
" Wiliam antar aku jalan - jalan !" Alina memberikan perintah pada Wiliam yang memang pengawal pribadinya.
" Baik Nona " Wiliam dengan sigap menyiapkan Mobil untuk membawa tuannya itu jalan - jalan.
Wajah Alina terlihat sangat geram, di sepanjang perjalanan, dia masih kesal dengan Ayahnya yang selalu menganggap dirinya tidak berguna sama sekali.
" Nona kita mau kemana ?" tanya Wiliam lembut, agar Alina tidak terusik dengan pertanyaannya.
" Kemana saja paman Wiliam, yang pasti bisa membuatku lebih tenang " jawabnya sambil melihat keluar jendela Mobil.
Wiliam mengangguk, dia tidak banyak bertanya lagi, karena dia sudah hafal betul dengan sifat Alina.
Mobil yang di kendarai Wiliam terus melaju kencang. Tak berselang lama mereka sampai di sebuah pantai yang sangat ramai.
Wiliam sengaja membawa Alina kesana untuk membuat Alina tersenyum kembali, karena Wiliam tahu kalau Alina akan cepat mudah melupakan masalahnya jika bertemu banyak orang.
Benar saja wajah Alina mulai terlihat sumringah, dia langsung turun dari Mobil dan langsung ke pantai.
Karena matahari begitu terik, Wiliam membuka payung agar tuannya itu tidak terlalu kepanasan.
" Paman memang yang paling mengerti aku, terimakasih paman " ucap Liyana sambil melihat orang-orang yang sedang bersenang-senang di pantai.
" Nona terlalu memuji, saya hanya menjalankan kewajiban saja " jawabnya tetap rendah hati.
Alina menghela napas " Paman selalu saja terlalu formal denganku, padahal aku sudah menganggap paman seperti ayahku sendiri " ucap Alina tidak berdaya.
Wiliam hanya tersenyum saja mendengar perkataan Alina, dia memang sengaja melakukan itu agar Alina tidak keberatan jika dia memberinya sesuatu.
Tak berselang lama, mereka berdua melihat seorang gadis yang sedang di bawa oleh tiga orang pria.
Kemudian seorang pria mengejarnya, terjadilah baku hantam disana, pria yang mau menolong gadis itu di hajar oleh mereka bertiga.
Alina terlihat tersenyum menatap pria tersebut, Wiliam yang melihat itu tentu saja tahu kalau Alina tertarik pada pria tersebut.
" Apa saya perlu membantunya Nona ?" tanya Wiliam pada Alina.
Alina menggelengkan kepalanya " tidak perlu, kita lihat dulu seberapa kuat tekadnya "
Benar saja tiba - tiba kejadian berbalik, si Pria yang akan menyelamatkan gadis itu menjadi kuat, walaupun serangannya sangat absurd tapi dia berhasil mengalahkan ketiga pria yang membawa gadisnya.
Ya itulah awal Alina melihat Julian dan tertarik padanya, sejak saat itu Wiliam di suruh untuk menyelidiki identitas Julian.
***
__ADS_1
Selesai berjalan - jalan Alina di antar ke tempat Rosi Dail, karena Alina memang berasahabat baik dengannya.
" Tok, tok, tok
" Ros buka pintunya !" teriak Alina dari luar pintu Rosi.
" Ahhh.... sebentar lagi Lin, Ahh.... !" Terdengar sautan Rosi yang sangat aneh.
Alina menghela napas " Rosi ! di luar masih banyak pria, mau sampai kapan kamu terus seperti ini !" teriak Alina sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
" Ahh...... " bukannya menjawab malah terdengar lolongan Rosi yang sepertinya mencapai puncak.
Alina menepuk jidatnya, dia tidak menyangka kalau teman baiknya itu sudah tidak bisa di hentikan lagi saat sedang asyik dengan mainannya.
" Cekrek
Pintu terbuka, terlihat Rosi yang tidak mengenakan sehelai benangpun langsung menarik masuk Alina.
Rosi langsung ******* bibir Alina, tapi Alina mendorong Rosi " Sialan kamu Ros ! Aku masih normal !" bentak Alina pada temannya itu.
" Gitu aja marah, gak asik kamu Lin !" Rosi kembali ke ranjangnya.
Alina menghela napas saat melihat mainan Rosi berserakan dimana-mana, dia tidak bisa berkata-kata lagi dengan kelainan temannya itu.
" Ada apa Lin ?" tanya Rosi langsung.
" Besok aku ada undangan ke pesta, apa kamu mau ikut ?" Alina balik bertanya.
Rosi mengerutkan keningnya, dia menatap temannya itu dengan menyelidik, karena biasanya Alina akan menolak undangan pesta.
" Kenapa kamu menatapku seperti itu ?" tanya Alina kesal.
" Tidak apa-apa, hanya saja ada yang aneh dengan dirimu Lin " jawab Rosi singkat.
" Kamu yang aneh bodoh ! Banyak pria di luar sana malah main sama benda mati !" tegur Alina ketus.
" Heleh... jangan sok menasehatiku, kamu saja masih perawan sampe sekarang !" Rosi balik mengejek.
Mereka berdua saling mengejek seolah bakal bertengkar saja, tapi keduanya tiba - tiba tertawa bersama " Hahahaha...."
" Ternyata kita memang sama - sama memiliki kelainan Lin " ucap Rosi lagi.
Alina mengerutkan keningnya " Sory yah, aku sudah menemukan pria pujaan ku "
__ADS_1
Jelas saja Rosi terkejut, karena bagaimana mungkin ratu Es tersebut sudah memiliki pria pujaan, sedangkan selama ini dia hanya diam dan menanggapi pria manapun.
" Tunggu dulu, jangan bilang kamu ke pesta untuk menemuinya ?" tanya Rosi menyelidik.
Alina tersenyum " kamu memang paling mengerti aku "
" Alina kamu serius ?" tanya Rosi lagi.
Alina mengernyitkan dahinya " Apa maksudmu Ros, tentu aku serius, karena aku tidak seperti kamu yang puas hanya dengan benda mati " ejek Alina.
" Setidaknya benda mati bisa memberi kepuasan tanpa harus menyakiti " jawab Rosi yakin.
" Susah bicara sama masokis seperti kamu ! Jadi mau ikut enggak ?"
Rosi menganggu " Ikutlah, aku ingin lihat pria seperti apa yang bisa membuat kamu kepincut "
Alina hanya senyum - senyum sendiri tanpa menjawab pertanyaan Rosi, karena dia sedang membayangkan betapa tangguhnya pria yang di lihatnya kemarin.
Rosi yang melihat itu semakin yakin kalau Alina benar - benar serius dengan perkataannya itu.
Besok malamnya mereka berdua pergi ke pesta bersama, tentu saja Wiliam yang menyupir untuk mereka berdua.
Keduanya turun dari Mobil saat sudah sampai di tempat pesta tersebut, banyak pria yang memandangi keduanya, karena mereka berdua memang wanita yang cantik.
Tapi Wiliam memelototi mereka semua, sehingga para pria tersebut semuanya ketakutan saat melihat Wiliam yang seperti itu.
" Dasar pria - pria pecundang !" ejek Rosi lirih.
" Sudahlah, ayo masuk " Alina mengajak Rosi masuk ke dalam tempat tersebut.
Masih dengan tatapan nakal para pria yang melihat keduanya sepanjang perjalanan, Alina dan Rosi tidak perduli sama sekali dengan mereka, karena tujuan mereka adalah bertemu dengan Julian.
Noah menyambut mereka berdua dengan bersemangat, karena dia bisa mengenalkan dua bidadari tersebut pada partnernya Julian yang merupakan orang kaya baru disana.
" Selamat datang Nona - Nona " Sambut Noah dengan sopan.
Alina dan Rosi hanya tersenyum saja tanpa berkata-kata, mereka berdua pun duduk di tempat yang sudah di sediakan oleh Noah.
Tak berselang lama terjadi keributan disana, Wiliam langsung menghampiri lokasi keributan.
Ketika keributan sudah berakhir, terlihat Julian dengan wajah yang masih terlihat lebam karena perkelahian di pantai, dia menghampir Noah, Alina dan Rosi.
Alina langsung berdiri dan mengenalkan diri, sementara Rosi juga sebenarnya langsung tertarik dengan Julian waktu mereka pertama kali bertemu, hanya saja dia tidak mau bertengkar dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Di sanalah awal Julian, Alina dan Rosi mengawali hubungan sampai sekarang, penyakit Rosi yang sering menggunakan Mainan juga sudah menghilang akibat keperkasaan Julian.