat disekitarnya, para wanitanya juga masih terlelap, hanya Celia saja yang sudah tidak ada di tempatnya.
Julian beranjak dari kamar tidurnya, di membersihkan diri kemudian meninggalkan kamarnya.
Julian sengaja tidak membangunkan para wanitanya karena dia tahu mereka semua kelelahan setelah semalam Bekerja keras menghadapinya.
Julian ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan, disana ternyata Celia sedang menyiapkan makanan bersama dengan pelayan.
" Kamu ini disuruh jangan bekerja " Julian menegur dengan lembut Celia sambil memeluknya dari Belakang.
Celia mendongakkan kepalanya menatap Julian yang sedang memeluknya sambil tersenyum " Kalau aku berdiam diri terus malah tidak sehat Julian, ini juga hanya kerja ringan "
" Ya sudah sekarang biarkan mereka yang melanjutkan, kamu temani aku makan oke " ucap Julian lembut.
Celia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dia mengikuti Julian ke meja makan dan duduk disana bersamanya.
Mereka berdua makan bersama sambil sesekali saling menyuapi satu sama lain, Sebastian yang melihat itu terharu, dia merasa bersyukur karena Celia bertemu dengan Julian.
Beberapa hari berlalu, hari keberangkatan Julian ke luar Negeri pun tiba, para wanita Julian, Darius dan Susan mengantarkan Julian sampai di Mobil.
Darius memang tidak ikut dengan Julian karena dia yang akan mencari tahu informasi, jika Julian mendapatkan sebuah petunjuk.
" Kakak, aku titip mereka semua " Ucapnya sedikit merasa bersalah.
" Tenang saja, semuanya akan aman, cepat selesaikan masalah kamu dan pulang kembali adik kecil !" Darius menepuk - beluk bahu Julian.
Julian mengahadap para wanitanya " Aku pergi dulu, jaga diri kalian baik - baik, dan ingat bekerja sewajarnya saja, jaga kesehatan kalian !" ucapnya tegas.
" Kamu ini seperti berbicara pada anak kecil saja, kami juga pasti akan menjaga kesehatan, kamu juga disana hati - hati Julian " Rachel mewakili para Wanita Julian untuk berbicaralah.
Julian mengangguk " Aku pasti akan merindukan kalian semua dan kamu tentunya Junior " Ia mengusap perut Celia dengan lembut.
" Ya sudah aku pergi dulu " Julian masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan mereka semua.
Para Wanita Julian melambaikan tangannya mengantar kepergian Julian yang akan pergi berpetualang di negeri baru.
__ADS_1
Selepas kepergian Julian Darius berbicara dengan Rafael " Rafael aktifkan pelindung transparan, dan kerahkan semua robot untuk berjaga !"
" Dimengerti tuan Darius !" Rafael langsung mengaktifkan pelindung transparan dan juga mengaktifkan Robot - Robot yang memang di siapkan untuk berjaga ketika Julian pergi.
Para Wanita Julian kembali beraktivitas seperti biasanya, karena mereka sudah sepakat untuk tidak terlalu memikirkan kepergian Julian yang hanya sesaat itu.
Sementara itu mobil Julian bergerak dengan cepat menuju Bandara J- Aliance Air yang merupakan bandara miliknya.
Di sana sebuah Pesawat pribadi sudah di siapkan untuk membawa Julian pergi ke Andalas.
Hanya butuh waktu satu jam saja Julian sampai di Bandara, tanpa ragu dia langsung masuk kedalam pesawat pribadinya.
Pesawat pun langsung lepas landas ketika Julian sudah masuk dan bersantai di dalamnya, Pramugari melayani Julian layaknya seorang raja saja, pasalnya mereka semua sudah tahu kalau Julian adalah Taipan terkaya Anarka.
Para pramugari itu cantik - cantik tapi sayang, karena mereka sudah tahu Julian dan mengaguminya, jadi System tidak bereaksi pada mereka. Alasannya sudah jelas karena daya tarik mereka pada Julian sudah melebihi 50% sementara batas daya tarik yang masuk kriteria System adalah 10% saja.
Di dalam pesawat Julian mainkan sebuah game agar dia tidak bosan dan tergoda oleh para pramugari yang sesekali menggodanya.
Julian tidak tertarik dengan Wanita yang tidak masuk kriteria System, karena baginya hanya membuang waktu saja jika mendekati mereka dan tidak ada hadiah yang pasti. Berbeda jika Wanita yang sudah terkait dengan System, tentu Julian akan meladeninya walupun Wanitanya sudah banyak di rumah, tapi niatnya memang memiliki kerajaan haremnya sendiri.
Di Andalas Julian memang belum memiliki perusahaan, tapi dia juga sebenarnya sudah berniat untuk berinvestasi di Andalas, sebelum ada kejadian seperti itu.
Julian turun dari pesawatnya dengan santai, dia seperti orang biasa yang tidak memiliki kekayaan, Ia memakai kacamata hitamnya dan mencari sebuah taksi di luar bandara.
" Taksi !" Julian melambaikan tangan dan berteriak ketika melihat taksi yang lewat.
Taksi pun berhenti di hadapan Julian dengan sigap " Silahkan masuk tuan !" sopir terlihat sangat sopan pada Julian.
Julian tersenyum dan memasuki taksi tersebut. Sopir taksi bertanya ketika Julian sudah masuk dalam Mobilnya " Anda mau kemana Tuan ?"
" Apartemen Sentra Java !" jawabnya tegas.
Sopir taksi terkejut, ternyata dia mendapat penumpang kaya, Karena Apartemen Sentra tempatnya para anak - anak orang kaya menginap.
" Kenapa bengong ?, Ayo jalan !" Julian menegur sopir yang tertegun.
__ADS_1
" Eh.. ba..baik tuan !" Sopir langsung menginjak pedal gas dan meninggalkan tempat tersebut.
Julian memandangi Kota Andalas yang terlihat sangat modern, banyak sekali gedung pencakar langit, tapi disana pohon - pohon juga tertata rapi , sehingga tempat tersebut terasa sangat nyaman dan sejuk.
" Negara yang indah " gumam Julian takjub memandangi kota Sentra.
Walupun baru pertama kali ke sana, tapi Julian merasa sangat nyaman, karena kota Sentra begitu tertata rapi.
Tak berselang lama, Julian sampai di Apartemen Sentra Java, dia membayar biaya taksi dan keluar dari taksi.
Julian menatap Apartemen tersebut, dia kemudian langsung masuk ke dalam Apartemen.
Security penjaga mau menahannya, tapi Julian langsung memperlihatkan Kartu kepemilikan Apartemen, jadi Security tidak berani untuk menahannya.
" Selera kamu bagus juga Rafael " gumam Julian lirih.
Julian cukup senang dengan Apartemen tersebut, karena bukan hanya bersih dan nyaman, tapi teknologi di dalamnya juga sangat bagus.
Julian asyik melihat - lihat Area sekitar, kebanyakan orang yang dia lihat memakai berbagi perhiasan ataupun baju mewah, menandakan jika tempat tersebut, tempatnya para anak orang kaya berkumpul.
Semua orang menatap Julian yang memakai kemeja putih dengan Jas yang dia sampirkan di lengannya.
Karena Jas putih Julian sedikit ketat, jelas saja memperlihatkan bentuk tubuhnya yang proposional itu.
Julian tidak menghiraukan mereka yang menatapnya, karena tujuannya sekarang menuju tempatnya dulu dan beristirahat sejenak.
Julian memasuki Lift, dia menuju lantai dua puluh, lantai teratas dimana kamarnya berada.
Julian menunggu dengan santai di dalam Lift sambil ngobrol dengan Celia yang sengaja di telepon menggunakan jaringan yang di buat Rafael, jadi mau ada di manapun dia bisa berhubungan dengan para wanitanya, walau tidak ada sinyal sekalipun.
Pintu Lift terbuka Julian melangkahkan kakinya keluar, saat dia baru keluar dari Lift seorang Wanita menabraknya.
" Bruaakk
" Awww !
__ADS_1