
Julian menatap kedua wanita yang sedang menatapnya dengan Serius.
Julian kemudian menegur Rosi " Bagaimana Ros ?"
Rosi tersadar " Kamu tidak sedang bercandakan Julian ?" tanya Rosi memastikan.
" Buat apa aku bercanda ?, aku tidak pernah bercanda jika berbicara masalah bisnis !" jawab Julian mantap.
Rosi menghela napas " Baiklah, nanti aku coba berbicara dengan Ayahku "
Julian tersenyum " Terimakasih Ros"
Julian kemudian gantian bertanya pada Alina " Alin, apa kamu mau menjadi CEO, di dua perusahaanku yang akan mengelola hasil minyak Bumi ini Nanti ?"
Sontak saja Alina terce, pasalnya dia mengira jika Julian akan mengajak perusahaannya, tapi dia malah menawarkannya untuk menjadi CEO.
Tentu saja kepala Alina langsung berdengung ketika Julian mengatakan hal tersebut, pasalnya dia tidak pernah berpikir sampai kesana.
Alasan Julian ingin memberika Posisi CEO pada Alina, dia tahu jika Alina bukanlah pewaris satu - satunya Rose Luxury.
Alina Memiliki Seorang Kakak yang yang Notabenya sudah menjadi tangan kanan Ayahnya, jadi bukan tidak mungkin jika posisi Alina di keluarganya sedang tidak baik - baik saja.
Melihat Alina yang terdiam, Julian menegurnya " Bagaimana Alina, apakah kamu mau ?"
Alina tersadar " Eh... anu..itu.... aku..." Alina terlihat bingung untuk menjawabnya.
Julian tersenyum " Kamu tenang saja, ketika kamu akan di angkat menjadi CEO perusahaan kamu sendiri, kamu bisa mengundurkan diri kapanpun kamu mau Alina, aku tidak akan membuat kontrak untukmu, kamu bebas untuk memutuskan kapan kamu akan pergi dari perusahaanku "
Tawaran Julian sangat menggiurkan, di perusahaanya saja dia belum di perbolehkan untuk memegang sebuah perusahaan, walaupun itu cuma perusahaan Cabang.
Tapi Julian dengan entengnya memberikan Posisi CEO begitu saja, hanya orang bodoh yang akan menolak tawaran tersebut.
Rosi buka Suara " Sudah terima saja, bukankah itu bagus untuk kamu Alin, kamu juga bisa menunjukan pada keluargamu jika kamu mampu memegang sebuah perusahaan, Bukankah begitu Julian ?"
Julian mengangguk sembari tersenyum " Aku juga tidak memaksa, jika kamu tidak mau, aku akan mencari orang lain, tapi aku berharap kamu mau menerima tawaranku " ucap Julian lembut.
Alina menghela napas " Baiklah, aku terima tawaran kamu, tapi aku tidak bertanggung jawab jika perusahaan mengalami kerugian !" ucap Alina membuat kesepakatan.
" Tentu saja, semua kerugian aku yang akan menanggungnya " jawab Julian yakin.
" Aku benar - benar tidak tahu apa yang ada dipikiran Julian, apakah dia tahu jika posisi aku di keluargaku terancam ?" Alina bertanya - tanya dalam hati.
__ADS_1
Alasan Julian sebenarnya sederhana, dia tidak mau repot - repot mengurus perusahaannya, jika ada yang bisa di manfaatkannya kenapa tidak ?.
Julian hanya ingin menaikan Faktor Daya Tarik target haremnya saja, Jika dengan menempatkan merke disebuah perusahaan bisa membuat Faktor Daya Tarik Naik, bukankah hal tersebut seperti pepatah lama ' Sekali lempar dua burung kena sekaligus '
Untuk itu Julian sebisa mungkin memanfaatkan target haremnya, Toh mereka juga tidak keberatan sama sekali.
Setelah mengobrol dengan Alian dan Rosi, Julian masuk ke kamarnya, karena rencana dia dan Rafael berhasil.
...***...
Sementara itu Brown yang disuruh Pulang oleh Alina karena dia akan menginap di Mansion Julian.
Brown mengunjungi Markas kelompok Bawah tanah yang dulu dia pimpin, yang Notabenya sebuah Bar dan dibawah tanah ada Kasino juga.
Brown dengan santai memasuki Bar tersebut, kedua penjaga Bar langsung membungkuk Hormat.
" Tuan Dark selamat datang " Ucap kedua penjaga Kompak.
Brown hanya menganggukkan kepalanya, dia langsung menuju ke sebuah ruangan tempat pemimpin Kelompok Bawah Tanah Kota Fornas.
Ketika Brown Masuk, dia melihat seorang pemimpin kelompok tersebut sedang merokok dengan kedua kaki yang di letakkan di Meja, sembari merangkul seorang Wanita malam yang ada disampingnya.
Terlihat juga tiga orang anak Buah pemimpin tersebut yang tersungkur dihapannya dengan babak belur, akibat dihajar oleh anak buah pemimpin tersebut yang lain.
" Dasar Bodoh !!, mengurus seorang pecundang saja kalian tidak becus !, seharusnya kalian Mati saja !" ucap Pemimpin tersebut.
" Hajar mereka lagi !!"
Ketika Anak buah yang di suruh menghajar mereka, melihat Brown yang berdiri dengan tenang di belakang Pemimpinnya.
Tangannya yang sudah melayang, dia tarik kembali dan berdiri sembari menundukkan kepalanya.
Pemimpin mengerutkan keningnya " Apa kamu tidak mendengar ucapanku ?!, atau kamu juga ingin seperti mereka ?!" ucap Pemimpin tegas.
Tapi orang tersebut tetap diam, dia masih menundukkan kepalanya.
Pemimpin berdiri " Brengsek !!, kamu bera...."
Pemimpin belum selesai bicara, Brown buka Suara " Betapa hebatnya kamu sekarang Roks " ucap Brown datar.
Seketika Roks langsung menoleh, ketika melihat Brown, wajahnya langsung memucat, Rokok di mulutnya langsung terjatuh, karena dia terkejut.
__ADS_1
" Tu..Tuan Dark !" Pemimpin tersebut langsung menghampiri Brown dan membungkuk Hormat.
Brown menatap wanita yang yang tadi di rangkul Roks " Kamu keluarlah !" ucap Brown tegas.
Melihat Roks yang membungkuk Hormat pada Brown, tentu saja wanita tersebut langsung ketakutan, dia segera keluar dsri ruangan tersebut.
" Tutup pintunya !" perintah Brown ketika wanita tersebut sudah pergi.
Roks langsung bergegas menutup pintu, dia kemudian mempersilahkan Brown duduk.
Brown duduk dengan santai, Roks langsung menuangkan Anggur termahal yang ada di ruangan tersebut.
Roks terlihat sangat menghormati Brown, dia yang biasanya duduk dengan santai, sekarang dia berdiri layaknya seorang anak buah yang patuh pada Tuannya.
" Kamu tahu kenapa aku kesini ?" tanya Brown santai.
Roks menggeleng " Saya tidak tahu Tuan Dark, apakah ada sesuatu yang penting dari Markas Pusat ?" tanya Roks sopan.
Bukannya menjawab pertanyaan Roks, Brown malah balik bertanya " mereka bertiga menghadang seseorang, apakah yang menyuruh kamu ?" tanya Brown dingin.
Perasaan Roks mulai terasa tidak enak, dia mulai panik, tapi berusaha menjawab " Be..benar Tuan Dark, me..reka kemarin aku suruh untuk memberikan pelajaran pada seseorang yang telah menghina keluarga Joyce "
Brown Berdiri, dia menghampiri Roks.
" Buggg !
" Buggg !
" Buggg !
Tiga pukulan mendarat di perut dan tulang rusuk Roks, membuatnya langsung ambruk ditanah.
" Hoeekkk !" Makanan dan Minuman yang masuk kedalam perutnya, dikeluarkan oleh pukulan Brown.
Roks tidak tahu apa yang sedang terjadi, dia menatap Brown dengan tidak berdaya.
Sementara anak Buah Brown yang tadi memukuli, tiga anak buah Roks yang lain dia begidik ngeri, pasalnya dia tahu jika Brown bukanlah orang yang senang dengan bernegosiasi.
" Tu..an Da..rk, a..pa Sa...lahku ?" tanya Roks yang masih tersungkur di lantai dengan tidak berdaya.
.
__ADS_1
.
.