System Harem

System Harem
S3 dan S2 Musnah !


__ADS_3

"Bommmmm !


Suara ledakkan begitu keras terdengar saat pedang besar Julian berbenturan dengan sesuatu.


Lulian mengeratkan pegangan pedangnya dan menekannya ke bawah. Ternya S6 yang berubah menggunakan Perisai transparannya melindungi S3 dan S2.


S3 langsung menggunakan kecepatan penuh langsung bergegas pergi. Sayangnya Julian yang sekarang sudah bisa sedikit menebak pergerakan lawan walau hanya dua detik saja.


" Wuzz


" Praatt


" Brakk


" Duaarr


S3 terpoting menjadi dua karena tebasan Julian mengenainya, dia dan S2 terpisah dan terplanting ke masing - masing tempat akibat kecapatan S3 yang sangat ekstrim.


Tubuh bawah S3 yang terpotong berdiri, dia berlari menuju potongan tubuh atasnya.


Julian mau menghancurkannya tapi S6 menahannya menggunakan Perisai transparannya.


Mata Julian merah menyala, dia mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat.


" Krakk


" Praang


Perisai transparan itu hancur berkeping - keping, S6 terkejut karena perisainya berhasil Julian tembus. Dia mencoba menggunakan perisai transparan lagi. Tapi Julian terus menerus menebasnya.


S2 hampir selesai memulihkan diri, sementara S3 sedang berusaha menyambungkan tubuh atas dan tubuh bawahnya kembali.


" Wuzzz


" Booomm


Julian melompat dari ketinggian dan menghancurkan S3 seutuhnya.


S2 yang melihat hal itu sangat marah. Dia langsung menyerang membabi buta Julian.


Julian yang sudah memiliki kekuatan setengah Dewa dia bisa melihat pergerakan S2 dan langsung mencengkram lehernya.


S2 kelojotan di tempat, Teen menembaki kaki S2 hinga berlubang - lubang dan tidak bisa digerakkan lagi.


" Pletak

__ADS_1


Leher S2 patah, Julian melemparkannya ke langit " Teen !"


" Wuzz


" Duaarr


S2 pun langsung berubah menjadi potongan - potongan kecil. S6 yang dari tafi tidak menampakkan diri langsung kabur karena S2 dan S3 sudah mati di tempat.


Julian langsung pergi ke arah dua Jendral Tua " Tuan Walcot, Tuan Jacob sisanya saya serahkan pada anda, Teen kita pulang !"


Teen berubah menjadi Motor, Julian dengan gagahnya meninggalkan tempat tersebut tanpa rasa bersalah sedikitpun. Walau sudah menghancurkan tempat tersebut.


Walcot dan Jacob hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas berat.


Dengan kecepatan penuh Julian sampai di mansionnya. Ia mengerutkan kening ketika Mobil para wanitanya dan sebuah Ambulance ada di depan Mansion.


Julian turun dari Teen dan masuk kedalam Mansion untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Julian melihat para Robot baru turun dari atas, mereka menyapa Julian " Tuan Lewis " Walaupun penampilan Julian berbeda tapi bagi mereka Julian sama saja seperti dulu.


" Ada apa ini ?" tanya Julian datar.


" Semua wanita anda menyarankan agar Nona Liyana dirawat dirumah saja agar lebih aman " Wan's menjawab.


Julian mengangguk mengerti, dia keatas untuk berganti pakaian. Di jalan dia berpapasan dengan Rosi tapi Ia tidak mengenalnya dan tidak bertanya.


Anehnya Celia bisa langsung mengenali Julian saat berpapasan " Julian, kamu sudah pulang ?"


Seketika Rosi yang belum terlalu jauh menoleh saat mendengar nama Julian, Melihat Celia yang memanggil pria yang berpapasannya dengan nama Julian dia mendekat.


" Celia, apa kamu tidak salah orang ?" tanya Rosi tiba - tiba.


Celia mengerutkan keningnya " maksud kamu ?"


" Kenapa kamu memanggil dia Julian ?, bukankah mereka sama sekali berbeda ?dan kamu siapa kamu sebenarnya ?" Rosi menyilangkan tangannya di depan dada.


Julian tersenyum dia memeluk Rosi dari belakang dan berbisik " Secepat itu kamu lupa padaku ?, apa aku perlu mengingatkanmu lagi di kamar ?"


Seketika wajah Rosi memerah " Kamu serius Julian ?, kenapa kamu berbeda ?" Rosi menurunkan tangannya yang di silangkan didepan dada sambil memlintir - mlintir bajunya.


Julian melepaskan pelukannya " Kamu saja yang merasa aku berubah, Celia saja dapat mengenaliku, Cup ! " Julian mengecup Celia dan Rosi kemudian meninggalkan mereka berdua untuk mandi.


Rosi memegang bibirnya, sudah lama dia tidak merasakan sentuhan itu. Rasanya sangat manis.


Rosi kemudian tersadar, dia bertanya pada Celia " Cel kenapa kamu bisa tahu kalau itu Julian ?, padahal kamu juga tahu kalau dia sangat berbedakan ?"

__ADS_1


" Baunya Ros !, bau Jukian berbeda dengan pria lain, aku akan langsung tahu itu Julian kalau sudah mencium baunya " jawab Celia yakin.


Rosi melebarkan rahangnya, Karena ternyata masih ada cara untuk mengetahui orang yang di cintainya melalui baunya.


Rosi benar - benar baru tahu jika istilah Cinta itu gila memang benar adanya, Celia sudah membuktikan hal itu.


" Sudah tidak perlu bahas itu, katanya kamu mau memotong buah untuk Liyana, Ayo aku temenin " Celia menggandeng Rosi ke dapur.


Sementara itu di dalam kamar Liyana, dia sudah tersadar walau masih lemah. Rachel, Alina dan Okta menemaninya di dalam kamar.


" Terimakasih yah Chel " Liyana berbicara dengan parau.


Rachel tersenyum " kamu seperti sama siapa saja, kita ini saudara jadi tidak perlu sungkan seperti itu "


Liyana tersenyum lemah, Alina dan Okta mendekat mereka juga memberikan semangat pada Liyan agar cepat pulih seperti dulu lagi.


Tak berselang lama pintu terbuka, Julian yang sudah berganti pakaian terlihat bertambah tampan saja.


Rachel, Alina dan Okta sampai tertegun menatap Julian. Liyana yang baru menyadari kehadiran Julian dia mengerutkan keningnya.


" Siapa kamu ?" tanya Liyan ketika Julian mendekat sambil membawa Bunga di Vas untuk di tarus di laci dekat ranjangnya.


Julian tidak marah sama sekali, dia malahan tersenyum pada Liyana " Apa karena sakit kepala kamu melupakan aku Li ?" Julian mengusap puncak kepala Liyana.


" Astaga kamu Julian ?" Rachel buka suara karena terkejut. Seketika semua orang juga tersadar.


" Ya ampun Julian, apa kamu habis Operasi plastik ?" tanya Alina sambil memegang kepala Julian.


" Ya benar kamu sekarang tambah tampan " Celetuk Okta tanpa berkedip menatap Julian.


" Hais kalian ini , apa mata kalian sudah tidak baik - baik saja ?, padahal aku dari dulu juga seperti ini " Julian menggeleng - gelengkan kepalanya seolah dia memang tidak berubah sama sekali.


Rachel, Alina dan Okta saling menatap mereka yakin kalau Julian begitu berubah. Bukan hanya tampan tapi tinggi dan ketegapan tubuhnya juga berbeda.


Julian tidak memperdulikan mereka semua, dia hanya ingin sedikit memanjakan Liyana yang sedang sakit itu.


" Apa kamu ingin sesuatu Li ?" tanya Julian lembut.


Liyana menggelengkan kepalanya " Aku tidak ingin apa - apa, kamu benar Julian ?" ia bertanya memastikan.


Julian meraih tangan Liyana dan meletakkan di wajahnya " Aku beneran Julian Li, apa kamu sudah tidak mengenaliku Lagi atau jangan - jangan kamu hilang ingatan ?"


" Pletak


" Kalau bicara jangan sembarangan " Rachel menjitak Julian.

__ADS_1


Julian memegang kepalanya " Ya maaf, aku cuma bercanda Chel "


Liyana dan Yang lainnya kemudian tertawa, Rachel dan Julian juga ikut tertawa. Ruangan tersebut terlihat lebih hidup saat ada tawa menggema di sana.


__ADS_2