System Harem

System Harem
Sebuah Angan


__ADS_3

Di rumah Natali dan Julian yang dulu, Darius, Susan dan Natali sedang beberes karena mereka akan tinggal disana.


Natali membereskan kamarnya yang dulu tempat dia bergelut dengan Julian walau hanya beberapa kali saja, Natali masih teringat jelas ketika Julian memompanya, dia tidak berekspresi dan membuat Julian senang, dia hanya berbaring saja sambil memainkan Ponselnya.


Mengingat Hal tersebut Natali merutuki kebodohannya, dia dulu memang sangat kejam pada Julian, padahal Julian sangat menyayanginya.


Natali membuka laci disamping ranjang, karena dia teringat jika ditempat tersebut ada selembar foto pernikahannya dengan Julian, yang di dulu pajang Julian dengan bingkai tapi dia menaruhnya didalam laci.


Natali mengambil foto tersebut, kaca bingkai sedikit tertutup debu, Natali mengusapnya, terlihat Julian yang tersenyum cerah dalam foto tersebut, tapi Natali terlihat memaksakan sebuah senyum.


Betapa sakitnya hati Natali, Air matanya menetes kembali " Julian, maafkan aku.. hiks..hiks..." Natali memeluk foto tersebut dan nangis tersedu - sedu.


Darius dan Susan yang tadinya mau masuk ke kamar Natali untuk membicarakan sesuatu, mereka tidak jadi masuk ketika mendengar Natali yang sedang menangis.


Darius menghela napas " Begitulah wanita, jika dia salah menilai pria akan menyesal seumur hidupnya " ucap Darius lemah.


Susan mengerutkan keningnya " Setidaknya kami para Wanita masih mengakui kesalahan kami, daripada para Pria sudah ketahuan bersalah saja masih berkilah " ucap Susan sinis.


Darius tersenyum getir, dia tidak berani berbicara lagi, karena setiap kata - kata Susan sangat menohok untuk dirinya.


...***...


Sementara itu Julian tidak sengaja lewat Rumahnya yang dulu, dia melihat sebuah Mobil didepan Rumah. Julian menghentikan Mobilnya.


" Apakah Natali tinggal disini lagi ?, tidak,tidak, tidak mungkin dia mu tinggal di Rumah ini, wanita sepertinya sangat gila dengan harta, mana mungkin dia mau tinggal dirumah yang kecil. Tapi ini Mobil siapa ?" Julian penasaran dengan keberadaan Mobil tersebut.


Julian menghela napas " sudahlah, mungkin rumah ini sudah di jual ke orang lain !" Julian menginjak pedal gas Mobilnya dan meninggalkan rumah tersebut.


Julian berpikir seperti itu karena dia pikir Natali sudah menjual Rumahnya, karena Julian belum tahu jika Natali sudah benar - benar berubah.


Julian bingung mau kemana lagi, sebenarnya jika tadi dia tidak melihat Mobil didepan Rumahnya yang dulu, dia ingin singgah disana untuk menenangkan pikiran, tapi dia mengurungkan niatnya karena dia pikir rumahnya sudah ditempati penghuni baru.


Julian mengemudikan Mobilnya tanpa Arah dan tujuan, dia berkeliling kota Fornas seharian penuh untuk menunggu waktu malam tiba untuk bertemua dengan Ayah Rosi.


Sementara itu di kamar Rosi, dia yang libidonya sedang naik, membayangkan sedang digarap Julian seperti saat di Mansion Julian, dia mengeluarkan semua mainannya tapi ukuran Mainannya tidak ada yang sebesar pusaka Julian.

__ADS_1


" Ah...Julian.... terus pompa aku " Rosi mengeluarkan masukan Mainannya di Goanya dengan sangat cepat.


Dia memainkan kacang kecil yang menyembul di atas Goa, sambil memompa Goanya dengan mainan.


" Ah Julian....


" Ahhhhhhh.....


Tubuh Rosi menegang, dia akhirnya mencapai puncak dan membiarkan Mainannya terus menancap dalam Goanya sambil terbaring di ranjang.


" Huaaaaciiiimmmmm !, Sial !, siapa yang sedang memikirkan aku sekarang ini " gerutu Julian yang sedang mengisi bahan bakar Mobilnya.


Setelah mengisi bahan bakar Mobilnya dia pulang ke Mansionnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum dia menemui orang Tua Rosi.


Ketika sampai di Mansion dan masuk kamar, Celia sudah menunggunya hanya dengan mengenakan pakaian tipis yang memperlihatkan semua lekuk tubuhnya.


Celia sudah seperti budak **** Julian, dia akan selalu menunggu Julian menggarapnya, bisa dikatakan hampir setiap hari Julian menggarap Celia.


Benar saja ketika Julian melihat Celia yang memakai pakain tipis, tanpa aba - aba pusakanya langsung berdiri tegap di balik celananya.


Julian mengunci pintu, dia langsung membuka semua pakaiannya.


Pergelutan mereka berdua berlangsung hanya satu dua jam saja, karena Julian memiliki Janji dengan Rosi.


Celia yang awalnya berdandan dengan sangat cantik, sekarang terlihat kusam, akibat Julian yang membolak - baliknya dengan penuh gairah.


Rambut Celia menjadi lepek karena peluh yang dihasilkan dari pergulatan tersebut, napasnya tersengal - sengal. Kakinya bergetar hebat akibat dalam dua jam dia sudah mencapai puncak ketiga kali.


Mata sayu Celia menatap Julian yang beranjak dari ranjangnya, Celia bertanya dengan lirih " Kamu mau kemana Julian ?"


Julian menjawab sambil berjalan ke kamar mandi " Aku ada janji bertemu dengan temanku "


Celia menghela napas, padahal dia berharap bisa tidur memeluk Julian untuk malam ini, tapi tampaknya dia harus menahan diri.


" Julian, akhir - akhir ini kamu terlalu sibuk, kamu sampai lupa merawat diri kamu sendiri, aku harap kamu tidak terlalu capek Julian " gumam Celia yang masih terbaring lemah di ranjang.

__ADS_1


Bukannya mengkhawatirkan dirinya sendiri, Celia malah khawatir dengan Julian.


Celia merasa jika dia berhubungan badan dengan Julian, cintanya pada Julian semakin menguat, ditambah Julian seolah semakin perkasa saja, walaupun sudah main dua jam dengannya dia seperti kurang puas.


Padahal Celia sudah mati - matian menahan serangan - serangan pusaka Julian yang Notabenya ketika menghujam begitu dalam terasa begitu nyeri, apalagi saat Julian memompanya dengan cepat, buat bernapas saja Celia terasa susah.


Julian keluar dari kamar mandi dia mengenakan Pakaiannya, sebelum berangkat dia mengecup kening Celia dan ******* gunung kembar jumbo Celia dengan gemas.


" Ih...Julian !" Celia merajuk manja.


Julian tersenyum " Aku pergi dulu yang, kamu istirahat, agar ketika aku pulang kamu sudah siap lagi " goda Julian pada Celia.


Celia tersenyum tipis, dia kemudian menganggukkan kepalanya.


Julian meninggalkan Celia sendirian di kamarnya, kali ini Julian pergi ke rumah Rosi menggunakan Lamborghini Vanenonya.


Julian mengikuti alamat yang diberikan Rosi, hanya dalam lima belas menit saja Julian sudah sampai dirumah Rosi.


Julian melihat rumah Rosi yang cukup sederhana, padahal Ayahnya seorang kepala Polisi Provinsi Anarka.


Julian memasang Handset kecil buatannya sendiri, dia kemudian berkata pada Rafael " Rafael, apa kamu mendengarku ?"


" Saya selalu mendengar Tuan ! " jawab Rafael cepat.


Julian menganggukkan kepalanya " Jangan Lupa untuk membantuku bicara ketika aku tidak bisa menjawab pertanyaan kepala Polisi !, tapi ingat berikan jawaban yang bisa memuaskannya !"


" Saya mengerti Tuan, Tuan tidak perlu Khawatir !"


Julian melakukan hal tersebut karena dia tahu jika Ayah Rosi pasti akan mengintrogasinya, tidak mungkin jika dia akan bicara seperlunya saja.


Karena mereka akan membahas surat perijinan Resmi impor barang.


Ayah Rosi yang terkenal dengan keadilannya, pasti dia akan mengorek informasi dari Julian, untuk itulah Julian menyiapkan Rafael untuk membantunya. karena Julian yakin Jika Rafael bisa melakukan hal tersebut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2